|
Termasuk di antaranya adalah 3 macam wayang dengan rincian sebagai berikut:
1. Wayang Beber Jenis seni pertunjukan wayang menuturkan kisah Panji maupun Damarwulan, berupa lakon-lakon epos Jawa yang diyakini berkembang sejak zaman Majapahit. Dalang menuturkan cerita dengan cara pembeberan sedikit demi sedikit gulungan kain bergambar yang dibentangkan seperti layar di hadapan para penonton. Dalam sekali pentas bisa membutuhkan 4 gulung wayang beber, setiap gulung berisikan sekitar 16 adegan. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan wayang beber pada sekuen pergelaran di kediaman Ki Ageng Pengging. Pertunjukan wayang beber tersebut dihentikan sebelum akhir cerita karena istri Ki Ageng Pengging yang tengah hamil tua melahirkan lebih cepat dari perkiraan. Lahir bayi sangat tampan dan diberi nama Mas Karebet. Setelah dewasa ia akan menjadi salah satu punggawa prajurit Kerajaan Demak, bahkan dinikahkan Raja Demak dengan salah seorang putrinya. Ia diberi kedudukan sebagai Adipati Pajang, kelak berhasil menjadi raja setelah Demak dikoyak perang saudara menahun. 2. Wayang Kulit Purwa Jenis seni pertunjukan dengan tampilan aneka wayang berbentuk pipih dari bahan kulit lembu, kerbau, atau kambing. Wayang-wayang tersebut dihias melalui teknik tatah-sungging (diukir dan dilukis) hingga dapat mewakili para tokoh dalam wiracarita Ramayana maupun Mahabharata. Penggambaran masing-masing tokoh wayang dalam hal postur badan adalah dari sisi samping, dengan proporsi tubuh dibuat tidak mengikuti proporsi riil tubuh manusia. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyamarkan atau menjauhkan keserupaan antara bentuk wayang dengan manusia nyata. Wayang dijepit gapit, yaitu suatu kerangka dari bahan tanduk kerbau yang berfungsi sebagai bagian pegangan dalang saat membawakan pertunjukan juga saat wayang ditancapkan di batang pisang di bawah layar kelir. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan wayang kulit pada sekuen Ki Ageng Sela nanggap pertunjukan wayang kulit dengan dalang bernama Ki Bicak. Dalam momen tersebut, Ki Ageng Sela jatuh hati kepada istri Ki Bicak yang memang teramat jelita. Bahkan Ki Ageng Sela tega membunuh Ki Bicak agar dapat merampas harta ki dalang berupa istri, perangkat wayang, juga bende yang kelak menjadi salah satu pusaka Kerajaan Mataram Islam dan diberi nama Ki Bicak. 3. Wayang Gedog Jenis seni pertunjukan wayang menggunakan aneka wayang berbahan kulit kerbau, lembu, atau kambing seperti pada wayang kulit. Namun, cerita yang dituturkan bukanlah Ramayana atau Mahabharata, melainkan kisah Panji. Salah satu ciri wayang gedog adalah tatanan rambut tokohnya bertopi tekes. Sedangkan wayang kulit digambarkan memakai tatanan rambut supit urang. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan wayang gedog pada sekuen tentang seorang wanita sangat cantik yang berayahkan seorang dalang wayang gedog bernama Ki Wayah. Kecantikan perempuan yang telah bersuamikan pula seorang dalang bernama Ki Dalem, sampai ke telinga Susuhunan Amangkurat I. Maharaja Mataram Islam pada 1646 yang mewarisi takhta dari Sultan Agung tersebut sangat ingin memperistri putri Ki Wayah bahkan dengan cara frontal. Ia sampai hati memerintahkan pejabat kerajaan agar merampas paksa wanita cantik yang tengah hamil tersebut dari suaminya dan berhasil. Amangkurat I yang kasmaran lalu memberinya kedudukan permaisuri bergelar Ratu Wetan, kelak lebih dikenal bernama Ratu Malang. Ratu Wetan melahirkan bayi laki-laki yang berayah biologis Ki Dalem. Sang raja ternyata sangat sayang kepada pada bayi itu, bahkan memberlakukan seperti anak kandung. Amangkurat I lalu menitahkan pembunuhan terhadap Ki Dalem, mantan suami Ratu Wetan. Akhir hidup tragis Ki Dalem membuat Ratu Wetan berduka siang dan malam. Babad Tanah Jawi berkisah bahwa Ratu Wetan akhirnya meninggal setelah beberapa lama mengalami muntaber. Curiga bahwa kematian permaisuri karena ilmu hitam ataupun peracunan, raja menitahkan semua perempuan penghuni kraton dikumpulkan di halaman keputren untuk dihukum. Jenazah Ratu Wetan dibawa ke pemakaman Antakapura di Gunung Kelir. Namun, jenazah hanya dimasukkan liang lahat tidak ditimbun karena ditunggui raja beberapa hari yang belum ikhlas ditinggal permaisuri. Jenazah dikubur setelah nyata mengalami proses pembusukan. Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)] REFERENSI
4 Comments
Doğayı sevenler için, şehirden uzaklaşmanın en sağlam yolu AnkaOutdoor'dan geçer.
Reply
15/12/2025 12:59:39 am
Tulisan yang sangat menarik. Penjelasan tentang tokoh wayang dalam Babad Tanah Jawi membantu pembaca memahami bagaimana simbol dan cerita tradisional membentuk pandangan sejarah dan budaya Jawa. Kejelasan penyampaian seperti ini penting di banyak bidang. Di konteks lain, saya pernah melihat HVAC Bros (http://www.thehvacbros.com
Reply
15/12/2025 12:59:56 am
Artikel ini sangat kaya makna. Cara Anda mengaitkan tokoh wayang dengan narasi sejarah terasa reflektif dan penuh nuansa. Membacanya membuat saya berpikir tentang bagaimana cerita dan simbol bisa menyampaikan emosi dan identitas secara halus. Saya teringat sebuah tulisan berjudul “Sad Bio for Instagram” (https://instatexthub.com/sad-bio-for-instagram/
Reply
15/12/2025 01:00:14 am
Kajian yang sangat menarik dan informatif. Wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pembentukan identitas dan nilai-nilai. Hal ini mengingatkan saya pada artikel “Instagram Bio for Boys” (<a href="https://instatexthub.com/instagram-bio-for-boys/">Instagram Bio for Boys</a>) yang membahas bagaimana identitas dapat tercermin dari pilihan kata yang singkat. Baik dalam wayang maupun bio singkat, simbol dan narasi memiliki peran besar dalam menyampaikan jati diri.
Reply
Leave a Reply. |
Archives
December 2025
Categories |