ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Mangkunegara V: Maesenas Inovasi Wayang Wong yang Sayangnya Terhantam Krisis Ekonomi

4/9/2025

0 Comments

 
Picture
Setelah wafatnya Mangkunegara IV dalam usia 69 tahun pada 1881, kedudukan Pangeran Adipati di Mangkunegaran beralih ke putra sekaligus ahli waris utama, yakni Raden Mas Sunito yang kemudian bernama Pangeran Adipati Haryo Prangwedana. Ia dalam catatan sejarah dikenal bergelar resmi Pangeran Adipati Mangkunegara V. 
Menyukai Wayang
Menurut Krisnina Maharani A Tanjung, Mangkunegara V kurang tertarik kepada dunia kesusasteraan. Namun, memiliki perhatian lebih kepada seni pertunjukan, terutama aneka jenis pertunjukan wayang. Segala macam wayang berdalang, yakni wayang kulit purwa, wayang gedhog, dan wayang klithik  disukai oleh Mangkunegara V. Ia juga  bersemangat menyelenggarakan pementasan wayang wong, yaitu seni pertunjukan wayang yang menurut Sri Mulyono diperkenalkan tradisinya di Mangkunegaran oleh Mangkunegara I sejak sekitar 17560-an. Tak berlebihan bila menyebut Mangkunegara V saat menjabat adipati merupakan seorang maesenas seni wayang.

Menurut Hersapandi, Mangkunegara V bahkan berkontribusi meningkatkan mutu pertunjukan wayang wong Mangkunegaran. Ada inovasi pada tata busana wayang wong dengan memanfaatkan rujukan dari tata busana wayang kulit purwa serta penggambaran relief di Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu. Tata busana tersebut kemudian menjadi acuan perkembangan tata busana wayang wong gaya Surakarta baik di dalam maupun di luar istana dan terdokumentasikan dalam manuskrip Pratelan Busananing Ringgit Tijang.

Mangkunegara V menitahkan pula pembangunan beberapa bangunan yang melengkapi kemegahan dan keindahan Pura Mangkunegaran., yaitu Gedung Kapedhak,Taman Ujungpuri, Balewarni, Pracimosono, Pantiwarno, dan Pantipurno. Ia  memeriahkan Pantipurno dengan deretan berbagai sangkar yang berisikan aneka burung hasil pembelian dari luar negeri. Sedangkan  Taman Ujungpuri dimanfaatkan sebagai tempat memamerkan aneka satwa hutan peliharaan sang Adipati.

Masa Redup Mangkunegaran
Dalam beberapa tahun kepemimpinan Mangkunegara V, Kadipaten Mangkunegaran limbung serta redup.  Penghasilan praja menyusut drastis, kas kurang dari 30% dari perolehan.  Kondisi tersebut dipicu oleh merosotnya harga beberapa komoditas agrikultur di pasaran dunia, yaitu gula pasir dan kopi arabika sebagai produk andalan ekspor Mangkunegaran.

Pada masa tersebut beberapa negara Eropa sedang menggiatkan budidaya bit dan memproduksinya menjadi gula, sehingga gula pasir berbahan tebu  mendapat tandingan di pasaran Dunia. Permintaan internasional turun drastis, harga gula tebu merosot tajam. Demikian pula nasib kopi arabika andalan ekspor Mangkunegaran terserang hama daun kopi yang terjadi di seantero Jawa sejak 1878.
 
 
Di sisi lain, Mangkunegara V kurang memiliki kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan praja. Ia pun belum semumpuni sang ayah dalam bidang bisnis dan manajemen. Sering  gagap memberi respon tepat ataupun terobosan signifikan saat menghadapi ekonomi sulit akibat merosotnya harga produk agrukultur di pasar global. Kegemaran Mangkunegara V menyelenggarakan berbagai pertunjukan seni berskala besar dan gaya hidup mewah merupakan penyumbang masalah inifisiensi keuangan praja. Besar belanja Mangkunegaran pun masih sama besar pada masa Mangkunegara IV.

Akibat salah kebijakan ekonomi praja, membuat Tanah Tambak Terboyo dan Persil Pindrikan di Semarang harus digadaikan untuk menutup kekurangan gaji para pegawai dan keluarga Mangkunegaran. