1. Labuhan Merapi di Kinahrejo
Menurut Soelarto dalam Upacara Labuhan Kesultanan Yogyakarta (1980), Labuhan berasal dari kata labuh yang berarti cebur, letak/taruh, dan benam. Labuhan berarti menceburkan atau meletakkan sesaji di kawah gunung api, laut, atau sungai. Upacara ini sudah ada sejak masa pemerintahan HB I (1755-1792). Pada masa HB I, upacara labuhan dilaksanakan dalam peristiwa-peristiwa seperti penobatan sultan dan peringatan ulang tahun penobatan sultan. Kemudian mengalami perubahan pada masa HB IX (1940-1988) yaitu peringatan dilaksanakan dalam rangka ulang tahun kelahiran Sri Sultan. Kawasan Gunung Merapi menjadi satu dari empat tempat pelaksanaan Labuhan oleh keraton Yogyakarta. Kepercayaan gunung Merapi sebagai “pusat bumi tanah Jawa” dihormati oleh raja-raja Mataram dan hal tersebut terjadi hingga sekarang. Persiapan upacara labuhan dilakukan sepekan sebelumnya di dalam keraton dengan beberapa macam dan jenis benda dikumpulkan secara wajib atau disebut sebagai Uborampe. Uborampe melalui prosesi pemindahan dari Kapanewon Depok ke Kapanewon Cangkringan untuk diinapkan semalam. Rangkaian acara Upacara Labuhan Merapi dilakukan besoknya setelah uborampe datang. Dimulai dengan mengarak gunungan dan uborampe dari Kantor Kecamatan Cangkringan ke Petilasan Rumah Mbah Maridjan. Setelah sampai, dua hal tersebut diserahkan secara seremonial kepada Juru Kunci Merapi. Setelah prosesi penyerahan, acara dilanjutkan menuju ke atas Gunung Merapi dengan membawa uborampe. Dilanjutkan prosesi ritual dan doa bersama memohon keselamatan kepada Tuhan. Diakhiri penutup berupa pembagian nasi dan lauk sebagai rasa syukur kepada masyarakat (Nadia Farah, 2022). Upacara Labuhan Merapi digelar secara terbuka dengan menampilkan pertunjukan seni dan budaya seperti tari klasik, wayang, dan lain sebagainya. (Humas Pemda DIY, 2025) 2. Merti Umbul Bebeng di Glagaharjo
Umbul Bebeng merupakan mata air yang berada di Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Sejak 1960-an, mata air Umbul Bebeng mulai dimanfaatkan karena memiliki debit air yang cukup besar dan dimanfaatkan oleh empat kelurahan dari dua kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Glagaharjo di Cangkringan, Sleman, dan tiga kelurahan di Kemalang, Klaten, yaitu: Balerante, Panggang, Sidorejo. Keempat desa tersebut juga menjadi pendukung terselenggaranya Merti Umbul Bebeng. Rasa syukur masyarakat karena adanya mata air dirayakan dengan adanya Merti Umbul Bebeng. Rangkaian acara upacara ini diawali dengan pengambilan air di Umbul Bebeng oleh juru kunci Umbul Bebeng dan ditempatkan di kendi tanah liat. Bukan hanya dilaksanakan dengan upacara adat saja, tetapi juga dilaksanakan pertunjukan seni seperti pagelaran wayang dan kirab budaya berupa gunungan, tarian tradisional, penampilan Bregodo, dan lain sebagainya. (Glagaharjo, 2023) 3. Dandan Kali atau Becekan di Kepuharjo
Penyebutan “Dandan Kali” bukan hanya diartikan sebagai perbaikan sungai. Dalam pelaksanaan upacara, para warga juga berdoa agar sungai tetap dialiri air dan tidak mengalami kekeringan. Dandan Kali bahkan bukan hanya dilaksanakan di Sungai Gendol, tetapi juga dilaksanakan di sekitar sungai Kretek dan Sungai Kebeng. Upacara ini menjadi salah satu warisan budaya Takbenda Indonesia yang sudah ditetapkan sejak 2018. Prosesi upacara Dandan Kali hanya boleh dihadiri kaum laki-laki. Perempuan dilarang mengikuti prosesi upacara ini. Alasan larangan tersebut belum diketahui, namun masyarakat tetap meyakini dan melaksanakan upacara Dandan Kali secara turun temurun. Itulah alasannya dalam upacara ini tidak ada ketentuan khusus dalam berpakaian. (Dinas Kebudayaan Sleman, 2018). Rangkaian upacara Dandan Kali dimulai dari pagi sekitar pukul 07.00 WIB, masyarakat berkumpul. Masyarakat menyiapkan kambing jawa jantan sebagai sesaji dan disembelih ketika upacara dilaksanakan. Kambing yang telah disembelih kemudian dimasak menjadi gulai dan dibagikan kepada peserta upacara dan warga yang menginginkannya. Setelah salat Jumat, masyarakat setempat melaksanakan kenduri sebagai penutup upacara Dandan Kali. 4. Giri Kerti di Taman Kaliurang
Berdasarkan Putu Sari dalam Upacara Giri Kerti Serangakain Nyepi di Sleman (Majalah Hindu Raditya, 15 Maret 2019), upacara Giri Kerti sudah ada sejak tahun 2017. Giri berarti gunung dan kerti berarti bakti atau memelihara, sehingga Giri Kerti diartikan sebagai mewujudkan rasa bakti melalui pelayanan yang ikhlas kepada gunung dengan melestarikan dan memelihara sumber daya alam di dalamnya. Upacara ini dilaksanakan atas dasar kitab suci Purana, khususnya bagian kisah Shri Krishna dan Bukit Govardhan sebagai pelindung dari kemarahan Dewa Indra. Dari kisah tersebut, pelaksanaan Giri Kerti menjadi bukti bakti kepada Tuhan dalam wujud gunung, hutan, atau bukit yang telah memberikan berbagai manfaat untuk kehidupan masyarakat. Putu Sari menjelaskan alasan mengapa upacara ini dilaksanakan di Taman Kaliurang karena wilayahnya yang berada di sekitar Gunung Merapi yang terdapat Batu Tumpang yang menjadi tempat ritual para leluhur. Secara umum, rangkaian upacara Giri Kerti setiap tahunnya dibuka dengan kirab atau pawai menuju ke Kaliurang Park, dilanjutkan acara seremonial berupa Dharma Wacana. Upacara dilanjutkan dengan ritual utama yaitu menghaturkan puja dan mempersembahkan banten/sesaji Giri Kerti oleh Pinandita. Puncak acara ditandai dengan DEFI RAHMADANI (Mahasiswa Program Studi Sejarah UGM, Magang Museum Ullen Sentalu 2025)
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
January 2026
Categories |