Beberapa istilah yang berkaitan dengan Ikonografi (Arca Hindu Budha)
 

Beberapa Istilah yang berkaitan dengan IKONOGRAFI (hiasan dalam Arca Hindu Buddha) <!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Arial Unicode MS"; panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} @font-face {font-family:"@Arial Unicode MS"; panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1 -369098753 63 0 4129279 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:60256941; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1632671820 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:132137507; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:602542576 67698713 -1676779656 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:135.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:135.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-tab-stop:171.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:171.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} -->

 


Aksamala : tasbih, dalam ikonografi, benda ini biasanya dibawa oleh Dewa Brahma, Wisnu, Agastya dan Dewi Saraswati.

Amsa         : penjelmaan dari sebagian kekuatan dewa.

Anguliyaka : cincin       

Anjali-hasta : sikap menyembah, kedua telapak tangan disatukan di depan dada. Sikap ini disebut juga Vanjali-hasta atau Namaskara.

Ankusa  : Alat untuk memimpin gajah. Bagian atas alat ini terbuat dari logam dengan tangkai dari kayu

Ardhacandrakapala : hiasan bulan sabit dan tengkorak (ardhacandra : bulan sabit, kapala : tengkorak). Merupakan lambang kehidupan, dan kapala merupakan lambang kematian. Siwa sebagai dewa tertinggi memakai hiasan Ardhacandrakapala, melambangkan bahwa dewa Siwa menguasai kehidupan (=terbentuk) dan kematian (=kehancuran) dunia.

Ardhaparyankasana  : sikap duduk setengah bersila, satu kaki menjuntai ke bawah,sedangkan kiri berada di atas paha kanan

Asana        : tempat duduk atau singgasana

Avatara   : penjelmaan penuh dari seorang dewa untuk menolong dunia dari kehancuran atau menghancurkan kejahatan, sebagai contoh: Rama, Krsna adalah avatara Visnu. Dikatakan avatara, karena dewa yang bersangkutan menjelma dalam jangka waktu yang lama.

Avesa         : Penjelmaan sementara dari seorang dewa untuk menolong dunia dari kehancuran atau kejahatan. Misal : Parasurama merupakan avesa dari Wisnu, turun ke dunia untuk menindas pemberontakan para ksatria.         

Bana          : Anak panah. Senjata ini terbuat dari kayu dengan ujungnya yang terbuat dari logam, besi, atau baja. (Dhanu : busur panah)

Cakra       : bentuknya seperti roda. Cakra ini ada yang digambarkan sederhana, diberi motif hias teratai mekar.

Camara      : penghalau lalat merupakan salah satu laksana seorang dewa, yaitu dewa Siwa

Caturbhuja: penyebutan bagi semua arca yang bertangan 4

Çila            : moral yang harus dipenuhi oleh pemeluk agama Budha

     Contoh : Sankha, Cakra, yang menjadi laksana Dewa Wisnu, atau Trisula adalah laksana Dewa Siwa, merupakan penjelmaan diantara manusia untuk memenuhi kebutuhan akan perlindungan dari dewayang bersangkutan.

Çrada         : kepercayaan bahwa Budha dapat menunjukkan jalan ke nirwana

Damaru  : gendang kecil, di mana bentuk bagian tengahnya mengecil. Alat musik ini biasanya digunakan oleh dewa Siwa

Danda        : gada kecil

Dhanu        : busur

Dilukiskan dalam sebuah khakkhara yang bercula 3 sampai 5 buah yang sama panjang. Cula-cula tersebut biasanya tidak menjadi satu dengan cula tengah.

Dvibanga : Sikap badan dalam posisi berdiri, bila ditarik garis lurus dari atas ke bawah, pusar tidak tepat berada di bawah garis (garis tubuh membentuk dua patahan).

Dwarapala : penjaga pintu, penolak bahaya yang bersifat magis.

Gada          : alat pemukul, biasanya di bawa oleh Kala. Ada yang digambarkan sederhana dan ada yang diberi hiasan.

