Kudeta 1883 Contoh kerabat kraton Kasultanan Yogyakarta yang dihukum kéndhang adalah GPH Suryaningalaga serta ibunya, GKR Sekar Kedhaton (janda permaisuri dari mendiang Sultan Hamengkubuwana V). Menurut Roger A.C. Kembuan dalam Sejarah Kampung Pondol dan Komunitas Eksil Muslim di Kota Manado (2020), GPH Suryaningalaga serta GKR Sekar Kedaton diasingkan ke Manado karena mereka terbukti memberontak kepada Sultan Hamengkubuwana VII pada tahun 1883. Tentang upaya kudeta 1883 telah dicuplikkan kisahnya dalam unggahan “Kisah Permaisuri Raja yang Dihukum Kakebonaken”. kéndhang MenadoBerkait dengan kisah dihukum buang Pangeran Suryaningalaga dan ibunya, Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat memberi keterangan pada bagian silsilah pangeran tersebut memakai frase yang menyandingkan kéndhang dengan kata ‘Menado’, yaitu kéndhang Menado. Menado sendiri adalah versi pelafalan bahasa Jawa untuk toponim Manado dalam bahasa Indonesia. Kéndhang Menado berarti permintaan agar seseorang segera diusir ke Manado. Imbauan ini bertujuan untuk ‘pengasingan’ bagi orang-orang yang melanggar aturan atau ketetapan raja, kerabatnya, dan pemerintah Belanda. Kéndhang AmbonSelain kéndhang Menado, ada istilah bermakna setara yang juga termuat dalam Serat Raja Putra, yakni kakendangaken hing Ambon, diringkas sebagai kéndhang Ambon, yang artinya diasingkan ke Ambon. Contoh Bendara Pangeran Hario (BPH) Suryodipuro atau BPH Notobroto, yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Harya Rangga Purubaya. Ia merupakan anak urutan ke-17 dari Sultan Hamengkubuwana III dengan selir Mas Ajeng Medasih. Pengasingannya karena terlibat dalam Perang Jawa (1825-1830). Peter Carey dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (2014) menyebutkan bahwa banyak pangeran dari karajan atau keturunan Sultan Hamengkubuwana III yang mendukung Diponegoro di tahun 1825. [Restu A Rahayuningsih (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |