1. Tari seperti Tayub, Tlèdhèk, dan Gambyong
Beberapa jenis tari pergaulan yang aslinya berpenari tunggal. Namun, koreografinya termasuk lentur dikembangkan untuk menjadi tarian berpenari banyak bahkan massal. Jenis tari tersebut ditampilkan untuk menyambut tamu atau menjadi hiburan pada pesta atau pertemuan. Penari perempuan dimungkinkan bisa menari bersama penonton pria yang melibatkan diri di area pentas. Kadang tari tersebut diwarnai beberapa tindakan nakal pihak penonton menggoda penari. Tarian tersebut telah hidup bertumbuh di luar lingkungan kraton. Namun, pada tari gambyong, sejak era 1900-an koreografi dilakukan beberapa seniman kraton menghasilkan karya yang dibakukan serta diperhalus untuk memenuhi standar kepantasan pertunjukkan bagi kaum priyayi. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan jenis tari tersebut pada sekuen kala Sutawijaya atau Senapati Ing Alaga mengkonsolidasikan kekuatan sebagai bagian persiapan memerdekakan Mataram dan bahkan merebut posisi kuasa utama Jawa dari pihak Pajang. Senapati berupaya mencegah aliran setoran pajak dan upeti dari Kedu dan Bagelen. Ia mengumpulkan para mantri pajak dari dua wilayah tersebut ke Mataram. Ia memanjakan mereka dengan suguhan aneka makanan lezat, minuman keras, serta tarian. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyerap mereka agar menjadi pendukungnya, juga merebut setoran pajak dan upeti menjadi miliknya. Digambarkan suasana hiburan, para mantri pajak dan penari saling menari bersama. Hal ini mengindikasikan bahwa tari tersebut seperti tayub, tlèdhèk, dan gambyong 2. Tari Rangin atau Rangin Tanding Jenis tari gagah berpenari para pria, biasanya secara berpasangan dengan formasi 2, 4, dan seterusnya. Pada masa lampau, para penari pria berlatar profesi prajurit, punggawa, jawara, dan priyayi ksatria. Tari rangin disebut juga wireng merupakan kemasan artistik dari pertunjukan berbagai jurus beladiri, ketangkasan bersenjata, hingga ketangguhan badan atau sebagai tarian perang. Tatkala dipentaskan lazim memanfaatkan berbagai persenjataan: tombak, tameng towok, keris pedhang, lawung, maupun dhahap dengan iringan gamelan pelog slendro, carabalen, dan galaganjur. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tari rangin atau rangin tanding dalam tiga sekuen. Pertama dalam pesta yang dihelat Senapati untuk membujuk para mantri pajak Kedu dan Bagelen supaya bersedia mendukungnya menjadi raja. Kedua dalam jamuan yang diberikan Senapati kepada rombongan peninjau dari Pajang pimpinan Pangeran Benawa serta Adipati Tuban. Ketiga saat Susuhunan Pakubuwana I sekeluarga dan para pengikut mereka masih menyusun kekuatan di Semarang untuk persiapan memerangi Susuhunan Amangkurat III. Bila menyimak kilasan deskripsi tari rangin dalam tiga sekuen diatas, tampak unsur pamer kemampuan tenaga dalam hingga kekebalan, mirip beberapa unsur penampilan yang kini masih ditemukan dalam pertunjukkan jathilan, debus, juga reog. 3. Tari Bedhaya tari di lingkungan kraton Jawa dengan formasi penari sembilan orang, walau ada tari bedhaya berpenari tujuh ataupun enam orang.Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tari bedhaya pada sekuen fase awal Perang Suksesi Jawa I (1704-1708), yaitu perang saudara antara kubu Susuhunan Amangkurat III melawan kubu Pangeran Puger, paman sekaligus mertuanya. Awal dari perang adalah pelarian Pangeran Puger sekeluarga dari Kartasura ke Semarang pada Maret 1704 dan pada tiga bulan kemudian ia menyatakan dirinya sebagai Susuhunan Pakubuwana I. Tindakan tersebut didukung oleh VOC hingga berbulan-bulan Pakubuwana I berkedudukan di Semarang. Babad Tanah Jawi berkisah bahwa tari bedhaya adalah salah satu hiburan yang disaksikan sang raja setelah miyos sinewaka pada Senin hingga Kamis. Pakubuwana diceritakan menyaksikan bedhaya bersama para putranya serta para pejabat berpangkat bupati. 4. Tari Gambuh Pengertian terhadap tari gambuh merujuk kepada pemaknaan atas tari bernama serupa di Bali, yakni suatu seni drama tari bersumber dari aneka kisah Panji. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tari gambuh pada sekuen yang sama yang menceritakan keberadaan tari bedhaya, yakni pada 1704, fase awal dari Perang Suksesi Jawa I. Tari gambuh disebut bersama tari bedhaya sebagai hiburan yang disaksikan Susuhunan Pakubuwana I, para putranya, dan para bupati, setelah mereka semua melakukan rutinitas pertemuan resmi pada Senin-Kamis. 5. Tabuhan Gamelan Gala Ganjur Dalam lingkup seni budaya Jawa dan Bali, tabuhan gamelan gala ganjur adalah memainkan komposisi musik yang digunakan maupun menggambarkan suasana perang dengan berbagai alat musik berupa kendhang, gong, bendhe, dan gong beri. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tabuhan gamelan gala gajur pada sekuen Senapati menemui dan menjamu rombongan peninjau dari Kerajaan Pajang pimpinan Pangeran Benawa dan Adipati Tuban. Dalam pesta pora menikmati makan dan minuman keras, ada tabuhan gamelan gala ganjur yang memeriahkan suasana. [Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)] REFERENSI
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
March 2026
Categories |