Ghanta    : Lonceng. Lonceng merupakan laksana dari Dewa Virabhadra, yaitu salah satu putra atau avatara Siwa. Alat ini dipergunakan juga oleh pendeta-pendeta yang mengadakan upacara di dalam rumah perdewaan.

Hara           : kalung, bentuknya bermacam-macam, yaitu pendek dan panjang. Bentuknya ada yang seperti untaian mutiara dan bagian depan ada yang dihias dengan bunga-bunga.

Hinduisme: menggabungkan semua bentuk kepercayaan dan penghormatan tanpa harus menyeleksi terhadap salah satunya.

Ikat dada : suatu perhiasan yang melingkari dada, khususnya pada pertengahan antara puting susu dengan pinggang/perut.

Ikonografi : berasal dari akar kata ikon (icon) dan graphoo. Istilah ikon berasal dari bahasa Yunani  eikoon yang berarti bayangan, potret, gambar. Sedang kata graphoo berarti menulis, memerinci. Jadi ikonografi yaitu: rincian suatu benda yang menggambarkan tokoh dewa atau tokoh yang dikeramatkan dalam bentuk suatu relief, arca, mosaik, lukisan atau benda lainnya yang khusus dimaksudkan untuk dipuja atau dalam beberapa hal dihubungkan dengan upacara keagamaan yang berkenaan dengan pemujaan dewa-dewa tertentu.

Jamang     : suatu perhiasan yang dikenakan di atas dahi, di bawah mahkota.

Jatamakuta: hiasan kepala berupa rambut yang dipintal meninggi atau membulat menyerupai sorban. Pada arca dewa Siwa, Jatamakutanya dihiasi bulan sabit dan tengkorak atau yang disebut Ardhacandrakapala.

Kala         : makhluk mistis yang selalu terpancang pada ambang atas pintu atau relung

Kamandalu: kendi berisi air kehidupan, khususnya air Amrta. Kamandalu merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran. Kendi juga sebagai symbol lambang ilmu pengetahuan dan keabadian

Kancidama : hiasan pinggang. Berupa ikat pinggang yang diberi hiasan bunga atau kadang-kadang diberi hiasan genta kecil. Hiasan pinggang ini digunakan untuk menghiasi pinggang arca laki-laki maupun wanita.

Kankana    : gelang, perhiasan yang dikenakan pada pergelangan kaki dan tangan.

Kartikeya :Dewa yang selalu digambarkan sebagai kanak-kanak naik merak serta mempunyai kedudukan sebagai dewa perang

Keyura       : kelat bahu. Hiasan pangkal lengan bagian atas, berupa untaian mutiara dan ada yang dihias bagian tengahnya dengan bunga rosets.

Khadga       : pedang yang mempunyai bagian tajam di satu sisi atau keduanya, ada yang berukuran pendek dan panjang.

Khatibanda : ikat pinggul

Khetaka    : perisai    

Kinara-Kinari : setengah manusia, setengah burung  

Kirithamakuta : mahkota bentuk silindris, bagian atasnya mengecil

Krodha      : ekspresi wajah marah

Krura         : bengis. Penggambaran wajah arca dengan mata melotot dan mimic menyeramkan

Lapik         : alas arca

Makara   : hiasan semacam ikan yang mulutnya menganga sedangkan bibir atasnya melingkar ke atas seperti belalai gajah yang diangkat. Makara terlihat menghias bagian bawah kanan dan kiri pintu atau pada relung candi (tempat arca).  

Nupura      : gelang kaki

Padmasana : Tempat duduk dewa yang berbentuk teratai     

Parasu        : kapak, lambang pengusir kebodohan.

Parasurama (awatara Dewa Wisnu) : Wisnu menjelma sebagai Rama bersenjatakan kapak (parasu) dan menggempur para ksatria sebagai balas dendam terhadap penghinaan yang dialami ayahnya, seorang brahmana dari seorang raja kasta ksatria

Paryankasana : sikap duduk Padmasana

Pasa           : Tali, dalam pengarcaan digambarkan sebagai simpul.

