Menyukai Wayang
Menurut Krisnina Maharani A Tanjung, Mangkunegara V kurang tertarik kepada dunia kesusasteraan. Namun, memiliki perhatian lebih kepada seni pertunjukan, terutama aneka jenis pertunjukan wayang. Segala macam wayang berdalang, yakni wayang kulit purwa, wayang gedhog, dan wayang klithik disukai oleh Mangkunegara V. Ia juga bersemangat menyelenggarakan pementasan wayang wong, yaitu seni pertunjukan wayang yang menurut Sri Mulyono diperkenalkan tradisinya di Mangkunegaran oleh Mangkunegara I sejak sekitar 17560-an. Tak berlebihan bila menyebut Mangkunegara V saat menjabat adipati merupakan seorang maesenas seni wayang. Menurut Hersapandi, Mangkunegara V bahkan berkontribusi meningkatkan mutu pertunjukan wayang wong Mangkunegaran. Ada inovasi pada tata busana wayang wong dengan memanfaatkan rujukan dari tata busana wayang kulit purwa serta penggambaran relief di Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu. Tata busana tersebut kemudian menjadi acuan perkembangan tata busana wayang wong gaya Surakarta baik di dalam maupun di luar istana dan terdokumentasikan dalam manuskrip Pratelan Busananing Ringgit Tijang. Mangkunegara V menitahkan pula pembangunan beberapa bangunan yang melengkapi kemegahan dan keindahan Pura Mangkunegaran., yaitu Gedung Kapedhak,Taman Ujungpuri, Balewarni, Pracimosono, Pantiwarno, dan Pantipurno. Ia memeriahkan Pantipurno dengan deretan berbagai sangkar yang berisikan aneka burung hasil pembelian dari luar negeri. Sedangkan Taman Ujungpuri dimanfaatkan sebagai tempat memamerkan aneka satwa hutan peliharaan sang Adipati. Masa Redup Mangkunegaran Dalam beberapa tahun kepemimpinan Mangkunegara V, Kadipaten Mangkunegaran limbung serta redup. Penghasilan praja menyusut drastis, kas kurang dari 30% dari perolehan. Kondisi tersebut dipicu oleh merosotnya harga beberapa komoditas agrikultur di pasaran dunia, yaitu gula pasir dan kopi arabika sebagai produk andalan ekspor Mangkunegaran. Pada masa tersebut beberapa negara Eropa sedang menggiatkan budidaya bit dan memproduksinya menjadi gula, sehingga gula pasir berbahan tebu mendapat tandingan di pasaran Dunia. Permintaan internasional turun drastis, harga gula tebu merosot tajam. Demikian pula nasib kopi arabika andalan ekspor Mangkunegaran terserang hama daun kopi yang terjadi di seantero Jawa sejak 1878. Di sisi lain, Mangkunegara V kurang memiliki kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan praja. Ia pun belum semumpuni sang ayah dalam bidang bisnis dan manajemen. Sering gagap memberi respon tepat ataupun terobosan signifikan saat menghadapi ekonomi sulit akibat merosotnya harga produk agrukultur di pasar global. Kegemaran Mangkunegara V menyelenggarakan berbagai pertunjukan seni berskala besar dan gaya hidup mewah merupakan penyumbang masalah inifisiensi keuangan praja. Besar belanja Mangkunegaran pun masih sama besar pada masa Mangkunegara IV. Akibat salah kebijakan ekonomi praja, membuat Tanah Tambak Terboyo dan Persil Pindrikan di Semarang harus digadaikan untuk menutup kekurangan gaji para pegawai dan keluarga Mangkunegaran. Praja masih terjerat utang 2 juta Gulden saat Mangkunegara V meninggal dunia pada 1896. Bahkan Mangkunegaran telah kehilangan otonomi dalam pengelolaan keuangan mereka sejak 1888. Keuangan praja terpaksa harus menerima supervisi ketat dari Pemerintah Kolonial Belanda, melalui penempatan seorang pejabat superintendent. Krisis ekonomi yang dialami Mangkunegaran dapat diatasi oleh Mangkunegara VI. Ia merupakan adik Mangkunegara V yang menerapkan program efisiensi ketat dan reformasi besar di Praja Mangkunegaran pada penghujung abad XIX hingga awal abad XX. [Penulis: Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)] REFERENSI
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2025
Categories |