Paes Ageng (Rias Pengantin Jogjakarta)
 

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:72.0pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:72.0pt; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3 {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:63.0pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:81.0pt; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 43.2pt 21.6pt 50.4pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:260795207; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-111512180 -142038984 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:45.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:45.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l1 {mso-list-id:1647466559; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1412516964 -1128767298 607558154 -676553850 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:roman-upper; mso-level-tab-stop:45.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:45.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-tab-stop:63.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:63.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} -->

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:72.0pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:72.0pt; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3 {margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:63.0pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:81.0pt; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:72.0pt 43.2pt 21.6pt 50.4pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:260795207; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-111512180 -142038984 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:45.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:45.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l1 {mso-list-id:1647466559; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1412516964 -1128767298 607558154 -676553850 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:roman-upper; mso-level-tab-stop:45.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:45.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-tab-stop:63.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:63.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} --> Pendahuluan


 Dalam masyarakat Jawa, perkawinan merupakan salah satu siklus penting dalam kehidupan manusia. Manusia dianggap telah sempurna hidupnya jika telah menikah. Diharapkan dengan menikah, maka akan terbentuk sebuah keluarga baru yang nantinya akan mempunyai keturunan sebagai generasi penerus keluarga tersebut. Begitu pentingnya perkawinan sehingga perlu diadakan upacara/slametan untuk menyambutnya. Seperti dikemukakan Prof. Koentjaraningrat, bahwa upacara perkawinan pada dasarnya merupakan suatu peralihan  terpenting dalam daur hidup seseorang, yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga.

Inti dari upacara pernikahan adalah akad nikah, yang disusul dengan panggih, sungkeman, dan walimahan. Dalam upacara panggih, pengantin menjadi pusat perhatian karena merupakan inti acara dan dapat diibaratkan sebagai raja sehari. Untuk itu pengantin dirias sedemikian rupa supaya berbeda dengan kesehariannya dan disesuaikan dengan kedudukannya sebagai raja sehari.

Salah satu tata rias dan busana pengantin adalah Paes Ageng Gaya Yogyakarta. Sampai  masa pemerintahan Sultan Sultan HB VIII, paes ageng ini hanya boleh dikenakan oleh kerabat raja. Baru pada masa pemerintahan raja berikutnya, Sultan HB IX (1940), mengijinkan masyarakat umum memakai busana ini dalam upacara pernikahan.

Sampai saat ini, Busana Paes Ageng masih terus digunakan dalam upacara pernikahan di kalangan masyarakat Jawa, terutama pada kalangan masyarakat menengah ke atas. Hal ini dikarenakan biaya yang diperlukan cukup besar, baik dalam urusan busana maupun perlengkapannya.

Pemakaian busana paes ageng sangat rumit, memerlukan ketekunan dan ketelitian yang didalamnya terkandung kesakralan  maupun makna filosofi dalam setiap detail rias wajah, busana, dan asesorinya. Untuk itu segala sesuatu yang berhubungan dengan paes dipercayakan pada seorang juru rias paes pengantin. Baik perias maupun pengantin putri yang dirias wajib berpuasa sebelum menjalankan acara. Tujuan utamanya adalah mengendapkan perasaan untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari malapetaka. Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik molek dan bersinar.

Sejak zaman raja-raja Mataram, pengantin putri selalu menjadi pusat pandang karena setiap detail yang dipakainya mengandung makna filosofi yang sangat agung dan tidak semua orang mengetahuinya.

 

 

Tahap-Tahap Merias Wajah

 

Berikut ini uraian tahap-tahap merias gaya paes ageng beserta sajen sekaligus makna filosofinya

 

1.           Ratusan

Proses pengasapan bahan ratus yaitu wewangian tradisional pada rambut agar harum

 

2.           Halup-Halupan (cukur rambut)

Pembersihan wajah pengantin dengan cara mencukur rambut halus yang tumbuh di dahi atau memotong rambut menjuntai ke dahi sehingga wajah tampak bersih dan siap untuk dibuat pola wajah

 

3.           Cengkorongan

Merupakan pembuatan pola wajah paes ageng gaya Yogyakarta. Penentuan bentuk dan pembuatan cengkorong ini dikerjakan dengan pensil dan hasil akhirnya berupa gambar samar-samar / tipis

Cengkorong meliputi :

-         citak pada dahi, yaitu bentuk belah ketupat kecil dari daun sirih pada pangkal hidung di antara dua alis. Ada beberapa versi mengenai makna filosofinya, antara lain bahwa citak sebagai reflesi mata Dewa Syiwa yang merupakan pusat panca indra sehingga menjadi pusat keseluruhan ide. Pendapat lain mengatakan bahwa citak sebagai pemberi watak pada keseluruhan ide paes

-         panunggul, pangapit, panitis, godeg

panunggul dibuat di atas citak, ditengah-tengah dahi, berbentuk meru melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa yang manunggal). Ditengah-tengah  panunggul diisi hiasan berbentuk capung atau kinjengan, yaitu seekor binatang yang selalu bergerak tanpa lelah dengan harapan agar pengantin selalu ulet dalam menjalani hidup.

Panunggul berasal dari kata tunggal, yaitu terkemuka atau tertinggi, mengandung makna dan harapan agar seorang wanita ditinggikan atau dihormati

Pengapit terletak di kiri kanan panunggul berbentuk seperti meru (gunung) namun langsing

Penitis terletak di antara pengapit dan godheg

Pengapit, panitis, godheg dibuat sebagai keseimbangan wajah, maka  diletakkan simetris dengan panunggul

 

Alis dibuat berbentuk menjangan ranggah (tanduk rusa). Rusa merupakan symbol kegesitan, dengan demikian kedua pengantin diharapkan dapat bertindak cekatan, trampil, dan ulet dalam menghadapi persoalan rumah tangga

Daerah sekeliling mata dibiarkan tidak terjamah oleh boreh, diberi gambaran yang disebut jahitan. Untuk membentuk mata lebih tajam dan anggun sehingga orang-orang akan mengaguminya.

 

4.           Kandelan

Setelah cengkorongan selesai dibuat sesuai pola dasar dan tampak pantas (layak), baru kemudian paes wajah diselesaikan dengan menebalkan garis-garis yang samar menjadi paesan dadi (paes jadi)

 

5.           Dados

Selesai kandelan, dilanjutkan dengan dandos jangkep pengantin (pengantin berdandan lengkap) yang meliputi sanggul pengantin, perhiasan pengantin, kain pengantin, baju pengantin, dan dandosan (berbusana) lain selengkapnya

 

a.                 Hiasan Sanggul.

Tata rambut pengantin dibuat seperti bokor tengkurap sehingga dinamakan  bokor mengkurep. Sanggul rambut diisi dengan irisan daun pandan dan ditutup rajut bunga melati. Perpaduan  daun pandan dan bunga melati memancarkan keharuman yang berkesan religius, sehingga pengantin diharapkan dapat membawa nama harum yang berguna bagi masyarakat.

Gelung bokor mengkurep disempurnakan lagi dengan jebehan, yaitu 3 bunga korsase warna merah-kuning-biru (hijau) yang dirangkai menjadi satu dan dipasang di sisi kiri - kanan gelung. Tiga warna bunga itu melambangkan Trimurti (dewa Syiwa-Brahma-Wisnu).

Ditengah sanggul dihias dengan bunga merah disebut ceplok, dan di kiri kanan ceplok itu disematkan masing-masing satu bros emas permata

Pada bagian bawah agak ke arah kanan sanggul dipasang untaian melati berbentuk belalai gajah sepanjang 40 cm, diberi nama gajah ngoling. Hiasan ini bermakna bahwa pemakainya menunjukkan kesucian/kesakralan baik sebagai putri maupun kesucian niat dalam menjalani hidup yang sakral pula.

 

b.      Asesori Paes Ageng

            Perhiasan yang dipergunakan pengantin putri disebut pula dengan nama raja keputren. Semua terbuat dari emas bertahtakan berlian yang dirancang dengan seni tinggi dan sangat halus. Set  perhiasan  ini berupa :

 

-   Cunduk Menthul

5 tangkai bunga dipasang di atas  sanggul menghadap belakang, menggambarkan sinar matahari yang berpijar memberi kehidupan, sering juga dikaitkan dengan lima hal yang menjadi dasar kerajaan Mataram Islam ini, seperti yang tercantum dalam Kitab Suci.

 

-   Pethat/sisir berbentuk gunung

Hiasan berupa sisir terbuat dari emas diletakkan di atas sanggul berbentuk seperti gunun, sebagai simbol kesakralan. Dalam mitologi Hindu, gunung adalah tempat bersemayam nenek moyang dan tempat tinggal para dewa serta pertapa.

 

-   Kalung Sungsun (kalung terdiri 3 susun)

Melambangkan 3 tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, meninggal. Hal ini dihubungkan dengan konsepsi Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana

 

-   Gelang Binggel Kana

Berbentuk melingkar tanpa ujung pangkal yang melambangkan kesetiaan tanpa batas

 

-   Kelat Bahu (perhiasan pada pangkal lengan)

Berbentuk seekor naga, kepala dan ekornya membelit. Melambangkan bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkan kekuatan dalam hidup. Dalam mitologi Jawa, Naga merupakan hewan suci yang dipercaya menyangga dunia

 

-   Centhung

Perhiasan berupa sisir kecil bertahtakan berlian di letakkan diatas dahi pada sisi kiri dan kanan. Melambangkan bahwa pengantin putri telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga

 

-   Cincin

Menurut beberapa serat yang ditulis sejak jaman Sultan Agung seperti serat Centhini, serat Wara Iswara (Sunan PB IX) ditulis bahwa para putrid tidak diperkenankan memakai cincin di jari tengah. Karena sebagai symbol satu perintah untuk diunggulkan, yaitu milik Tuhan. Cincin di jari manis sebagai symbol untuk senantiasa bertutur kata manis. Cincin di jari kelingking symbol untuk selalu trampil dan giat dalam mengerjakan pekerajaan rumah tangga. Cincin di ibu jari sebagai symbol untuk senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik

 

c.                       Busana

            Busana dalam Paes Ageng terdiri dari

            Kain Dodot/Kampuh berukuran 4 5 meter dengan lebar 2-3 meter. Motif batik yang sering digunakan adalah Sido Mukti, Sido Asih, Semen Rama, Truntum. Motif -motif tersebut mempunyai makna filosofi yang sangat bagus berupa harapan akan berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang kekal, saling berbagi dan mengisi dengan cinta kasih dan harapan akan dikaruniai hidup sejahtera

            Selain kain panjang, pengantin putri memakai pakaian dalam dan selendang kecil (udet) berupa kain sutra motif cinde. Konon motif ini merupakan lambang sisik naga, yaitu symbol kekuatan. Sumber  lain mengatakan bahwa motif cinde sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran (dewi padi).

 


Sumber :

Perpustakaan Museum Ullen Sentalu