Perut  Tundila (gendut/buncit) : dianggap sebagai simbol pengetahuan, yaitu kekayaan  ilmu

Phita          : lapik arca

Prabha         : hiasan berbentuk lingkaran di belakang kepala arca. Sebagai symbol kesucian. Arca yang ada prabha-nya menyiratkan bahwa ia seorang Dewa, bukan orang biasa.

Sakti          : istri atau   lembing.

Samabangga : sikap berdiri tegak, tanpa patahan.

Sarpayajnopavita : Tali kasta berbentuk ular 

             Sikap duduk dengan menyilangkan kedua kaki, di mana telapak kaki kiri dan kanan berada di atas kedua paha

Stela           : sandaran      

Tribangga   : sikap badan, bila ditarik garis lurus dari atas ke bawah, pusar dan kepala tidak tepat berada di bawah garis. (garis tubuh membentuk 3 patahan).

Udarabandha: ikat pinggang. Biasa dikenakan pada arca laki-laki, misalnya: pada arca yaksa yang berperut gendut.

Upanishad : duduk dihadapan seseorang untuk mendengarkan nasehatnya (siswa mendengar wejangan sang guru tentang doktrin agama).

Upawasa   : puasa tidak makan, minum, tidak : hubungan sex, pakai parfum, merokok, main musik, menari, pakai perhiasan, dll. Orang hanya melakukan sembahyang dan mandi, dilakukan pada hari-hari tertentu atau pada Nyepi (tahun baru Saka).

Upaweda    : pengetahuan di luar kitab-kitab Weda yang berkaitan dengan Weda

Uttkutikasana : sikap duduk bersila dengan kedua telapak kaki saling menyatu

Vajra         : petir.

Penggambaran vajra dalam agama Budha :

Berupa sebuah cula di tengah yang dikelilingi 4 buah cula. Keempat buah cula itu melengkung ke dalam dan hampir menyatu dengan cula di tengah. Bentuk ini hampir menyerupai kuncup bunga teratai. Kelima cula tersebut melambangkan kelima Dhyani Budha yaitu : Wairocana, Aksobhya, Amoghasiddhi, Amitabha, dan Ratnasambawa. [1] Selain itu vajra merupakan symbol Sunyata, yaitu kenyataan yang absolute dan dihubungkan dengan sesuatu yang tidak dapat dihancur leburkan, bahkan tergores.[2]

Penggambaran vajra dalam agama Hindu:

Dalam agama Hindu, vajra digambarkan sebagai atribut Dewa Indra dan sering juga dibawa oleh Durga.[3] Sementara itu dalam agama Budha, vajra digunakan sebagai symbol Aksobhya. Biasanya dibawa oleh Vajrapani, Vajradhora, Vajratara

Vajra berasal dari Vaj yang artinya kehidupan yang bersemangat, kekuatan, dan kemudian menjadi kata Vajra. Kadang berarti pula “Yang Paling Keras”, intan, halilintar (senjata Dewa Indra). Vajra juga merupakan symbol keabsolutan. [4]

Mitologi:

Vajra dibuat dari tulang paha  rsi Dodhici yang dikerjakan oleh tukang pandai besi para dewa bernama Tvashtri. Anggapan tersebut dihubungkan dengan cerita Varaparwa yang merupakan bagian dari cerita Mahabharata. Dalam Varaparwa diceritakan bahwa Dewa brahma meminta bantuan kepada Dewa Indra untuk mengalahkan Vrtra. Ia adalah raksasa berwujud naga yang membawa air amrta dengan dililitkan pada perutnya. Akibatnya semua makhluk di bumi mengalami malapetaka, kelaparan, dan kematian. Karena  sungai dan danau menjadi kering. Untuk mengalahkan Vrtra, harus dibuat senjata ampuh. Karena itu, Brahma minta nasehat pertapa bernama Dadhici yang sednag bertapa di tepi sungai Sarasvati. Badan pertapa tersebut bersinar seperti sinar matahari. Para dewa kemudian meminta sebagian dari kekuatannya untuk mengalahkan Vrtra. Dadhici melepaskan sebagian dari kekuatannya berupa tulang paha yang lalu diberikan kepada Tvashtri untuk dijadikan senjata Dewa Indra. Senjata berupa Vajra itu digunakan untuk menghadapi Vrtra. Ketika Indra melihat kilat, vajra dilempar ke tengah-tengah lilitan badan Vrtra yang membawa amrta. Badan naga itu hancur. Secara bersamaan air amrta tumpah dan membasahi bumi menjadi hujan, sehingga dunia selamat. Vrta melambangkan kekeringan, malapetaka, kelaparan, dan kematian.[5]

Vajra juga diartikan sebagai halilintar atau penyinaran. Dewa Indra menggunakannya untuk memutar matahari menjadi hujan. Dengan demikian Indra dianggap sebagai dewa yang dapat mendatangkan hujan, dewa halilintar, serta dewa pengatur cuaca.[6]

Vajra merupakan atribut dan senjata Dewa dalam mengalahkan musuh. Vajra juga digambarkan sebagai hiasan benda-benda upacara atau untuk alat pemujaan yang mempunyai makna simbolis tertentu

Vajra merupakan sejenis senjata yang pada salah satu atau kedua ujungnya terdapat tiga sampai lima buah Çula. Çula tersebut digambarkan seperti kuku seekor burung.[7] Penggambaran vajra pada benda-benda upacara berbentuk seperti kuncup atau bunga teratai yang sudah mekar dengan keempat kelopak bunga.

 

Wamana (Awatara Dewa Wisnu): Wisnu menjelma sebagai seorang kerdil (wamana) dan minta kepada Daitya Bali yang dengan sangat lalim memerintah dunia. Wisnu minta agar diberikan tanah seluas 3 langkah. Setelah diijinkan, maka dengan 3 langkah (triwikrama) tersebut ia menguasai dunia, angkasa, sorga. Dari sinilah, Wisnu nampak sebagai dewa Matahari yang menguasai dunia dengan 3 langkahnya : waktu terbit, tengah hari, dan terbenam.

 

Variasi pakaian dan perhiasan pada arca batu yang  berbeda-beda, disebabkan :

Faktor Seniman

Seniman akan mengembangkan kreasinya dalam berkarya didukung oleh beberapa komponen :

a.        raja yang berkuasa

b. imajinasi seniman

c.        dll

 

Faktor Agama

Arca sangat erat dengan agama karena merupakan perwujudan nyata dari dewa yang disembah masyarakat. Ulama sebagai penyebar agama turut mengembangkan seni peran arca karena ulama lebih mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan upacara agama

 

Faktor Penguasa/Raja

Saat berkuasa, raja biasanya sering memerintahkan pembuatan arca yang kadang disertai permintaan tertentu. Sesuai dengan keinginan dan kebutuhan sang raja. Dan saat itu, raja diibaratkan sebagai dewa, maka segala keinginannya pasti terkabul.

 


[1] R.S. Gupte, Iconography of The Hindus, Buddhists, and Jains, ( India: DB. Taraporevala Sons & Co. Private, 1972), hal. 10

[2] Theodora Saiti Utami, Variasi Bentuk dan Arti Simbolis Vajra Koleksi Museum Nasional, Sonobudaya, dan Trowulan. Yogyakarta : Skripsi S1 Arkeologi, F. Sastra, UGM, 1991

 

[3] Charles Rockwell Lanman, A Sanskrit reader,Text and Vocabulary and Notes, (Cambridge, Massachusetts: Harvard university Press, 1952), hal 236

[4] Zoetmulder, Old Javanese-English Dictionary, (‘s gravenhage: Martinus Nijhoff, 1982), hal.190.

[5] Heinrich Zimmer, Myths and Symbols in Indian Art and Civilization, (New York: Prineton University Press, 1946), hal.3

[6] Margaret and James Stutley, A Dictionary of Hinduism, Its Mytology, Folklore and Development 1500 BC-1500AD, (London and Henley: routledge & kegan Paul, Ltd, 1977), hal.320

[7] T.A.G. Rao, elements of Hindu Iconography, Vol I, Part I, (Madras: The Law Printing house, 1914), hal.8