ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • RM JODJANA
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Kebijakan Efisiensi Cerdas Mangkunegara VI Kala Krisis

14/3/2025

0 Comments

 
Picture
Pada 21 November 1896, Pangeran Harya Dayaningrat dilantik menjadi Pangeran Adipati Mangkunegara VI, empat bulan jelang genap usia 40 tahun menurut tarikh Masehi. Namun, kenaikan jabatan  ke posisi puncak  Praja Mangkunegaran  bukan hal yang berlama-lama bisa dirayakan. Pemilik nama muda Raden Mas Suyitno tersebut harus berhadapan dengan segunung problem berat nan rumit, menyangkut pertaruhan kelangsungan hidup Kadipaten.

Sepanjang masa kepemimpinan pada 1896 – 1916, Mangkunegara VI lekat dengan berbagai kebijakan efisiensi dan pembaharuan. Ia bahkan sangat pantas disebut sebagai teladan dalam hal demikian.

Diwarisi Utang Besar
Kadipaten Mangkunegaran yang diwarisi Mangkunegara VI dari mendiang sang kakak, Mangkunegara V, adalah suatu praja  karut-marut. Kadipaten yang pada era Mangkunegara IV aktif berbisnis agrikultur hingga real estat, terlilit utang sebesar 2 juta Gulden. Beberapa tanah milik Mangkunegaran digadaikan, berupa dua lahan luas di Semarang, yakni tambak di Terboyo  dan banyak kavling rumah sewa di Pindrikan. Berkaitan dengan utang besar tersebut, Mangkunegaran diharuskan menerima supervisi ketat dari seorang pejabat superintendent yang ditempatkan Pemerintah Kolonial Belanda.

Adipati yang Sangat Hemat
Mangkunegara VI secara pribadi adalah sosok yang sangat hemat. Mengutip paparan Krisnina Maharani A Tanjung dalam 250 Tahun Pura Mangkunegaran halaman 81-82, Mangkunegara VI memiliki prinsip hidup terpuji yang dalam bahasa Jawa berbunyi:
“Alampah sarwa prasaja, kumandel dhateng kekiyataning penggalih tuwin sarira piyambak, tumeneng ing sesanggeman, lumuh lampah lelamisan, tata titi, tetep dhateng wewatesan, gemi, ngirit kanthi tanduk pamisesa.”
Yang secara bahasa Indonesia berarti:
“Hidup sederhana, percaya kepada kekuatan pikiran kita sendiri, menepati janji, menghindari sikap pura-pura, teliti, disiplin, mematuhi peraturan, hemat, tuntas dalam melakukan pekerjaan.”
Menurut pemahamannya, sikap hidup hemat dapat bermanfaat menjadi salah satu kunci mengentaskan Kadipaten keluar dari krisis. Alhasil ia mengimplementasikannya dalam berbagai kebijakan pengelolaan praja. Beberapa langkah penghematan  Mangkunegara VI demi efisiensi keuangan Mangkunegaran  benar- benar diterapkan tanpa kompromi dan disiplin.  
​
Begitu menjabat Pangeran Adipati, Mangkunegara VI menjadikan prinsip hidup hemat, disiplin, dan penuh kerja keras sebagai pedoman pengelolaan perekonomian dan kehidupan Praja Mangkunegaran. Ia membuat aneka terobosan yang disemangati visi dan etos tinggi.  Menunjukkan  bahwa ia memang mumpuni dalam memimpin, berpemikiran tajam, dan maju.  

Pemotongan Pepanci
Langkah efisiensi model Mangkunegara VI adalah pemotongan pepanci (uang jatah bulanan atau gaji) dan pembakuan besarannya untuk seluruh kerabat dan narapraja Mangkunegaran. Sang Adipati meneladankan dengan tindak pemotongan gajinya sendiri. Mengutip Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896 – 1944 halaman 125-126, Mangkunegara VI menentukan jatah pepanci-nya 3.000 Gulden. Artinya, ia hanya mendapat 60%  pepanci Mangkunegara V yang sudah menerima 5.000 Gulden atau hemat 2.000 Gulden. Untuk pepanci istrinya, Mangkunegaran VI sekadar menetapkan 200 Gulden. Sedangkan pada masa  Mangkunegara V, istrinya menerima 500 Gulden. Kadipaten mendapat efisiensi 300 Gulden.
Masih merujuk pemaparan Wasino, besaran pepanci untuk para kerabat Mangkunegaran pun ditentukan secara baku oleh Mangkunegara VI. Contoh untuk para putra-putri hingga garwa ampil atau selir dari Mangkunegara V yang masih tinggal di Pura Mangkunegaran.  Setiap anak lelaki menerima pepanci 80 Gulden, setiap anak perempuan menerima pepanci 60 Gulden, lalu untuk garwa ampil menerima pepanci 10 Gulden. Mangkunegara VI juga tak lagi melanjutkan kebijakan kakaknya hal pemberian tunjangan tambahan di luar pepanci kepada para kerabat demi efisiensi.
Pemotongan pepanci dan penghapusan tunjangan tambahan menjadi terapi kejut gaya hidup para kerabat Mangkunegaran. Mereka harus mengerem pengeluaran, diantaranya untuk pembiayaan gaya hidup mewah yang mau tidak mau harus ditinggalkan.
Hal ini tak ayal membuat Mangkunegara VI dicap sebagai pemimpin pelit oleh banyak kerabat Mangkunegaran, terutama dari mereka yang menikmati longgarnya sistem pengelolaan keuangan era Mangkunegara V. Namun, Mangkunegara VI teguh dengan kebijakannya yang juga merupakan cara dia menularkan kesadaran kepada setiap pihak di Kadipaten bahwa praja memang sedang jatuh miskin. Sudah sewajarnya setiap anggota kerabat dan pegawai untuk serius berhemat dan bekerja keras agar Praja Mangkunegaran dapat keluar dari kesulitan ekonomi. BERSAMBUNG …
Penulis: Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)

REFERENSI
  • Hersapandi (1999). Wayang Wong Sriwedari: Dari Seni Istana Menjadi Seni Komersial. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia
  • Ricklefs, MC (2008). Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008. Jakarta: Serambi
  • Singgih, Roswitha Pamoentjak (1990). Partini: Recollections of a Mangkunagaran Princess. Jakarta: Djambatan
  • Tanjung, Krisnina Maharani A (2007). 250 tahun Pura Mangkunegar. Jakarta: Yayasan Warna Warni Indonesia
  • Wasino (2014). Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896 - 1944. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • RM JODJANA
  • Kajian
  • Kontak