ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

4 Macam Tari yang Dicuplikkan dalam Babad Tanah Jawi

9/5/2025

0 Comments

 
Picture
Babad Tanah Jawi sungguh didominasi kisah suksesi takhta Mataram Islam beserta aneka konflik dan intrik. Meski demikian, kitab yang rampung penulisannya di tengah era bertakhta Susuhunan Pakubuwana II tersebut ternyata tersisip cuplikan 4 jenis tari, juga 1 jenis gelaran tetabuhan gamelan dengan rincian sebagai berikut:
1. Tari seperti Tayub, Tlèdhèk, dan Gambyong
Beberapa jenis tari pergaulan yang aslinya berpenari tunggal. Namun, koreografinya termasuk lentur dikembangkan untuk menjadi tarian berpenari banyak bahkan massal. Jenis tari tersebut ditampilkan untuk menyambut tamu atau menjadi hiburan pada pesta atau pertemuan. Penari perempuan dimungkinkan bisa menari bersama penonton pria yang melibatkan diri di area pentas. Kadang tari tersebut diwarnai beberapa tindakan nakal pihak penonton menggoda penari. Tarian tersebut telah hidup bertumbuh di luar lingkungan kraton.  Namun, pada tari gambyong, sejak era 1900-an koreografi dilakukan beberapa seniman kraton menghasilkan karya yang dibakukan serta diperhalus untuk memenuhi standar kepantasan pertunjukkan bagi kaum priyayi.

Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan jenis tari tersebut pada sekuen kala Sutawijaya atau Senapati Ing Alaga mengkonsolidasikan kekuatan sebagai bagian persiapan memerdekakan Mataram dan bahkan merebut posisi kuasa utama Jawa dari pihak Pajang. Senapati berupaya mencegah aliran setoran pajak dan upeti dari Kedu dan Bagelen. Ia  mengumpulkan para mantri pajak dari dua wilayah tersebut ke Mataram. Ia memanjakan mereka dengan suguhan aneka makanan lezat, minuman keras, serta tarian. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyerap mereka agar menjadi pendukungnya, juga merebut setoran pajak dan upeti menjadi miliknya.  Digambarkan  suasana hiburan, para mantri pajak dan penari saling menari bersama. Hal ini mengindikasikan bahwa tari tersebut seperti tayub, tlèdhèk, dan gambyong
 
2. Tari Rangin atau Rangin Tanding
Jenis tari gagah berpenari para pria, biasanya secara berpasangan dengan formasi 2, 4, dan seterusnya. Pada masa lampau, para penari pria berlatar profesi prajurit, punggawa, jawara, dan priyayi ksatria. Tari rangin disebut juga wireng merupakan kemasan artistik dari pertunjukan berbagai jurus beladiri, ketangkasan bersenjata, hingga ketangguhan badan atau sebagai tarian perang. Tatkala dipentaskan lazim memanfaatkan berbagai persenjataan: tombak, tameng towok, keris pedhang, lawung, maupun dhahap dengan iringan gamelan pelog slendro, carabalen, dan galaganjur.

Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tari rangin atau rangin tanding dalam tiga sekuen. Pertama dalam pesta yang dihelat Senapati untuk membujuk para mantri pajak Kedu dan Bagelen supaya bersedia mendukungnya menjadi raja. Kedua dalam jamuan yang diberikan Senapati kepada rombongan peninjau dari Pajang pimpinan Pangeran Benawa serta Adipati Tuban. Ketiga saat Susuhunan Pakubuwana I sekeluarga dan para pengikut mereka masih menyusun kekuatan di Semarang untuk persiapan memerangi Susuhunan Amangkurat III.

Bila menyimak kilasan deskripsi tari rangin dalam tiga sekuen diatas, tampak unsur pamer kemampuan tenaga dalam hingga kekebalan, mirip beberapa unsur penampilan yang kini masih ditemukan dalam pertunjukkan jathilan, debus, juga reog. 

3. Tari Bedhaya
tari di lingkungan kraton Jawa dengan formasi penari sembilan orang, walau ada tari bedhaya berpenari tujuh ataupun enam orang.Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tari bedhaya pada sekuen  fase awal Perang Suksesi Jawa I (1704-1708), yaitu perang saudara antara kubu Susuhunan Amangkurat III melawan kubu Pangeran Puger, paman sekaligus mertuanya. Awal dari perang adalah pelarian Pangeran Puger sekeluarga dari Kartasura ke Semarang pada Maret 1704 dan pada tiga bulan kemudian ia menyatakan dirinya sebagai Susuhunan Pakubuwana I. Tindakan tersebut didukung oleh VOC hingga berbulan-bulan Pakubuwana I berkedudukan di Semarang. Babad Tanah Jawi berkisah bahwa tari bedhaya adalah salah satu hiburan yang disaksikan sang raja setelah miyos sinewaka pada Senin hingga Kamis. Pakubuwana diceritakan menyaksikan bedhaya bersama para putranya serta para pejabat berpangkat bupati.
 
4. Tari Gambuh
Pengertian terhadap tari gambuh  merujuk kepada pemaknaan atas tari bernama serupa di Bali, yakni suatu seni drama tari bersumber dari aneka kisah Panji. Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tari gambuh pada sekuen yang sama yang menceritakan keberadaan tari bedhaya, yakni pada 1704, fase awal dari Perang Suksesi Jawa I. Tari gambuh disebut bersama tari bedhaya sebagai hiburan yang disaksikan Susuhunan Pakubuwana I, para putranya, dan para bupati, setelah mereka semua melakukan rutinitas pertemuan resmi pada Senin-Kamis.
 
5. Tabuhan Gamelan Gala Ganjur
​
Dalam lingkup seni budaya Jawa dan Bali, tabuhan gamelan gala ganjur adalah memainkan komposisi musik yang digunakan maupun menggambarkan suasana perang dengan berbagai alat musik berupa kendhang, gong, bendhe, dan gong beri.
Babad Tanah Jawi mencuplik keberadaan tabuhan gamelan gala gajur pada sekuen Senapati menemui dan menjamu rombongan peninjau dari Kerajaan Pajang pimpinan Pangeran Benawa dan Adipati Tuban. Dalam pesta pora menikmati makan dan minuman keras, ada tabuhan gamelan gala ganjur yang memeriahkan suasana.
                                                                                                                [Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)]
 
REFERENSI
  • Dwiyanto, Djoko dkk (2009). Ensiklopedi Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta
  • Mulyono, Sri (1975). Wayang: Asal-Usul, Filsafat, & Masa Depannya. Jakarta: Badan Penerbit ALDA
  • Olthof, WL ed. (2014). Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647,. Yogyakarta: Narasi 
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak