1. Yogyakarta
Kini, Yogyakarta adalah nama kota sekaligus nama provinsi berstatus Daerah Istimewa di sisi selatan Jawa Bagian Tengah. Toponim ini ada sejak 1755, bagian dari konsekuensi Perjanjian Giyanti alias Palihan Nagari, traktat yang mengakhiri Perang Takhta Jawa III. Yogyakarta adalah pilihan Pangeran Mangkubumi alias Sultan Hamengkubuwana I untuk menamai ibukota baru berikut negara yang dirajainya. Sebagai negara kuno di Jawa pra-Indonesia, Yogyakarta pada 1755-1830 pernah berteritori lebih luas dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta karena masih pula memiliki kekuasaan atas sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kabupaten-kabupaten itu lepas dari kontrol Kasultanan Yogyakarta sebab pada 1830 Kolonial Belanda mengambil alih mereka sebagai biaya ganti rugi Perang Jawa. Yogyakarta selaku toponim memiliki dua macam tafsir makna. Pertama adalah gabungan kata Ayogya dan Karta yang adalah kata-kata bahasa Jawa serapan dari Sanskerta, dengan arti kota makmur-sejahtera yang segala isinya baik lagi pantas. Kedua, penggalan separo bagian depan dari Yogyakarta, yakni Yogya atau Ayogya, adalah pula salah satu versi serapan bahasa Jawa untuk Ayodya alias Ayodhya, nama kota sekaligus negara Sri Rama dalam lakon Ramayana. Di Anakbenua India, ada kota yang sejak sekitar medio abad V Masehi menyandang nama Ayodhya. Kota tersebut bahkan diperkirakan telah berkembang sebagai suatu permukiman sejak sekitar 1.000 tahun sebelumnya dengan awalnya bernama Saketa. Kini, Ayodhya termasuk dalam negara bagian Uttar Pradesh di India. Legendarisnya Ayodhya sebagai kota Sri Rama tak cuma berpengaruh kepada penamaan di Jawa. Itu juga berpengaruh kepada penamaan kota Ayutthaya di Thailand, yang pada 1351-1767 pernah menjadi pusat suatu kemaharajaan yang bentang wilayahnya meliputi banyak bagian dari Daratan Utama Subkontinen Asia Tenggara, dengan kata lain jauh lebih luas dibanding negara Thailand modern.
2. Imogiri Orang Jawa sejak medio abad ke-17 Masehi mengenal Imogiri atau lengkapnya Astana Pajimatan Imogiri sebagai nama kompleks pemakaman luas tempat dikebumikannya jasad para raja Dinasti Mataram Islam. Kini, Astana Imogiri secara administrasi pemerintahan termasuk ke dalam Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Areanya meliputi tak kurang dari 10 hektare di bagian puncak serta punggungan sisi selatan Bukit Merak. Astana Imogiri menjadi tetenger bagi daerah tempatannya. Nama kompleks pemakaman luas tersebut bahkan telah menjelma sebagai nama kapanewon atau kecamatan yang ditempatinya. Sekalipun kini secara provinsial adalah bagian Daerah Istimewa Yogyakarta, Astana Imogiri tak cuma jadi pemakaman para Sultan Yogyakarta, tapi juga menjadi pemakaman bagi para Susuhunan Surakarta. Ini adalah suatu bentuk kesepakatan bersama pihak Kasunanan dan Kasultanan sejak 1755 untuk tetap berdampingan memanfaatkan Astana Imogiri selaku warisan bersama dari zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma. Setelah kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta melalui Perjanjian Giyanti 1755, Astana Imogiri mengalami penataan zonasi di bagian bawah Kedhaton Kasultanagungan (bagian kompleks pemakaman yang berisikan pusara Sultan Agung, Susuhunan Amangkurat II, dan Susuhunan Amangkurat III) serta Kedhaton Pakubuwanan (bagian kompleks pemakaman yang berisikan pusara Susuhunan Pakubuwana I, Susuhunan Amangkurat IV, dan Susuhunan Pakubuwana II). Bukit yang dimanfaatkan sebagai lokasi pemakaman lantas dibagi dua. Sisi kiri atau barat dari jalur tangga dengan ratusan undakan menjadi zona pemakaman para raja Kasunanan Surakarta, sedangkan sisi kanan atau timur dari jalur tangga panjang menjadi zona pemakaman para raja Kasultanan Yogyakarta. Zona Surakarta dan zona Yogyakarta masih terbagi lagi menjadi beberapa kedhaton. Toponim Imogiri memiliki versi penamaan baku dalam bahasa Jawa: Himagiri. Kata tersebut sebenarnya diserap bahasa Jawa dari bahasa Sanskerta melalui perantaraan bahasa Kawi atau Jawa Kuna. Hima berarti salju atau kabut, sedangkan Giri berarti gunung. Gabungan kata yang dihasilkan berarti gunung bersalju atau gunung berkabut. Himagiri adalah pula salah satu nama lain untuk Himalaya, pegunungan tinggi bersalju di perbatasan Anakbenua India serta China. Himalaya dalam tradisi keagamaan Hindu juga disakralkan karena dianggap sebagai tempat tinggal Dewa Siwa.
3. Serayu Sungai besar ini mengular sepanjang sekitar 181 kilometer. Mata air serta hulunya ada di Dataran Tinggi Dieng, lalu kelak-kelok aliran berikut anak-anak sungainya melewati wilayah Kabupen Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap, sebelum akhirnya bermuara ke Laut Selatan alias Samudera Hindia. Dalam naskah Bujangga Manik yang menurut A Teeuw adalah hasil tulisan sebelum 1511 atau sekitar abad 15 hingga awal abad abad 16, sungai ini tercantum dalam penamaan yang bernuansa Sunda, yakni Cisarayu. Toponim Serayu sendiri diserap masyarat Jawa maupun bahasa Jawa dari bahasa Sanskerta dan toponim di India. Secara etimologi, sarayu dalam Sanskerta memiliki arti harafiah “udara” atau “angin”. Namun, manakala dikaitkan dengan keberadaanya sebagai suatu sungai, sarayu dapat diartikan “mengalir”. Pada masa lampau India, Sarayu ini telah disebut dalam kitab Varaha Purana hasil karya abad 10-12 Masehi sebagai salah satu sungai yang mengalir dari Himalaya serta menjadi salah satu anak Sungai Gangga. Di Asia Selatan kini, Sarayu adalah penyebutan untuk bagian hilir dari Sungai Ghaghara. Keseluruhan Sungai Ghaghara sendiri memiliki panjang 1.080 km dengan aliran yang mengulari beberapa negara sekaligus menerabasi perbatasan mereka. Di Nepal, sungai ini disebut Karanli, sedangkan di Tibet disebut Mapcha Tsangpo. Tentang Sarayu sebagai bagian hilir Sungai Ghaghara, sungai tersebut di India dikenal dalam versi toponim moderennya, yakni Saryu alias Sarju. Sungai ini mengalir sejauh sekitar 130 kilometer di Uttarakhand dan Uttar Pradesh, India. Aliran Sungai Saryu alias Saryu bermuara ke sungai besar lain di India, yakni Sharda alias Mahakali.
4. Semeru Dengan merujuk bahasa Kawi yang berakar Sanskerta, toponim Semeru dapat ditafsir mengandung arti “gunung yang lebih tinggi dari gunung lainnya”. Gunung ini sering pula disebut sebagai Mahameru dan termasuk salah satu yang paling aktif di Jawa maupun di Indonesia. Menjulang setinggi 3.676 mdpl di perbatasan dua kabupaten di Provinsi Jawa Timur, yakni Malang dan Lamongan, gunungapi ini adalah pula gunung tertinggi sepulau Jawa. Lokasi tempatnya tegak berdiri dimasukkan Pemerintah Indonesia sejak 1982 menjadi bagian satu taman nasional seluas 50.276 hektare serta memiliki elevasi rata-rata 1.343 mdpl. Taman nasional tersebut dinamai menurut dua gunungapi serta satu dataran tinggi yang menjadi tetenger utama lansekap kawasannya, yakni Bromo-Tengger-Semeru. Elok dan magisnya panorama kawasan taman nasional tadi terekam dalam aneka foto dan video yang diambil dari Puncak Gunung Penanjakan atau dari Seruni Point. Di belakang pemandangan berisi jajaran megah Lautan Pasir, Kaldera Tengger Purba, Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi, dan Gunung Widodaren, ada julangan gagah Gunung Semeru menyembul dari garis cakrawala. Gunung Semeru sangat ikonik bagi masyarakat Jawa Timur, bahkan bagi orang-orang Jawa selebihnya. Gambarnya ikut menghiasi lambang Kabupaten Lumajang dan Polda Jawa Timur. Nama gunungapi tersebut dipinjam pula sebagai nama salah satu kereta api eksekutif dan compartment suite yang melayani rute Jakarta-Surabaya via Cirebon dan Purwokerto. Gunung Semeru selalu pula menarik antusiasme para pendaki. Di tengah mendaki Gunung Semeru pada Desember 1969, aktivis muda Angkatan 66, Soe Hok Gie, meninggal dunia karena menghirup gas beracun. Antusiasme para pendaki terhadap Semeru terabadikan dalam beberapa produk budaya pop Indonesia. Contohnya adalah film 5 Cm yang edar 2012 dan merupakan adaptasi cerita novel berjudul sama karya Donny Dhirgantoro terbitan 2005. Lalu, ada juga lagu Mahameru milik band Dewa 19 yang edar pada 1994. Toponim Semeru ternyata hasil impor dari India, tepatnya meminjam nama dari Sumeru, gunung tinggi yang dalam berbagai mitologi Hindu-Buddha disebutkan menempati tengah Bumi. Di India, memang ada juga gunung bernama Sumeru Parbat setinggi 6.350 meter yang berada di region Gangotri Glacier di Garhwal Himalaya, Uttarakhand, India. Sumeru ini dikelilingi oleh Kedarnath alias Kedar Dome di utara, Kharchakund di barat, juga Mandani dan Yanbuk di selatan.
