Demikian selayang pandang isi pagelaran singkat wayang beber Pacitan berlakon Jaka Kembang Kuning di Museum Ullen Sentalu, Sabtu pagi, 26 Juli 2025. Pagelaran berdurasi 20 menit tersebut menjadi bagian penyelenggaran edisi ke-14 program publik rutin Museum Ullen Sentalu, yakni Ullen Sinau.
Ki Tri Hartanto adalah sang dalang yang juga pegiat pelestari seni wayang beber dari Yayasan Rumah Wayang Beber, Karangtalun, Gedompol, Pacitan. Yayasan tersebut telah berhasil memperoleh dukungan bantuan dari Dana Indonesiana, LPDP, serta Kementerian Kebudayaan. Ki Tri Hartanto merupakan generasi ke-12 trah para dalang Wayang Beber di Karangtalun. Garis keturunannya menunjukkan bahwa seni wayang beber tetap eksis di Karangtalun hampir tiga abad. Masyarakat setempat meyakini keberadaan wayang beber di kampung mereka bahkan lebih tua lagi. Pagelaran wayang beber dipentaskan di Pelataran Tawang Turgo disaksikan 90 orang berbagai usia. Sebagian besar duduk di gelaran karpet merah. Beberapa duduk di bangku batu memanjang sisi timur pelataran, sebagian duduk di kursi berada di lobi. Turut menyaksikan pagelaran wayang beber antara lain: KRHT Daniel Haryodiningrat (Direktur Museum Ullen Sentalu), DS Nugrahani (Museum UGM), Sri Margana (Dosen Ilmu Sejarah FIB UGM), Ki Hajar Pamadhi (Ketua Barahmus), Asroni (Museum Benteng Vredeburg), dan Yudi Pranawa(Museum Monumen Yogya Kembali), Budi Winarno (Museum Affandi). Selesai fragmen Jaka Kembang Kuning, bentangan wayang beber tergulung sempurna dan dimasukkan ke kotak penyimpanannya yang bernama ampok, acara dilanjut dengan bincang bernarawicara Faris Wibisono. Pemuda lulusan ISI Surakarta pada 2016 tersebut merupakan penyungging wayang beber asal Pracimantoro, Wonogiri. Dalam 15 tahun terakhir, Faris menjadi salah satu pegiat reaktualisasi seni wayang beber. Ia menyungging (melukis) wayang beber, ikut mendorong budidaya tanaman daluwang sebagai bahan gulungan wayang beber, bereksperimen memanfaatkan berbagai bahan non daluwang untuk wayang beber, juga berkreasi memunculkan aneka cerita wayang beber kontemporer di luar lakon Panji. berdurasi hampir sejam, Faris membagikan cerita serta menjawab berbagai pertanyaan tentang aktivisme dalam menjaga wayang beber agar tetap ada dan mampu bertahan melintasi gempuran zaman digital berinternet saat ini. (Yosef Kelik, Periset di Museum Ullen Sentalu)
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
January 2026
Categories |