ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Di Balik Hidup Ningrat Sunan Pakubuwono X

12/11/2022

2 Comments

 
Picture
“Harta, Takhta, Wanita,”
​
tiga hal ini erat kaitannya dengan stigma negatif dalam Masyarakat Jawa karena dimaknai sebagai tiga godaan terbesar manusia. Namun, tiga tadi di tangan Susuhunan Pakubuwono X, raja Kasunanan Surakarta 1893-1939, terbukti dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan kewibawaan dan martabat raja. Apa lagi, Pakubuwono X hidup serta memerintah Surakarta tatkala Jawa berada di bawah mantapnya kolonialisme Belanda. 
Soal harta, Sunan Pakubuwono X dikenal dengan raja yang bergelimang kemewahan. Beliau sering tampil dengan kostum glamor, yakni mengenakan baju kebesaran lengkap dengan medali penghormatannya dari kerajaan sahabat. Beliau juga gemar bersolek dengan dandanan yang trendi. Ini semua dimaksudkannya untuk menunjukkan kepada kawulanya bahwa dirinya seorang pimpinan kerajaan serta kepada bangsa barat bahwa dirinya memiliki status kehormatan dari kerajaan dan negara lain.

Sang Susuhunan juga gemar mengoleksi benda-benda antik seperti cermin, jam tangan, koin, keris, gelas kristal, batik, kereta, mobil, dan sebagainya. Salah satu koleksinya yang paling berharga adalah Mobil Benz Victoria Phaeton, cikal bakal Mercedes Benz saat ini. Mobil yang dinamai Kanjeng Kiai Maruta tersebut dipesan tahun 1894 dengan harga 10.000 gulden, kurang-lebih setara 70 juta rupiah saat ini. Mobil buatan Jerman tersebut sampai Surakarta pada tahun 1896 dan menjadi mobil pertama di Jawa maupun Hindia Belanda. Jadi ya bisa disebut sebagai mobil pertama yang menggelinding di Indonesia.

Walau hidup bergelimang kemewahan, Sunan Pakubuwono X dikenal sebagai sosok yang dermawan. Kerap ia membagi-bagikan hadiah kepada kerabat serta menyebar uang bagi rakyat tatkala berpergian dengan kereta kudanya.

Soal takhta, sudah tidak diragukan lagi bahwa beliau bertakhta sebagai raja yang memiliki pengaruh besar bagi rakyat Surakarta maupun bagi masyarakat Jawa pada umumnya. Sejak kecil, beliau digadang-gadang menjadi raja besar sehingga diasuh dan dididik secara khusus. Pada usia 3 tahun, beliau telah diangkat sebagai putra mahkota. Menariknya, keistimewaan tersebut tidak membuatnya angkuh. Beliau justru memiliki pemikiran yang mampu menyesuaikan tuntutan zaman.

Contohnya dalam hal perjuangan melawan kolonialisme. Beliau tidak melakukan konfrontasi terbuka (peperangan) seperti kakeknya dengan pemerintah kolonial Belanda. Sunan Pakubuwono X memilih menjalankan kebijakan dari dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, beliau terlihat “taat” menghadapi dikte dan aturan pemerintah kolonial Belanda. Sementara di sisi lain, Sunan Pakubuwono X mendukung pergerakan nasional secara finansial maupun melalui pemikiran yang visioner seperti kunjungan politik ke beberapa daerah yang dibungkus dengan dalih kunjungan wisata.