5. Abhayagiriwihara Ini adalah nama kuno alias nama asli Kompleks Percandian Ratu Boko yang berdiri dekat perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Rujukan sumber sejarah bahwa Percandian Ratu Boko bernama asli Abhayagiriwihara adalah Prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 706 Saka atau setara dengan 792 Masehi, peninggalan Kemaharajaan Medang atau Mataram Kuna. Peruntukan awal Abhayagiriwihara alias Percandian Ratu Boko tatkala dibangun sekitar dua belas abad lalu adalah sebagai biara para pendeta Buddha. Belakangan ada pula beberapa bangunan keagamaan Hindu menyusul dibangun di sana. Toponim Ratu Boko yang dipakai saat ini memang sebenarnya hasil penamaan belakangan. Itu khususnya terjadi pada abad-abad setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu Buddha. Fenomena demikian antara lain terdeteksi dan terekam dalam catatan Thomas Stamford Raffles ketika menjabat sebagai Letnan Gubernur Jawa. Cerita-cerita tutur Jawa, berikut kronologi dan silsilah di dalamnya, memang pernah lama dianggap sebagai arustama “sejarah”. Fenomena berabad tersebut baru melemah dan akhirnya bisa diminimalisasi signifikan setelah ada arustama baru rekonstruksi sejarah secara lebih ilmiah sejak sekitar 130 tahun terakhir dengan berpedoman kepada prasasti-prasasti serta manuskrip kuno. Penamaan Ratu Boko untuk kompleks situs candi di perbukitan di sebelah selatan Prambanan itu merujuk kepada suatu legenda tentang pernah adanya raja bernama tersebut yang konon bertakhta pada sekitar tahun 900-an Tarikh Saka. Negeri kerajaan yang diperintah Ratu Boko bernama Brambanan alias Prambanan dan meliputi wilayah Yogyakarta. Nama Abhayagirivihara sebagai nama asli Percandian Ratu Boko semasa Medang ternyata adalah toponim impor yang dipinjam dari nama suatu vihara Buddha dengan nama serupa di Anuradhapura, Srilangka. Pendirian Abhayagirivihara di atas perbukitan selatan daerah Prambanan pun diinspirasi oleh keberadaan Abhayagirivihara di Srilangka. Kompleks Abhayagirivihara di Srilangka diperkirakan hasil pembangunan pada abad 2 atau 1 Sebelum Masehi. Memasuki abad 1 Masehi, Abhayagirivihara di Srilangka ini lantas meraih kemasyhuran hingga berbagai negara dan bangsa di seberang lautan dari Srilangka.
6. Keling/Kalingga/Holing Catatan kuno pihak Tiongkok semasa Dinasti Tang (618 – 906 M) mengabarkan tentang keberadaan suatu negeri kuno di Jawa bernama Holing. Toponim sepencatatan pihak Tiongkok itu diyakini diucap dan ditulis di antara orang-orang Jawa sebagai Kalingga atau Keling. Dalam catatan pihak Dinasti Tang, Holing alias Kalingga alias Keling berkirim utusan ke Tiongkok sebanyak empat kali, yakni di antara 627 – 649, 666, 767, 768, dan 813 atau 815 M. Persembahan bawaan duta asal Kalingga kepada kaisar antara lain berupa empat budak orang jenggi, juga burung-burung, termasuk burung kakatua yang bermacam-macam warnanya. Holing alias Kalingga menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak, gading, juga garam yang dihasilkan dari suatu gua. Penduduk menghasilkan minuman keras dari menyadap bunga kelapa atau bunga aren. Masyarakatnya sudah mengenal penggunaan aksara serta ilmu perbintangan. Ketika makan, orang-orang Kalingga memakai tangan secara langsung, tidak menggunakan sumpit atau sendok. Masih menurut catatan Dinasti Tang, pada 674 Masehi yang menjadi penguasa Holing alias Kalingga adalah seorang perempuan bernama Hsimo. Dalam pengucapan asli orang-orang di Jawa, nama ratu tersebut adalah Sima. Ratu tersebut adalah seorang yang sangat tegas adil sebagai pemimpin negara. Rakyat di negerinya tak ada yang berani mencuri karena siapa pun yang menjadi mencuri akan dijatuhi hukuman mati. Wilayah Kalingga diperkirakan meliputi antara sekitar Pekalongan hingga sekitar Jepara atau Semenanjung Muria. Sekarang pun, ada suatu kecamatan di Semenanjung Muria dan terletak di sebelah utara Gunung Muria, secara administratif termasuk Kabupaten Jepara, memakai nama Keling, turunan dari kata Kalingga, nama negerinya Ratu Sima. Kalinga ternyata adalah toponim impor asal India. Pernah ada kerajaan kuno yang memakai nama Kalinga. Wilayah kerajaan kuno secara historis ada di Pesisir Timur Semenanjung Anakbenua India, juga terletak di antara aliran Sungai Gangga serta Sungai Godavari. Kerajaan Kalingga ini dicatat dalam sejarah pernah mengalami peperangan brutal pada 261 SM tatkala mereka harus menghadapi kampanye penaklukan Maharaja Ashoka. Dalam teritori negara India modern, bekas kerajaan Kalinga kurang-lebihnya meliputi keseluruhan negara bagian Odisha serta belahan utara dari negara bagian Andhra Pradesh.
7. Gomati Ini adalah nama sebuah sungai atau tepatnya kanal yang disebutkan dalam Prasasti Tugu, dari sekitar abad ke-5 Masehi, yang dikeluarkan atas titah Raja Purnawarman, penguasa Tarumanegara. Prasasti Tugu batu bulat telur setinggi sekitar semeter. Kali pertama dilaporkan keberadaannya pada 1879 sebagai temuan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu. Kini itu termasuk ke dalam Kecamatan Koja di Jakarta Utara. Dalam kenangan warga Kampung Batutumbuh, Prasasti Tugu awalnya adalah sebagai suatu bongkah batu yang terpendam di samping sebatang pohon laban nan besar dan tinggi. Karena desakan akar pohon, bongkahan batu prasasti lama-lama terangkat naik. Fenomena terangkat naiknya batu di samping pohon laban itu adalah pula yang memunculkan toponim Batutumbuh bagi kampung mereka. Karena lokasi penemuan prasasti ada di dekat aliran Kali Cakung, maka muncul tafsir bahwa Gomati yang disebut dalam Prasasti Tugu adalah nama kuno untuk Kali Cakung pada sekitar 1.500 tahun silam. Prasasti Tugu juga menyebut nama sungai yang lain, yakni Candrabhaga, yang menurut Poerbatjaraka dimungkinkam untuk disebut dan ditulis dalam versi penamaan Bhagasasi. Toponim dari bahasa Sangkerta itu kurang lebih bermakna sungai yang disinari rembulan serta mengalirkan kemakmuran. Gomati dan Candrabhaga adalah dua sungai yang pernah mengalami pekerjaan penggalian yang diperintahkan oleh Raja Purnawarman. Kembali merujuk kepada pendapat Poerbatjaraka, Bhagasasi adalah akar toponim Kali Bekasi maupun daerah Bekasi yang ada hingga sekarang. Sampai sekarang, Kali Cakung dan Kali Bekasi memang terbilang memiliki daerah aliran sungai yang bertetangga. Toponim Gomati yang pernah disandang Kali Cakung belasan abad lalu ternyata adalah hasil meminjam dan impor dari India. Sampai sekarang ada sungai panjang di Negara Bagian Uttar Pradesh di India menyandang nama Gomati. Orang-orang di India juga mengenalnya dalam versi nama Gomti maupun Gumti. Panjangnya bahkan mencapai 960 kilometer. Dengan panjang hampir seribu kilometer, Gomati di India berlipat-lipat lebih panjang dari Gomati pada zaman Tarumanegara yang cuma sepanjang 12 kilometer ataupun Kali Cakung saat ini yang sepanjang 40 kilometer.
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |