Empat tokoh yang diulas mewakili geliat Tari Topeng di tiga daerah, yakni Cirebon, Klaten, dan Yogyakarta. Cirebon dan Klaten terwakili satu tokoh, sedangkan Yogyakarta terwakili oleh dua tokoh. Mereka adalah sebagai berikut.
1. Sawiri Sawitri merupakan Maestro Tari Topeng Panji dari Losari, Cirebon. Wanita kelahiran 1927 ini mulai menerima pendidikan tari dari orangtuanya sejak usia dini. Pada usia 9 tahun ia sudah mampu menabuh gamelan, menari, dan bermain peran. Lika-liku perjalanan hidup Sawitri, khususnya konsekuensi menikah di usia sangat muda dan keharusan mengikuti suami bekerja di daerah lain, membuatnya meninggalkan tanah kelahiran dan kegiatan berseni tari topeng. Baru pada 1974, setelah 30 tahun meninggalkan Losari dan menanggalkan status perkawinannya, ia memutuskan kembali ke kampung halaman. Sawitri bertekad meneruskan seni topeng sesuai amanat sang ayah, Sumitra (Ki Mitra). Sejak itu, Sawitri terjun menjadi seniman Tari Topeng. Ia bersama saudaranya membentuk rombongan Tari Topeng bernama Sanggar Purwa Kancana pada tahun 1980-an juga sebagai tempat mewariskan keahlian tarinya kepada generasi muda. Juju Masunah dalam Sawitri Penari Topeng Losari (2000) menulis bahwa proses pewarisan topeng Losari bukan perkara sederhana. Sawitri harus berhadapan dengan perubahan zaman. Generasi setelah kemerdekaan tidak lagi berminat mengikuti jejak orang tuanya sebagai penari. Bagi mereka seni tari hanya menjadi bagian dari ajang unjuk ketrampilan. Mereka lebih fokus pada pembelajaran akademis ataupun bekerja ke kota mencari penghasilan yang lebih baik. Perubahan sosial-budaya telah mempengaruhi cara pandang generasi muda setelah era Sawitri tentang seni tari. Tantangan zaman baru tersebut membuat Sawitri lebih kreatif. Ia berinovasi dengan pemadatan durasi tari topeng, melakukan kerjasama dengan beragam pihak (akademis maupun non-akademis), dan memberi peluang regenerasi bagi putra/putri luar daerah. Dengan pengalaman dan kerja kerasnya, akhirnya Sawitri berhasil mewariskan keahliannya kepada generasi muda. Sebagai apresiasi atas usaha Sawitri mempertahankan kompleksitas Topeng Cirebon, liputan Pikiran Rakyat dalam Lembaran Khusus Priangan Timur Bandung, terbit 1 Februari 1996, memberinya julukan sebgai “Penyambung Obor Kesenian Topeng Losari”. 2. Ki TukasKi Tukas Gondo Sukasno merupakan maestro Seni Topeng Dalang dari Klaten. Ia merupakan generasi kedua dari keluarga penari topeng Desa Munjungan. Ayahnya, Mbah Kuwiran adalah pioner penyebaran seni Topeng Dalang di Klaten. Wisnu Kisawa dkk dalam Topeng Panji Mengajak Kepada Yang Tersembunyi (2014:20-24), menyebutkan bahwa Ki Tukas mulai menari dan mendalang mbarang (mengamen) bersama keempat temannya sejak tahun 1942. Cara ini menyederhanakan bentuk pementasan Tari Topeng Dalang secara utuh, yang biasanya ada 10-15 personel. Meski berperawakan sedang, kualitas tarinya mampu membuyarkan bayangan penonton tentang sterotipe sosok “Klana dalam Cerita Panji” yang tinggi dan besar. Bahkan di tangan Ki Tukas, sosok tersebut menjadi berwibawa dan berkarakter meski tetap mempertahankan tampilan penuh kuasa dan hasrat yang menakutkan. Integritas dan penghayatan Ki Tukas dalam berlakon membuat masyarakat yang menonton pementasannya mengidentikkan dirinya sebagai Adipati Klana Sewandana, salah satu tokoh dalam Tari Topeng Dalang. Meski saat geger politik 1965-an membuatnya beralih pekerjaan menjadi kusir andong, Penghayatan Ki Tukas sebagai seorang penari topeng terlihat ketika meninggal pada 13 Maret 2013. Sebelum meninggal, ia berwasiat agar jenazahnya didandani dalam busana Adipati Klana Sewandana secara lengkap. Topeng Klana dilekapkan di depan dada, tubuhnya dibalut dengan kaos warna putih, dan keris di samping tubuhnya. Sesuai penuturan sang putra, Jaka Sabean, Topeng Klana Sewanda milik Ki Tukas tergolong ragam karakter atau wanda geger (perang). Ditelusuri asal usul, konon topeng ini merupakan hadiah dari Sinuhun Paku Buwono X (raja Surakarta,1893-1939). 3. Didik Nini Thowok Didik Nini Thowok adalah nama panggung dari seniman Didik Hadiprayitno yang bernama lahir Kwee Tjoen An. Maestro tari topeng ini berasal dari Temanggung, lahir pada 13 November 1954. Kehidupan masa kecil yang pas-pasan menempa Didik tumbuh menjadi pribadi yang ulet dan konsisten berkarya di bidang tari. Sang nenek menjadi orang pertama yang mengajari Didik kecil menari. Ia menjalani hidup keras dengan bekerja menerima pesanan jahitan dan bordiran, sebagai ikhtiar untuk membiaya kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta. Didik muda berhasil menuntaskan studinya pada 1977. Semasa kuliah di ASTI, Didik beroleh nama panggungn: Nini Thowok. Didik dan dua karibnya, Bekti Budi Astuti dan Bambang Leksana Setya Aji lantas mendirikan grup tari mereka menggunakan nama Nini Thowok pada 1975. Nini Thowok atau Nini Thowong adalah permainan jailangkung yang biasa dimainkan masyarakat Jawa masa itu. Bahkan Didik serta kawan-kawan kuliahnya pernah mengangkat kesenian Nini Thowok sebagai tari untuk ujian sarjana muda Bekti Budi Astuti. Karier Didik semakin melejit saat ia mulai mendapatkan peliputan maupun berkesempatan tampil di televisi. Namun, ia tidak berpuas diri karena hal tersebut. Didik tetap memperkaya ilmu dengan berguru kepada banyak maestro tari di dalam dan luar negeri, antara lain AM Sudiharjo dari Temanggung, Prapto Prasojo dari Yogyakarta, Sumiyati dari Solo, I Gusti Gede Raka dari Bali, Nini Suji dan Sawitri dari Cirebon. Selain menjadi seniman, Didik membagikan ilmu dan keterampilannya sebagai pengajar seni di sekolah kejuruan, perguruan tinggi, juga sanggar seni. Didik tercatat pernah mengajar di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta yang kini menjadi SMK Negeri 1 Kasihan pada 1976-1980 juga di ASTI Yogyakarta (ISI Yogyakarta) pada 1976-1985. Ia menjadi dosen rias di Akademi Kesejahteraan Sosial (AKK) Yogyakarta sejak 1983 hingga kini. Pada 1980, Didik mendirikan sanggar tari Natya Lakshita yang aktif hingga kini di Yogyakarta dan Temanggung. I Wayan Dana, dkk dalam The Power of Topeng (2015) menyebutkan pencapaian Didik sebagai penari dengan repertoar Dwimuka. Repetoar ini menggunakan properti topeng sebagai muka kedua sang penari. Penempatan topeng sebagai muka kedua terletak di belakang kepala. Di tangan Didik, Dwimuka telah bertransformasi menjadi banyak repertoar sesuai kreativitasnya yang luas dan mendalam. Kemampuan ini mengantar Didik tidak hanya sebagai penari, tetapi juga koreografer, komedian, bahkan pemeran film maupun serial televisi. 4. Martinus Miroto Martinus Miroto adalah maestro tari asal Yogyakarta. Menurut I Wayan Dana dkk. dalam The Power of Topeng (2015), ketertarikan pria kelahiran 1959 ini kepada dunia seni tari sudah dimulai sejak usia 9 tahun. Miroto sendiri tumbuh dalam keluarga berlatar belakang seni. Ayahnya adalah seorang seorang penggender atau pemain gender gamelan Jawa. Ibunya selalu mendukung ketertarikan Miroto kecil kepada seni tari. Pada wawancara dalam program televisi Kick Andy, 2019, Miroto menyebut pujian-pujian kecil ibunya adalah suatu booster penyemangat besarnya pada masa awal belajar menari. Untuk menyalurkan minatnya, Miroto bergabung dengan Krida Beksa Wirama (KBW), komunitas tari klasik dan karawitan yang telah eksis di Yogyakarta sejak 1918, didirikan oleh putra Sultan HB VII, GPH. Tejokusumo dan BPH. Suryodiningrat. Selain KBW, Miroto juga menimba ilmu tari lagi di Pusat Latihan Tari (PLT) milik seniman legendaris Bagong Kussudiardjo. Kala lulus SMP, Miroto melanjutkan pendidikan tari di Konservatori Tari Indonesia Yogyakarta pada 1976-1980, yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta. Setelah lulus, ia melanjutkan perguruan