Terkait wanita; selama hidupnya, Sunan Pakubuwono X dicatat memiliki 41 orang pendamping. Dua diantaranya berkedudukan sebagai permaisuri, yakni Bendara Raden Ajeng Soemantri (putri KGPAA Mangkunegoro IV) yang bergelar Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwono dan Raden Ajeng Mur Soedarinah (putri Sultan Hamengkubuwono VII) yang bergelar Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Tidak semua istrinya melahirkan putra/putri, tetapi selama hidupnya Sunan Pakubuwono X dikaruniai 33 putra dan 30 putri. Menariknya sebagai ayah dan raja, Sunan Pakubuwono X mendorong seluruh putra/putrinya untuk  bersekolah dan berorganisasi mendukung pergerakan nasional. Alhasil, beberapa putranya tampil sebagai tokoh nasional seperti G.R.M. Sudiro (G.P.H. Suryohamijoyo) yang menjadi anggota BPUPKI dan PPKI, serta G.R.M. Subandono (G.P.A. Djatikoesoemo) yang menjadi Let.. Jen. TNI dan Menteri Perhubungan Darat, PTT, dan Pariwisata. Lebih dari itu, Sunan Pakubuwono X juga  membangun sekolah untuk kerabat istana dan sekolah untuk rakyat. Mereka pun didorong untuk berorganisasi dan menerbitkan media massa untuk mendukung pergerakan nasional.
​
Uraian di atas membuktikan bahwa di balik kehidupan “duniawi”, Sunan Pakubuwono X ternyata beliau memiliki tujuan luhur bagi masa depan bangsa. Harta, takhta, dan wanita yang beliau miliki menjadi visual dari pemikiran besarnya. Pencapaian demi pencapaian beliau raih: mulai dari keberhasilannya membakukan aturan dan tradisi keraton (kebudayaan Jawa), menghindari konfrontasi terbuka dengan Belanda yang merugikan kehidupan rakyat, dan menunjukkan kewibawaannya sebagai raja yang memberikan pengaruh positif bagi keluarga dan rakyatnya. Bahkan upayanya mendukung pergerakan nasional berbuah manis dengan kemerdekaan bangsa Indonesia pada 1945.  RESTU A RAHAYUNINGSIH (Peneliti Museum Ullen Sentalu)

 
REFERENSI:
Brotodiningrat. Serat Darindro Putra: Serat Putra Wayah Buyut Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Hingkang Kaping X. Surakarta.
Karno, R.M. Riwayat dan Falsafah Hidup Ingkang Sinoehoen Sri Soesoehoenan Pakoeboewono ke-X: 1893-1939. Hasil penuturan dan dokumentasi B.R.A. Mooryati Sudibyo (cucu Sunan Pakubuwono X), 1990.
Sumodiningrat, Gunawan dan Ari Wulandari. 2014. Pakubuwono X: 46 Tahun Berkuasa di Tanah Jawa. Yogyakarta: Narasi.
 
2 Comments
Andri H link
15/12/2022 02:21:20 pm

Apa betul budaya "ngemis" dilahirkan dari banyaknya rakyat waktu itu yang menadahkan tangan ditepi jalan tiap hari kamis saat raja nyebar koin sebagai bentuk kedermawaannya?

Reply
NaufalZuhri
21/2/2025 01:35:12 pm

Terdapat beberapa catatan sejarah yang menyebutkan bahwa tradisi "ngemis" atau mengemis di Jawa, khususnya di Surakarta, memiliki kaitan dengan kebiasaan raja Surakarta, Pakubuwana X, yang menyebarkan koin sebagai bentuk kedermawaannya.

Pada hari Kamis, raja Pakubuwana X akan menyebarkan koin-koin kecil kepada rakyat yang berkumpul di tepi jalan. Kebiasaan ini kemudian menjadi tradisi dan membuat banyak orang berkumpul di tepi jalan setiap hari Kamis untuk menadahkan tangan dan menerima koin-koin tersebut.

Namun, perlu diingat bahwa tradisi "ngemis" ini tidak hanya terjadi di Surakarta, tetapi juga di daerah lain di Jawa. Selain itu, tradisi ini juga memiliki akar sejarah yang lebih kompleks dan tidak hanya terkait dengan kebiasaan raja Pakubuwana X saja.

Dalam beberapa catatan sejarah, disebutkan bahwa tradisi "ngemis" ini juga terkait dengan kebiasaan masyarakat Jawa yang memiliki tradisi gotong royong dan saling membantu. Selain itu, tradisi ini juga memiliki kaitan dengan kepercayaan masyarakat Jawa tentang pentingnya berbagi dan memberikan sedekah kepada orang lain.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tradisi "ngemis" di Jawa memiliki akar sejarah yang kompleks dan tidak hanya terkait dengan kebiasaan raja Pakubuwana X saja, tetapi juga memiliki kaitan dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa.

Reply



Leave a Reply.

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak