ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

5 Tokoh Wali yang Disebutkan dalam Babad Tanah Jawi

7/2/2025

0 Comments

 
Babad Tanah Jawi adalah satu di antara sumber yang mengungkap keberadaan para wali selaku penyebar Islam di Jawa. Mereka diyakini menyebarkan Islam melalui tasawuf atau sufisme, yakni ajaran tentang menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, dan membangun jiwa-raga untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Hal ini mempermudah penerimaan Islam oleh orang Jawa yang telah terbiasa dengan alam pikiran mistis pada ajaran Hindu-Budha Jawa. 
Picture
Inajati Adrisijanti dalam Kota Gede, Plered, dan Kartasura sebagai Pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram Islam (±1578 TU-1746 TU): Suatu Kajian Arkeologis (1997) bahkan menyebutkan bahwa wali di Jawa berjumlah sembilan orang atau lazim disebut wali sanga, meskipun para anggotanya tidak selalu sama. Berikut kisah 5 wali yang termuat dalam Babad Tanah Jawi, hasil penulisan abad XVIII:

1. Sunan Ampel (hidup pada periode akhir Majapahit)
Ia diceritakan bernama muda Raden Rahmat dan merupakan sulung dari dua putra Makdum Brahim Asmara dengan putri Raja Campa. Masa dewasa, ia bersama adiknya bernama Raden Santri serta sepupunya bernama Raden Burereh pergi ke Jawa. Setelah setahun berada di Jawa, Raden Rahmat menikah dengan putri Tumenggung Wila Tikta di Majapahit bernama Nyi Gede Manila. Ia kemudian memilih bertempat tinggal dan berdakwah di Ampel Denta (Surabaya). Beberapa muridnya yang terkenal adalah Sunan Giri, Raden Husen, Raden Patah yang kemudian menjadi raja pertama Demak. Raden Patah bahkan menjadi bagian keluarga besar Sunan Ampel setelah menikahi cucu sang ulama bernama Nyi Ageng Maloka.

2. Sunan Giri (hidup pada periode akhir Majapahit hingga awal Mataram Islam)
Ia diceritakan sebagai putra Syekh Wali Lanang dari Negeri Juldah (Mekkah) dengan putri Raja Blambangan (Ujung Timur Jawa). Saat bayi, ia pernah dihanyutkan di laut atas titah Raja Blambangan. Untungnya, bayi tersebut ditemukan dan diselamatkan oleh awak kapal anak buah Nyi Samboja, saudagar perempuan asal Gresik. Si bayi lalu diangkat anak oleh sang saudagar. Setelah dewasa, anak angkat Nyi Samboja tersebut berguru pada Sunan Ampel dan selanjutnya berdakwah di daerah Giri. Pada perjalanan dakwahnya, ia dan keturunannya pernah menghadapi serangan oleh Majapahit dan Surabaya. Meski demikian, misi dakwah mereka tidak terhenti. Sunan Giri Prapen (cicitnya) pernah bertemu  dengan Panembahan Senopati (1585-1601), raja pertama Mataram Islam. Ia dimintai saran oleh Panembahan Senopati tentang rencana penaklukan Madiun. Pengaruh klan ulama Sunan Giri baru berakhir setelah kediamannya diserbu dan dijarah oleh pasukan Susuhunan Amangkurat II dalam perjalanan pulang setelah memadamkan pemberontakan Trunajaya. 

3. Sunan Bonang (hidup pada periode akhir Majapahit)
Ia diceritakan sebagai putra Sunan Ampel dengan Nyi Gede Manila. Ia pernah menjadi teman Sunan Giri ketika belajar di Pesantren Ampel Denta. Ia memiliki pusaka cis (tombak kecil) yang kemudian ditempa menjadi 2 keris (berbentuk sangkelat dan pasopati) yang menjadi pelengkap para raja Jawa. Suatu hari di hutan Jati Sekar arah timur laut Lasem, Sunan Bonang akan dibegal oleh seorang pemuda. Namun, peristiwa itu berujung kepada pertobatan si pemuda untuk menjauhi perbuatan jahat. Si pemuda  bahkan bersedia mematuhi perintah Sunan Bonang untuk bertapa selama dua tahun. Bekas penyamun tersebut mengikuti jejak Sunan Bonang sebagai ulama besar penyebar agama Islam di Jawa dan dikenal dengan nama Sunan Kalijaga.

4. Sunan Kalijaga (hidup pada periode akhir Majapahit hingga awal Mataram Islam)

Ia diceritakan sebagai Raden Said, putra Tumenggung Wila Tikta di Majapahit. Awalnya, ia gemar berjudi dan menyamun, tetapi kemudian bertobat setelah berusaha membegal Sunan Bonang. Atas petunjuk Sunan Bonang, ia kemudian bertapa selama dua tahun, disambung pergi ke Cirebon untuk memperdalam ilmu agama. Ia menikahi adik perempuan Sunan Gunung Jati, kemudian dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Sekitar Demak dan Pajang menjadi kawasan dakwah utamanya. Ia dikisahkan pernah menjadi penasihat bagi Panembahan Senopati ketika berniat menjadi raja Mataram. Hal ini jika dihitung lebih rinci agaknya berlebihan karena usia Sunan Kalijaga diceritakan menjadi amat panjang. Bercermin dari cerita Sunan Giri, ada kemungkinan Sunan Kalijaga yang bertemu Panembahan Senopati bukanlah Sunan Kalijaga yang pernah menjadi penjudi dan penyamun, melainkan keturunannya yang melanjutkan gelar keulamaan sang sunan.

5. Sunan Kudus (hidup pada periode akhir Majapahit hingga awal Pajang)
Ia adalah sahabat Sunan Bonang yang berdakwah di daerah Kudus (Jawa Tengah).  Lebih  banyak berdakwah dalam urusan politik di Kerajaan Demak dan Pajang. Contoh, ia pernah menjadi utusan untuk mengalahkan Ki Ageng Pengging yang menolak tunduk terhadap Raja Demak. Sunan Kudus juga dikenal sebagai salah satu guru bagi Arya Penangsang, Sunan Prawata, dan Hadiwijaya. Namun Sunan Kudus cenderung mengistimewakan Arya Penangsang, hingga pernah ikut mendukung sang penguasa Jipang  dalam konflik perebutan takhta Demak pasca gugurnya Raja Trenggana di Panarukan.

Penjabaran di atas menunjukkan peran para wali dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, dari periode Demak hingga Mataram Islam masa Amangkurat II. Mereka dikisahkan hidup sezaman, memiliki hubungan kekerabatan, dan bahkan kekuatan supranatural. Sayangnya kebenaran historis kisah para wali sejatinya sukar dicari bukti ilmiah. Meski demikian, hingga kini makam maupun petilasan mereka masih dipercaya dan ramai diziarahi orang. [RESTU A RAHAYUNINGSIH (Peneliti Museum Ullen Sentalu)
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak