Inajati Adrisijanti dalam Kota Gede, Plered, dan Kartasura sebagai Pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram Islam (±1578 TU-1746 TU): Suatu Kajian Arkeologis (1997) bahkan menyebutkan bahwa wali di Jawa berjumlah sembilan orang atau lazim disebut wali sanga, meskipun para anggotanya tidak selalu sama. Berikut kisah 5 wali yang termuat dalam Babad Tanah Jawi, hasil penulisan abad XVIII:
1. Sunan Ampel (hidup pada periode akhir Majapahit) Ia diceritakan bernama muda Raden Rahmat dan merupakan sulung dari dua putra Makdum Brahim Asmara dengan putri Raja Campa. Masa dewasa, ia bersama adiknya bernama Raden Santri serta sepupunya bernama Raden Burereh pergi ke Jawa. Setelah setahun berada di Jawa, Raden Rahmat menikah dengan putri Tumenggung Wila Tikta di Majapahit bernama Nyi Gede Manila. Ia kemudian memilih bertempat tinggal dan berdakwah di Ampel Denta (Surabaya). Beberapa muridnya yang terkenal adalah Sunan Giri, Raden Husen, Raden Patah yang kemudian menjadi raja pertama Demak. Raden Patah bahkan menjadi bagian keluarga besar Sunan Ampel setelah menikahi cucu sang ulama bernama Nyi Ageng Maloka. 2. Sunan Giri (hidup pada periode akhir Majapahit hingga awal Mataram Islam) Ia diceritakan sebagai putra Syekh Wali Lanang dari Negeri Juldah (Mekkah) dengan putri Raja Blambangan (Ujung Timur Jawa). Saat bayi, ia pernah dihanyutkan di laut atas titah Raja Blambangan. Untungnya, bayi tersebut ditemukan dan diselamatkan oleh awak kapal anak buah Nyi Samboja, saudagar perempuan asal Gresik. Si bayi lalu diangkat anak oleh sang saudagar. Setelah dewasa, anak angkat Nyi Samboja tersebut berguru pada Sunan Ampel dan selanjutnya berdakwah di daerah Giri. Pada perjalanan dakwahnya, ia dan keturunannya pernah menghadapi serangan oleh Majapahit dan Surabaya. Meski demikian, misi dakwah mereka tidak terhenti. Sunan Giri Prapen (cicitnya) pernah bertemu dengan Panembahan Senopati (1585-1601), raja pertama Mataram Islam. Ia dimintai saran oleh Panembahan Senopati tentang rencana penaklukan Madiun. Pengaruh klan ulama Sunan Giri baru berakhir setelah kediamannya diserbu dan dijarah oleh pasukan Susuhunan Amangkurat II dalam perjalanan pulang setelah memadamkan pemberontakan Trunajaya. 3. Sunan Bonang (hidup pada periode akhir Majapahit) Ia diceritakan sebagai putra Sunan Ampel dengan Nyi Gede Manila. Ia pernah menjadi teman Sunan Giri ketika belajar di Pesantren Ampel Denta. Ia memiliki pusaka cis (tombak kecil) yang kemudian ditempa menjadi 2 keris (berbentuk sangkelat dan pasopati) yang menjadi pelengkap para raja Jawa. Suatu hari di hutan Jati Sekar arah timur laut Lasem, Sunan Bonang akan dibegal oleh seorang pemuda. Namun, peristiwa itu berujung kepada pertobatan si pemuda untuk menjauhi perbuatan jahat. Si pemuda bahkan bersedia mematuhi perintah Sunan Bonang untuk bertapa selama dua tahun. Bekas penyamun tersebut mengikuti jejak Sunan Bonang sebagai ulama besar penyebar agama Islam di Jawa dan dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. 4. Sunan Kalijaga (hidup pada periode akhir Majapahit hingga awal Mataram Islam) Ia diceritakan sebagai Raden Said, putra Tumenggung Wila Tikta di Majapahit. Awalnya, ia gemar berjudi dan menyamun, tetapi kemudian bertobat setelah berusaha membegal Sunan Bonang. Atas petunjuk Sunan Bonang, ia kemudian bertapa selama dua tahun, disambung pergi ke Cirebon untuk memperdalam ilmu agama. Ia menikahi adik perempuan Sunan Gunung Jati, kemudian dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Sekitar Demak dan Pajang menjadi kawasan dakwah utamanya. Ia dikisahkan pernah menjadi penasihat bagi Panembahan Senopati ketika berniat menjadi raja Mataram. Hal ini jika dihitung lebih rinci agaknya berlebihan karena usia Sunan Kalijaga diceritakan menjadi amat panjang. Bercermin dari cerita Sunan Giri, ada kemungkinan Sunan Kalijaga yang bertemu Panembahan Senopati bukanlah Sunan Kalijaga yang pernah menjadi penjudi dan penyamun, melainkan keturunannya yang melanjutkan gelar keulamaan sang sunan. 5. Sunan Kudus (hidup pada periode akhir Majapahit hingga awal Pajang) Ia adalah sahabat Sunan Bonang yang berdakwah di daerah Kudus (Jawa Tengah). Lebih banyak berdakwah dalam urusan politik di Kerajaan Demak dan Pajang. Contoh, ia pernah menjadi utusan untuk mengalahkan Ki Ageng Pengging yang menolak tunduk terhadap Raja Demak. Sunan Kudus juga dikenal sebagai salah satu guru bagi Arya Penangsang, Sunan Prawata, dan Hadiwijaya. Namun Sunan Kudus cenderung mengistimewakan Arya Penangsang, hingga pernah ikut mendukung sang penguasa Jipang dalam konflik perebutan takhta Demak pasca gugurnya Raja Trenggana di Panarukan. Penjabaran di atas menunjukkan peran para wali dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, dari periode Demak hingga Mataram Islam masa Amangkurat II. Mereka dikisahkan hidup sezaman, memiliki hubungan kekerabatan, dan bahkan kekuatan supranatural. Sayangnya kebenaran historis kisah para wali sejatinya sukar dicari bukti ilmiah. Meski demikian, hingga kini makam maupun petilasan mereka masih dipercaya dan ramai diziarahi orang. [RESTU A RAHAYUNINGSIH (Peneliti Museum Ullen Sentalu)
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |