ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Katrimakaken: Cara Pandang Lama tentang Pernikahan Putri Raja

8/5/2026

0 Comments

 
Picture
Dalam catatan silsilah dalam lingkup Kasultanan Yogyakarta, Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat yang dihimpun Kanjeng Pangeran Hario (KPH) Mandoyokusumo pada 1988, ada istilah khusus untuk menyebut pernikahan para putri raja. Istilah tersebut adalah katrimakaken. Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah “dihadiahkan kepada …” atau “dipercayakan kepada …”

Menghadiahkan atau Memercayaka

​Istilah katrimakaken digunakan pencatat silsilah saat putri raja menikah dengan pihak berstatus kebangsawanan lebih rendah dari raja, pangeran adipati, serta pangeran senior, yaitu mereka yang berstatus pangeran, tumenggung, bupati, dan seterusnya. 
​
Tatkala putri raja dinikahkan dengan bangsawan berstatus pangeran, tumenggung, atau bupati, maka dalam cara pandang lama di kraton-kraton Jawa, raja dianggap menghadiahkan atau memercayakan putrinya tersebut kepada sang bangsawan. Status bangsawan sang putri raja tetap dipandang lebih tinggi dari suaminya. Menurut Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat, istilah katrimakaken tercantum di banyak bagian isi buku, terutama bab Sultan Hamengkubuwana I hingga Sultan Hamengkubuwana VII. Hal tersebut terjadi karena kebiasaan raja di masa lalu yang lazim memiliki banyak istri, baik permaisuri maupun selir sehingga raja memiliki pula banyak anak laki dan anak perempuan.

GKR Ayu

​Contoh Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Ayu, lahir dari Permaisuri II Sultan Hamengkubuwana VI bernama Gusti Kangjeng Ratu Sultan. Terlahir sebagai anak  urutan ke sepuluh dari total dua puluh tiga, sang putri bercerai dari Pangeran Adipati Paku Alam IV lalu menikah dengan Pangeran Ario Tjondronegoro IV, Bupati Demak.  Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat menulis dengan istilah katrimakaken. GKR Ayu melahirkan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dari pernikahannya dengan Bupati Demak. Setelah dewasa, sang putra menjabat Bupati Jepara dan mempunyai putri Raden Ayu Kartini, Pahlawan Nasional Indonesia dan Pelopor Emansipasi Perempuan.                                                                                                                                                                   

BRAyG Pembayun

​Contoh lain Bendara Raden Ayu Gusti Pembayun terlahir bernama Bendara Raden Ayu Timur, anak ketiga Sultan Hamengkubuwana VII dari garwa ampeyan (selir) Bendara Raden Ayu Retnoningsih. Ia menikah dengan Raden Tumenggung Sindureja, Wedana Hageng Prajurit Kraton Yogyakarta, dalam Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat tertulis dengan istilah katrimakaken. 

Kadhaupaken

Pada pertengahan era tahta Sultan Hamengkubuwana VIII, ada satu istilah selain katrimakaken, yaitu kadhaupaken. Ada pergeseran rasa Bahasa, makna kadhaupaken adalah putri raja atas seizin raja dapat menikah dengan seorang pria tertentu. Hal ini terasa lebih menghargai putri yang dinikahkan karena tak semata dipandang sebagai objek penghadiahan, pun lebih menghargai pihak yang menjadi suami putri raja.

Istilah kadhaupaken lebih menggambarkan relasi mutualistik antara orangtua mempelai perempuan, sang mempelai perempuan, dan mempelai pria. Tak lagi menonjolkan penegasan bahwa dalam pernikahan putri raja ada relasi patron-klien, yakni raja sebagai mertua adalah atasan dari suami putrinya.
​

Contoh putri raja yang pencatatan pernikahannya dalam silsilah telah memakai istilah kadhaupaken diantaranya Bendara Raden Ajeng Siti Sutyanti dan Bendara Raden Ajeng Siti Pandamsari. Mereka merupakan putri Sultan Hamengkubuwana VIII yang lahir dari garwa ampeyan Bendara Raden Ayu Retnohadiningrum. BRAj Siti Sutyanti menikah dengan Ir R Puspoharsono Jayaningrat kemudian bergelar Gusti Bendara Raden Ayu Puspoharsono Jayaningrat. BRAj Siti Pandamsari menikah dengan R Sumarman SH lalu bergelar Gusti Bendara Raden Ayu Sumarman. Mereka mendapat nama gelar dari Sultan Hamengkubuwana IX.

Krama Angsal

Satu hal yang perlu jadi catatan, jika putri raja menikah dengan bangsawan yang dipandang relatif sama tinggi derajatnya yakni raja, atau pangeran adipati, atau pangeran senior di kerajaan asalnya, maka istilah yang digunakan untuk mencatat pernikahan tersebut krama angsal. Pencatatan dalam silsilah terhadap pernikahan sang putri raja dengan suaminya memakai istilah krama angsal, yang artinya adalah “menikah dengan …”. Istilah yang dirasa lebih dapat menggambarkan kesetaraan mereka yang menikah.

Contoh para putri raja yang pencatatan pernikahannya dalam silsilah memakai istilah krama angsal adalah Gusti Kangjeng Ratu Hangger, Gusti Raden Ajeng Mursudariyah, dan Bendara Raden Ajeng Murjalitarinah. Mereka bertiga merupakan putri Sultan Hamengkubuwana VII dari ibu berbeda. GKR Hangger lahir dari Garwa Padmi II, GKR Hemas; GRAj Mursudariyah lahir dari Garwa Padmi III, GKR Kencana;  BRAj Murjalitarinah lahir dari garwa ampeyan BRAy Retnaliringhasmara.

GKR Hangger menikah dengan Kangjeng Gusti Pangeran Harya Kusumayuda yang bernama muda Gusti Raden Mas Abimanyu, anak laki-laki urutan kedua dari raja Surakarta, Susuhunan Pakubuwana X. Pangeran Kusumayuda saat itu adalah salah satu pangeran senior dan termasuk kandidat kuat ahli waris takhta selain kakak beda ibu, Gusti Pangeran Harya Hangabehi.

GRAj Mursudariyah menikah untuk menjadi permaisuri Pangeran Adipati Arya Prangwadana yang kemudian bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII. Sultan Hamengkubuwanan VII lantas memberi gelar Gusti Kangjeng Ratu Timur untuk GRAj Mursudariyah.

Bendara Raden Ajeng Murjalitarinah menikah GRM Soedjana yang kemudian bergelar Gusti Pangeran Harya Purbanegara, anak ke-23 dari 63 anak Susuhunan Pakubuwana X. Setelah menikah, Bendara Raden Ajeng Murjalitarinah berganti gelar menjadi Gusti Bendara Raden Ayu Purbanegara.

Istilah krama angsal pun dipakai di lingkungan Kasunanan Surakarta untuk menyebut pernikahan semua anak raja setelah era Kemerdekaan. Serat Narindro Putro tulisan Gusti Raden Ayu (GRAy) Brotodiningrat pada 1985 tentang catatan silsilah para anak-cucu Susuhunan Pakubuwana X telah memakai istilah krama angsal untuk pencatatan pernikahan semua putra dan putri raja lahir dari permaisuri maupun selir. Hal ini menandakan bahwa semua kraton Jawa setelah Kemerdekaan memandang perlu memerhalus penggunaan istilah, salah satunya pernikahan para anak raja. Prosesnya agaknya dapat dibandingkan dengan yang terjadi di Kasultanan Yogyakarta. Sebelum kemerdekaan Indonesia, Sultan Hamengkubuwana VIII pada pertengahan era berkuasanya, telah menggunakan istilah yang lebih egaliter. Pernikahan yang berlangsung sudah tak lagi eksplisit digambarkan sebagai tindakan raja memberi hadiah kepada menantunya. Kedudukan tinggi raja tak lagi diberi penegasan kentara. [Yosef Kelik Prirahayanto (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak