Ini bisa dicek mulai dari ke para pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan tempat penyelenggaraan makrab, penyuka hidangan jadah tempe dan sate kelinci, penghobi olahraga bersepeda yang mencari jalur cari keringat pada akhir pekan, pencari suntikan adrenalin via tur jip di jalur tilas erupsi Merapi, peminat trekking, pemburu spot swafoto, dan tentu saja pasangan yang berpacaran.
Jika merunut ke dalam linimasa sejarah Jawa, maka tempat yang sekarang kita sebut sebagai Kaliurang mulai mengecambah sebagai destinasi wisata ialah sejak medio abad XIX, hampir 150 tahun lalu. Penandanya ialah ketika pada 1885 Pangeran Adipati Mangkubumi, pemegang lungguh atas daerah Pakem, sekaligus adik laki-laki seibu dari Sultan Hamengkubuwana VII, mendirikan suatu pesanggrahan di dekat Tlogo Putri. Bangunan tersebut telah lama tak lagi tegak. Lokasi tapaknya kini menjadi bagian dari lahan parkir kendaraan. Namun, semasa pesanggrahan tersebut masih tegak, tak hanya Pangeran Mangkubumi sekeluarga yang memanfaatkanya untuk bertetirah. Para bangsawan lain dari Yogyakarta ternyata tertarik juga untuk ikut merasakan segarnya hawa gunung di tempat peristirahatan itu. Bahkan Sultan Hamengkubuwuna VII tak pula ketinggalan. Konsentrasi Vila-Vila Mulai awal dekade 1920-an, Kaliurang pada akhirnya lahir ke dalam bentuk dasar yang dikenal orang saat ini, yakni daerah konsentrasi vila-vila peristirahatan. Keluarga-keluarga kaya dari Kota Yogyakarta serta seputarannya satu demi satu mendirikan vila mereka di Kaliurang. Maka, dalam tempo sedasawarsa saja, Kaliurang sudah dipadati bangunan-bangunan vila aneka gaya serta ukuran. Tak ketinggalan juga terbangun jaringan jalan yang mengular di antara vila-vila tadi. Hingga 2010 tercatat ada 53 vila dan bangunan lainnya, atau setidaknya tapak bekas bangunannya, yang merupakan hasil pembangunan era Kolonial Belanda, dekade 1920-an dan 1930-an. Memasuki dekade 1930-an, Kaliurang kian meningkat pesonanya karena menyediakan fasilitas olahraga moderen lagi keren untuk ukuran zaman tersebut. Itu berupa kolam renang yang berjumlah dua buah, juga tenisbaan alias lapangan tenis yang jumlahnya tiga buah. Kolam renang pertama adalah Tlogo Putri, dekat tapak bekas pesanggrahan Pangeran Adipati Mangkubumi. Kolam renang kedua adalah Tlogo Nirmolo yang sekarang sekadar menjadi area parkir objek wisata Turgo-Plawangan dan Goa Jepang. Dua kolam renang yang berihwal dari pembangunan di zaman Belanda tersebut sudah tidak berfungsi. Tlogo Nirmolo berhenti berfungsi pada 1994 karena turut terdampak semburan Wedhus Gembel dari erupsi Merapi tahun tersebut. Tlogo Putri menyusul tidak beroperasi pada 2011 karena mata air dan bangunannya terdampak oleh Erupsi Merapi 2010. Pun dari sekitar limat tahun sebelumnya Tlogo Putri telah pula mengalami penurunan angka pengunjung yang signifikan, seiring maraknya keberadaan berbagai kolam renang yang lebih baru dan moderen di Jogja, Sleman, serta Bantul. Tiga tenisbaan dari sekitar 1930-an, masing-masing di Jalan Astorenggo, Jalan Arga, dan Jalan Boyong, boleh dibilang sudah tidak ada yang berfungsi. Yang di Jalan Astorenggo telah lama berubah menjadi lapangan bola voli. Yang di Jalan Arga mengalami kerusakan akibat Erupsi Merapi 1994 dan setelahnya tak pernah dibangun ulang. Yang di Jalan Boyong telah dijebol pagar kawat sisi timurnya dan lantas dijadikan lahan parkir mobil pengunjung Kaliurang. Selain perkara dampak bencana alam dan tuntutan tambahan lahan untuk parkir kendaraan, tak berlanjutnya penggunaan sebagai tempat berolahraga tenis tak lepas juga prestise olahraga permainan ini yang tak setinggi 100 atau 50 tahun lalu. (Yosef Kelik/Staf Divisi Riset Museum Ullen Sentalu) BERSAMBUNG KE BAGIAN II DARI SERIAL 2 TULISAN … Referensi
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |