ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

4 Upacara Adat di Sekitar Gunung Merapi

31/10/2025

0 Comments

 
Wilayah sekitar Gunung Merapi menjadi salah satu wilayah yang memiliki berbagai macam upacara. Beberapa upacara adat diselenggarakan secara rutin setiap tahunnya menurut penanggalan Jawa. Ada empat contoh upacara adat yang diselenggarakan di sekitar Gunung Merapi, yakni Labuhan Merapi, Merti Umbul Bebeng, Dandan Kali atau Becekan, dan Giri Kerti. Upacara-upacara tersebut memiliki berbagai macam tujuan positif sebagai bentuk penghormatan, rasa syukur, harapan keselamatan, dan lain sebagainya. Tujuan-tujuan tersebut sebagai bentuk harmonis antara manusia dan alam sekitarnya. Berikut detail ke-4 upacara adat di sekitar Gunung Merapi.
Picture
​1. Labuhan Merapi di Kinahrejo
Picture
sumber foto: jogjaprov.go.id

Labuhan Merapi merupakan salah satu upacara adat Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan secara rutin tahunan setiap hari kelahiran Raja (Wiyosan Dalem), atau hari Penobatan Raja. Hari pelaksanaan upacara ini akan berganti tanggalnya apabila terjadi pergantian raja karena masing-masing raja memiliki waktu penobatan yang berbeda (Ensiklopedia Keraton Yogyakarta, 2009). Upacara ini dilaksanakan di dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Maksud dari Labuhan Merapi adalah agar negara dan rakyat Yogyakarta senantiasa dalam keadaan selamat, tentram, dan sejahtera. Oleh karena itu, bukan hanya pihak keraton saja yang terlibat dalam pelaksanaan upacara, masyarakat umum juga terlibat di dalam rangkaian upacara Labuhan Merapi. 
Menurut Soelarto dalam Upacara Labuhan Kesultanan Yogyakarta (1980), Labuhan berasal dari kata labuh yang berarti cebur, letak/taruh, dan benam. Labuhan berarti menceburkan atau meletakkan sesaji di kawah gunung api, laut, atau sungai. Upacara ini sudah ada sejak masa pemerintahan HB I (1755-1792). Pada masa HB I, upacara labuhan dilaksanakan dalam peristiwa-peristiwa seperti penobatan sultan dan peringatan ulang tahun penobatan sultan. Kemudian mengalami perubahan pada masa HB IX (1940-1988) yaitu peringatan dilaksanakan dalam rangka ulang tahun kelahiran Sri Sultan.

Kawasan Gunung Merapi menjadi satu dari empat tempat pelaksanaan Labuhan oleh keraton Yogyakarta.  Kepercayaan  gunung Merapi  sebagai “pusat bumi tanah Jawa” dihormati oleh raja-raja Mataram dan hal tersebut terjadi hingga sekarang. Persiapan upacara labuhan dilakukan sepekan sebelumnya di dalam keraton dengan beberapa macam dan jenis benda dikumpulkan secara wajib atau disebut sebagai Uborampe. Uborampe melalui prosesi pemindahan dari Kapanewon Depok ke Kapanewon Cangkringan untuk diinapkan semalam. 
​
Rangkaian acara Upacara Labuhan Merapi dilakukan besoknya setelah uborampe datang. Dimulai dengan mengarak gunungan dan uborampe dari Kantor Kecamatan Cangkringan ke Petilasan Rumah Mbah Maridjan. Setelah sampai, dua hal tersebut diserahkan secara seremonial kepada Juru Kunci Merapi. Setelah prosesi penyerahan, acara dilanjutkan menuju ke atas Gunung Merapi dengan membawa uborampe. Dilanjutkan prosesi ritual dan doa bersama memohon keselamatan kepada Tuhan. Diakhiri penutup berupa pembagian nasi dan lauk sebagai rasa syukur kepada masyarakat (Nadia Farah, 2022). Upacara Labuhan Merapi digelar secara terbuka dengan menampilkan pertunjukan seni dan budaya seperti tari klasik, wayang, dan lain sebagainya. (Humas Pemda DIY, 2025)


​
2. Merti Umbul Bebeng di Glagaharjo
Picture
sumber foto: tngmerapi.id
Merti Umbul Bebeng di Glagaharjo merupakan upacara tahunan untuk menghormati dan merawat sumber mata air bernama Umbul Bebeng. Selain itu, upacara ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan karena telah diberikan karunia berupa air dari mata air tersebut. Upacara adat ini digelar oleh Paguyuban Guyub Bebeng atau perwakilan empat kelurahan yang menerima manfaat mata air Umbul Bebeng. 



Umbul Bebeng merupakan mata air yang berada di Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Sejak 1960-an, mata air Umbul Bebeng mulai dimanfaatkan karena memiliki debit air yang cukup besar dan dimanfaatkan oleh empat kelurahan dari dua kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Glagaharjo di Cangkringan, Sleman, dan tiga kelurahan di Kemalang, Klaten, yaitu: Balerante, Panggang, Sidorejo. Keempat desa tersebut juga menjadi pendukung terselenggaranya Merti Umbul Bebeng.
​
Rasa syukur masyarakat karena adanya mata air dirayakan dengan adanya Merti Umbul Bebeng. Rangkaian acara upacara ini diawali dengan pengambilan air di Umbul Bebeng oleh juru kunci Umbul Bebeng dan ditempatkan di kendi tanah liat. Bukan hanya dilaksanakan dengan upacara adat saja, tetapi juga dilaksanakan pertunjukan seni seperti pagelaran wayang dan kirab budaya berupa gunungan, tarian tradisional, penampilan Bregodo, dan lain sebagainya. (Glagaharjo, 2023)

​
3.  Dandan Kali atau Becekan di Kepuharjo
Picture
Sumber foto: nasionalterkini.com
Dandan Kali atau Becekan di Kepuharjo merupakan upacara adat untuk meminta hujan oleh beberapa dusun. Dusun-dusun tersebut meliputi: Kepuh, Manggong, dan Pagerjuang yang berada di Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Upacara ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada hari Jumat Kliwon di musim keempat sesuai penanggalan Jawa. Tujuan dari upacara ini adalah untuk meminta hujan karena dahulu Desa Kepuharjo pernah mengalami kemarau panjang hingga 8 bulan. Masyarakat kemudian meminta hujan dengan membawa sesaji dan penyembelihan kambing di Sungai Gendol. Tak lama setelah upacara dilaksanakan, hujan lebat turun dan memberikan kesuburan di desa tersebut.


Penyebutan “Dandan Kali” bukan hanya diartikan sebagai perbaikan sungai. Dalam pelaksanaan upacara, para warga juga berdoa agar sungai tetap dialiri air dan tidak mengalami kekeringan. Dandan Kali bahkan bukan hanya dilaksanakan di Sungai Gendol, tetapi juga dilaksanakan di sekitar sungai Kretek dan Sungai Kebeng. Upacara ini menjadi salah satu warisan budaya Takbenda Indonesia yang sudah ditetapkan sejak 2018. 

Prosesi upacara Dandan Kali hanya boleh dihadiri kaum laki-laki. Perempuan dilarang mengikuti prosesi upacara ini. Alasan larangan tersebut belum diketahui, namun masyarakat tetap meyakini dan melaksanakan upacara Dandan Kali secara turun temurun. Itulah alasannya dalam upacara ini tidak ada ketentuan khusus dalam berpakaian. (Dinas Kebudayaan Sleman, 2018).
​
Rangkaian upacara Dandan Kali dimulai dari pagi sekitar pukul 07.00 WIB, masyarakat berkumpul. Masyarakat menyiapkan kambing jawa jantan sebagai sesaji dan disembelih ketika upacara dilaksanakan. Kambing yang telah disembelih kemudian dimasak menjadi gulai dan dibagikan kepada peserta upacara dan warga yang menginginkannya. Setelah salat Jumat, masyarakat setempat melaksanakan kenduri sebagai penutup upacara Dandan Kali. ​
4.  Giri Kerti di Taman Kaliurang
Picture
Sumber foto: hindujogja.com
Giri Kerti merupakan upacara sakral yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi oleh umat Hindu se-Kabupaten Sleman. Upacara ini diselenggarakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) cabang Kabupaten Sleman. Setiap tahunnya, Giri Kerti diselenggarakan di Taman Kaliurang yang berlokasi di Hargobinangun, Pakem, Sleman. Menurut ketua panitia Giri Kerti tahun 2024, I Wayan Putu Sari, tujuan utama acara Giri Kerti mensucikan gunung untuk persiapan menyambut Hari Suci Nyepi dan ungkapan rasa syukur kepada Hyang Girisa karena telah diberikan sumber kehidupan yang melimpah. (Hindu Jogja, 2024).
Berdasarkan Putu Sari dalam Upacara Giri Kerti Serangakain Nyepi di Sleman (Majalah Hindu Raditya, 15 Maret 2019), upacara Giri Kerti sudah ada sejak tahun 2017. Giri berarti gunung dan kerti berarti bakti atau memelihara, sehingga Giri Kerti diartikan sebagai mewujudkan rasa bakti melalui pelayanan yang ikhlas kepada gunung dengan melestarikan dan memelihara sumber daya alam di dalamnya. 

Upacara ini dilaksanakan atas dasar kitab suci Purana, khususnya bagian kisah Shri Krishna dan Bukit Govardhan sebagai pelindung dari kemarahan Dewa Indra. Dari kisah tersebut,  pelaksanaan Giri Kerti menjadi bukti bakti kepada Tuhan dalam wujud gunung, hutan, atau bukit yang telah memberikan berbagai manfaat untuk kehidupan masyarakat. Putu Sari menjelaskan alasan mengapa upacara ini dilaksanakan di Taman Kaliurang karena wilayahnya yang berada di sekitar Gunung Merapi yang terdapat Batu Tumpang yang menjadi tempat ritual para leluhur. 

Secara umum, rangkaian upacara Giri Kerti setiap tahunnya dibuka dengan kirab atau pawai menuju ke Kaliurang Park, dilanjutkan acara seremonial berupa Dharma Wacana. Upacara dilanjutkan dengan ritual utama yaitu menghaturkan puja dan mempersembahkan banten/sesaji Giri Kerti oleh Pinandita. Puncak acara ditandai dengan ​
DEFI RAHMADANI (Mahasiswa Program Studi Sejarah UGM, Magang Museum Ullen Sentalu 2025)
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta

MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak