1825-1830Pencantuman keterangan lolos saking karaton terhadap Pangeran Diponegoro berkait erat dengan hal yang terjadi pada 1825 hingga 1830, yakni Perang Jawa. Lima tahun tersebut termasuk salah satu periode paling panas dan merusak dalam sejarah Jawa. Berikut paparan angka kerugian Perang Jawa menurut Peter Carey di Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), terbitan Penerbit Buku KOMPAS pada 2014. Data tersebut menunjukkan taksiran dua juta orang jatuh sengsara terpapar dampak peperangan. Pada 1830, dua juta orang merupakan sepertiga total penduduk Pulau Jawa. Mereka terdampak karena lahan-lahan pertanian terbengkalai dan matinya hewan-hewan ternak sebagai sumber penghidupan penduduk. Selama peperangan, dua ratus ribu penduduk lokal dan sekitar 15 ribu serdadu pihak Kolonial Belanda meninggal. Para serdadu berasal dari orang-orang Jawa dan orang-orang Nusantara lainnya. Mereka tewas langsung dalam pertempuran maupun terjangkit aneka penyakit selama perang. Perang Jawa ini juga menelan beaya besar dari pemerintah Kolonial Belanda, mencapai 25 juta Gulden, setara 2,2 miliar Dollar Amerika Serikat pada 2014. Dipandang Sebagai KramanDiponegoro jelas menempati status kunci dalam perang dahsyat tersebut, Sang Pangeran adalah pelopor sekaligus pemimpin utama perlawanan terhadap koalisi Kolonial Belanda, Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran. Perang Jawa lalu dikenal sebagai Perang Diponegoro. Di Gua Selarong dan di hadapan para pengikutnya, Diponegoro telah pula mengangkat dirinya sebagai Sultan Ngabdulkamid. Hal ini terjadi pada awal peperangan, tak lama setelah ia sekeluarganya harus menyingkir dari Dalem Tegalreja yang dibumihanguskan pihak prajurit Danurejan dan Kolonial Belanda. Pengangkatan diri sebagai Sultan secara jelas Diponegoro menantang legitimasi para penguasa kerajaan, Sultan Hamengkubuwana V di Yogyakarta, Susuhunan Pakubuwana VI di Surakarta, Pangeran Adipati Mangkunegara II di Mangkunegaran, juga Pangeran Adipati Pakualam I di Pakualaman. Tentu disertai rencana mendongkel mereka dari tahta masing-masing. Hal ini yang membuat Diponegoro dipandang sebagai tokoh pemberontak, atau kraman dalam bahasa Jawa oleh para pemegang tahta Dinasti Mataram maupun pemerintah Kolonial Belanda. Istilah lolos saking karaton menyiratkan pandangan Kraton Yogyakarta maupun istana-istana Jawa lain terhadap keputusan Diponegoro melakukan petualangan politiknya, hal yang dianggap sebagai tindakan menyempal dan membangkang. [Yosef Kelik Prirahayanto (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
April 2026
Categories |