Sepanjang masa kepemimpinan pada 1896 – 1916, Mangkunegara VI lekat dengan berbagai kebijakan efisiensi dan pembaharuan. Ia bahkan sangat pantas disebut sebagai teladan dalam hal demikian. Diwarisi Utang Besar Kadipaten Mangkunegaran yang diwarisi Mangkunegara VI dari mendiang sang kakak, Mangkunegara V, adalah suatu praja karut-marut. Kadipaten yang pada era Mangkunegara IV aktif berbisnis agrikultur hingga real estat, terlilit utang sebesar 2 juta Gulden. Beberapa tanah milik Mangkunegaran digadaikan, berupa dua lahan luas di Semarang, yakni tambak di Terboyo dan banyak kavling rumah sewa di Pindrikan. Berkaitan dengan utang besar tersebut, Mangkunegaran diharuskan menerima supervisi ketat dari seorang pejabat superintendent yang ditempatkan Pemerintah Kolonial Belanda. Adipati yang Sangat Hemat Mangkunegara VI secara pribadi adalah sosok yang sangat hemat. Mengutip paparan Krisnina Maharani A Tanjung dalam 250 Tahun Pura Mangkunegaran halaman 81-82, Mangkunegara VI memiliki prinsip hidup terpuji yang dalam bahasa Jawa berbunyi: “Alampah sarwa prasaja, kumandel dhateng kekiyataning penggalih tuwin sarira piyambak, tumeneng ing sesanggeman, lumuh lampah lelamisan, tata titi, tetep dhateng wewatesan, gemi, ngirit kanthi tanduk pamisesa.” Yang secara bahasa Indonesia berarti: “Hidup sederhana, percaya kepada kekuatan pikiran kita sendiri, menepati janji, menghindari sikap pura-pura, teliti, disiplin, mematuhi peraturan, hemat, tuntas dalam melakukan pekerjaan.” Menurut pemahamannya, sikap hidup hemat dapat bermanfaat menjadi salah satu kunci mengentaskan Kadipaten keluar dari krisis. Alhasil ia mengimplementasikannya dalam berbagai kebijakan pengelolaan praja. Beberapa langkah penghematan Mangkunegara VI demi efisiensi keuangan Mangkunegaran benar- benar diterapkan tanpa kompromi dan disiplin. Begitu menjabat Pangeran Adipati, Mangkunegara VI menjadikan prinsip hidup hemat, disiplin, dan penuh kerja keras sebagai pedoman pengelolaan perekonomian dan kehidupan Praja Mangkunegaran. Ia membuat aneka terobosan yang disemangati visi dan etos tinggi. Menunjukkan bahwa ia memang mumpuni dalam memimpin, berpemikiran tajam, dan maju. Pemotongan Pepanci Langkah efisiensi model Mangkunegara VI adalah pemotongan pepanci (uang jatah bulanan atau gaji) dan pembakuan besarannya untuk seluruh kerabat dan narapraja Mangkunegaran. Sang Adipati meneladankan dengan tindak pemotongan gajinya sendiri. Mengutip Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896 – 1944 halaman 125-126, Mangkunegara VI menentukan jatah pepanci-nya 3.000 Gulden. Artinya, ia hanya mendapat 60% pepanci Mangkunegara V yang sudah menerima 5.000 Gulden atau hemat 2.000 Gulden. Untuk pepanci istrinya, Mangkunegaran VI sekadar menetapkan 200 Gulden. Sedangkan pada masa Mangkunegara V, istrinya menerima 500 Gulden. Kadipaten mendapat efisiensi 300 Gulden. Masih merujuk pemaparan Wasino, besaran pepanci untuk para kerabat Mangkunegaran pun ditentukan secara baku oleh Mangkunegara VI. Contoh untuk para putra-putri hingga garwa ampil atau selir dari Mangkunegara V yang masih tinggal di Pura Mangkunegaran. Setiap anak lelaki menerima pepanci 80 Gulden, setiap anak perempuan menerima pepanci 60 Gulden, lalu untuk garwa ampil menerima pepanci 10 Gulden. Mangkunegara VI juga tak lagi melanjutkan kebijakan kakaknya hal pemberian tunjangan tambahan di luar pepanci kepada para kerabat demi efisiensi. Pemotongan pepanci dan penghapusan tunjangan tambahan menjadi terapi kejut gaya hidup para kerabat Mangkunegaran. Mereka harus mengerem pengeluaran, diantaranya untuk pembiayaan gaya hidup mewah yang mau tidak mau harus ditinggalkan. Hal ini tak ayal membuat Mangkunegara VI dicap sebagai pemimpin pelit oleh banyak kerabat Mangkunegaran, terutama dari mereka yang menikmati longgarnya sistem pengelolaan keuangan era Mangkunegara V. Namun, Mangkunegara VI teguh dengan kebijakannya yang juga merupakan cara dia menularkan kesadaran kepada setiap pihak di Kadipaten bahwa praja memang sedang jatuh miskin. Sudah sewajarnya setiap anggota kerabat dan pegawai untuk serius berhemat dan bekerja keras agar Praja Mangkunegaran dapat keluar dari kesulitan ekonomi. BERSAMBUNG … Penulis: Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu) REFERENSI
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
March 2026
Categories |