Berikut masing-masing ulasannya, dengan isi daftar tempat terutama diurutkan mundur dari toponim yang paling dekat ke zaman sekarang hingga yang paling kuno:
1. Rumah Sakit Bethesda Salah satu jaringan rumah sakit lokal di Yogyakarta yang telah beroperasi sejak 1897. Pendirinya adalah Gereformeede Zending. Semula bernama Petronella Ziekenhuis. Pada 1925, kapasitas rumah sakit meliputi 380 bed dengan 45 di antaranya adalah untuk pasien anak. Nama ini sekaligus identik dengan kompleks rumah sakit utama, pertama, juga terbesar di ruas Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta. Pada masa sebelum Perang Dunia II, masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya mengenal rumah sakit misi Kristen Protestan ini dengan penyebutan lokal Jawa, yakni “Dokter Pitulungan” atau “Dokter Tulung”. Pernah memakai nama Jogjakarta Tjuo Bjoin pada era Jepang, lalu Roemah Hospital Poesat pada masa Revolusi Kemerdekaan, kemudian berjenama Bethesda sejak 28 Juni 1950 hingga kini. Nama Bethesda dipinjam dari nama pemandian kuno di Yerusalem. Keberadaan Bethesda ada dalam Injil dan menjadi latar bagi beberapa peristiwa ketika Yesus hidup pada awal Masehi, menyebarkan ajarannya, serta membuat mujizat. Diceritakan dalam Injil Yohanes 5: 1-9, Bethesda menjadi tempat Yesus menyembuhkan seorang yang telah lumpuh selama 38 tahun untuk dapat bangkit berdiri, melipat alas duduknya, bahkan hingga berjalan. Kini, Situs Bethesda di Yerusalem berada dalam Sektor Permukiman Muslim dekat Pintu Gerbang Singa.
2. Kudus Kudus di Provinsi Jawa Tengah kondang diijuluki sebagai Kota Jenang sekaligus Kota Kretek. Penamaan kota be-landmark Masjid Menara Kudus ini sejatinya hasil serapan bahasa Jawa dari bahasa Arab, pun secara toponim meminjam nama suatu kota legendaris di Asia Barat/Timur Tengah, tepatnya di Palestina. Toponim pinjaman sumber nama bagi Kudus adalah Al Quds, salah satu varian nama dalam bahasa Arab dan Dunia Islam untuk Yerusalem. Kudus adalah nama pengucapan menurut lidah orang Jawa yang dahulu tak cukup lihai melafalkan Al Quds. Tokoh yang diyakini menyematkan toponim Kudus adalah Sunan Kudus, bagian dari para pendakwah Islam legendaris di Jawa yang dijuluki sebagai Walisanga. Merujuk kepada catatan babad serta tuturan cerita rakyat di Jawa, kurun hidup Sunan Kudus terentang meliputi masa akhir era Majapahit hingga masa awal Pajang. Pada dekade-dekade tersebut, selain merupakan pendakwah Islam di Jawa Tengah Bagian Utara, Sunan Kudus merupakan guru bagi beberapa tokoh penting, yakni Sunan Prawoto, Arya Penangsang sang Adipati Jipang Panolan, juga Hadiwijaya raja di Pajang. Konon pemilik nama asli Jafar Shadiq ini berasal dari Palestina. Jadi pilihannya untuk menamai Kudus karena diinspirasi oleh Al Quds terasa masuk akal serta dapat dipahami. Pilihan atau penciptaan toponim tersebut mencerminkan perpaduan beberapa hal sekaligus, yakni pandangan keagaman, rujukan pengetahuan geografis empiris, bahkan kenangan terhadap kampung halaman.
3. Gunung Muria Gunung setinggi 1625 mdpl ini menjulang di perpotongan tiga wilayah kabupaten di Jawa Tengah, yakni Jepara, Kudus, dan Pati. Masyarat di tiga kabupaten tadi lazim pula menyebut gunungapi bertipe stratovolcano ini dalam versi pelafalan ala Jawa, Muryo. Kawasan dalam radius sekitar 30 kilometer pada arah barat, barat laut, utara, timur laut, dan timur dari kaki Gunung Muria, yakni bagian daratan Pesisir Utara Pulau Jawa yang jauh menjorok ke Laut Jawa, lazim disebut pula sebagai Semenanjung Muria. Semenanjung ini diyakini pernah lama menjadi pulau tersendiri. Pada masa lampau, antara Demak di barat hingga Juwana di timur ada selat sempit yang memisahkan kedua daerah dari daratan utama Pulau Jawa. Bentang alam yang demikian bahkan masih ada hingga sekitar 500 tahun silam. Toponim Gunung Muria diyakini diserap dari toponim di Palestina, Asia Barat /Timur Tengah. Tepatnya dari Moriah, nama sebuah bukit di Yerusalem. Hal menarik untuk mengaitkan serta menafsirkan toponim Muria berikut sumbernya dengan toponim Kudus berikut sumbernya. Antara gunungapi dan semenanjung dengan kota dan kabupaten tersebut rupanya sama-sama meminjam atau diinspirasi toponim asal Asia Barat. Bisa jadi beberapa toponim tersebut merupakan tilas dari suatu proses dakwah yang akhirnya menyebarluaskan Islam di Jawa pada akhir era Majapahit hingga era Demak dan Pajang. Salah satu tokoh pendakwah Islam dalam periode tadi bahkan dimakamkan di lereng selatan Gunung Muria, Sunan Muria. Ia diriwayatkan sebagai salah seorang putra Sunan Kalijaga. Situs makam sang wali di Desa Colo dan berada di ketinggian 845 mdpl, hingga kini terus diziarahi kaum Muslim tradisional Jawa. Namun, toponim Gunung Muria rupanya tak lantas langsung tunggal memakai penamaan hasil meminjam toponim di Palestina. Pada abad ke-19 atau tahun 1800-an, Gunung Muria ternyata masih pula dikenal khalayak dalam nama lain, yakni Gunung Jepara/Japara. Hal ini ini dicatat oleh Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java.
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |