Namun, Susuhunan Pakubuwana III masih menghadapi ujian lagi yakni ahli waris takhta. Ia hanya beroleh anak perempuan dari para istrinya hingga 20 tahun bertakhta, separo dari masa pemerintahannya yang berlangsung 39 tahun.
Mimpi Penyatuan Kembali Mataram Tak kunjung Pakubuwana III mendapat anak laki-laki, ditafsir banyak pihak berpotensi ribut dalam suksesi kepemimpinan di Kasunanan Surakarta. Hal ini tak cuma merisaukan internal Kasunanan Surakarta, berkembang menjadi isu serius yang dicermati pihak Kadipaten Mangkunegaran dan Kasultanan Yogyakarta. Keduanya merupakan cabang pecahan Mataram Islam. Masa itu, tiga cabang pecahan Mataram Islam (Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran) masih menyimpan cita-cita untuk bisa menyatukan kembali Mataram Islam. Masing-masing terus menghimpun kekuatan untuk mengantisipasi bila tiba-tiba terlibat perang penyatuan kembali Mataram Islam dengan menelan cabang pecahan lain. Namun perang yang dibayangkan tersebut tak pernah terjadi karena hadirnya VOC sebagai kekuatan hegemonik. Hingga akhirnya para cabang pecahan Mataram Islam mencoba cara lain untuk reunifikasi. Salah satunya dengan melakukan politik perkawinan dengan pihak cabang pecahan kerajaan. Mangkunegara I berhasil mengatur terjadinya pernikahan antara putranya dengan anak perempuan tertua Pakubuwana III pada 1762. Keturunan dari pernikahan tersebut diharapkan akan beroleh warisan takhta Kasunanan bila Susuhunan Pakubuwana III tiada diberi putra. Sultan Hamengkubuwana I pun pernah menjajaki kemungkinan adanya pernikahan Putra Mahkotanya dengan salah satu anak perempuan Pakubuwana III. Sang Putra Mahkota melakukan kunjungan ke Kraton Kasunanan pada 1765 dalam rangka maksud tersebut. Lahirnya Putra yang Dinanti Namun, manuver para tetangga mengincar takhta Kasunanan berakhir. Pada 1768, Pakubuwanan III berbahagia karena permaisurinya melahirkan anak laki-laki. Sang Putra yang sangat dinantikan, bertumbuh sehat melewati masa kanak-kanak maupun remajanya hingga bertakhta menjadi Susuhunan Pakubuwana IV pada 1788. Karena rupawan wajahnya, ia disebut dengan Sunan Bagus, yang diterjemahkan dari bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia berarti Raja Tampan. Ia akan memerintah hingga 1820. [Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
January 2026
Categories |