tinggi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1980-1981 dan ISI Yogyakarta tahun 1981-1986. Di IKJ, ia akrab dengan sang dosen, koreografer Sardono W. Kusumo dan Ben Suharto. Kedua dosennya selalu berpesan agar dirinya tidak meniru orang lain saat berkarya. Miroto kemudian moncer sebagai penari yang giat berkiprah juga koreografer produktif. Hingga membawa Miroto tampil menari maupun menampilkan racikan koreografinya, antara lain Penumbra, Heads, serta Simulakra di berbagai negara di lima benua, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Australia, dan Zimbabwe. Tiga koreografi tersebut merupakan penanda puncak kreatifitas Miroto. Penumbra menampilkan seorang penari topeng yang berbusana terusan panjang dengan kepala terbalut lilitan kain tinggi. Berbagai gerakannya menampilkan posisi seperti kuda-kuda pencak silat. Di iring musik seperti pada kesenian jathilan. Di tengah pementasan, ada sekuen yang menampilkan penari penumbra melepas topengnya dan “bercakap-cakap” beberapa saat dengan topeng tersebut. Heads adalah koreografi yang menampilkan seorang penari memakai 5 topeng sekaligus, tidak cuma di wajah, tapi juga di semua telapak kaki dan telapak tangan. Penempatan berbagai topeng di sekujur tubuh memberi efek visual bahwa penari yang beraksi lebih dari satu, bahkan hingga empat atau lima. Contoh ketika penari mengambil posisi rebah terentang. Namun kedua tangan, kedua kaki, juga kepala diangkat tinggi. Efek visual demikian kian terasa bertambah saat penari bertopeng lima yang dilibatkan ditambah jumlahnya, yaitu dengan melibatkan tiga-empat penari sekaligus. Simulakra berupa koreografi perpaduan pemanfaatan teknologi teleholografis. Lima penari dari tempat berbeda-beda dimungkinkan untuk menari bersama dan tampil secara apik secara live pada suatu visualisasi holografis. Selain sebagai penari dan koreografer, Miroto adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sebagai dosen mata kuliah olah tubuh dan koreografi. Galih Suci Manganti dalam Martinus Miroto, Seniman Tari Kontemporer Yogyakarta: Sebuah Biografi (2012), menyebut Miroto pernah mengenyam pendidikan manca negara. Ia pernah mengikuti lokakarya di Folkswang Dance Academy, Jerman (1987); Wuppertal Dance Theater, Jerman dan American Dance Festival North Carolina, Amerika Serikat; serta kuliah di Department of Dance, University of California Los Angeles (UCLA) hingga berhasil meraih gelar Master of Fine Arts di bidang seni tari pada 1995. Miroto meninggal dunia pada 2021. Di samping Penumbra, Heads, Simulakra, juga berbagai karya tari ciptannya, ia meninggalkan warisan berupa Miroto Dance Company, berupa kelompok tari yang merujuk info dalam web indonesiandancefestival.id tercatat didirikan Miroto pada 1986. Warisan lain dari Miroto adalah Studio Banjarmili, berupa kompleks studio tari yang terletak sebelah barat kawasan kota Yogyakarta. Nawa Tunggal menulis di koran KOMPAS, 7 Januari 2018 menyebut bahwa pada 1994 Miroto membeli lahan 2.000 meter persegi di tepi Sungai Bedog sebagai bakal calon studio tarinya. Lalu mulai bertahap membangun studio tari permanen dan tertutup pada 1998. Sejak itu, studio yang termasuk di wilayah Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman berulang kali ketempatan untuk penyelenggaraan acara seni. Salah satu agenda rutin berupa Bedog Art Festival yang berawal dari event bertajuk Bedog Art Nights. Sejak 2007 hingga 2024, Bedog Art Festival sudah terselenggara 14 kali. Pada 2017-2018, Miroto melakukan renovasi pengembangan Studio Banjarmili berkat bantuan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). [RESTU A RAHAYUNINGSIH & YOSEF KELIK (Departemen Riset Museum Ullen Sentalu)]
1 Comment
Nining Dewi Larasati
25/11/2025 07:29:41 pm
keren banget super informatif, salam dari klaten
Reply
Leave a Reply. |
Archives
March 2026
Categories |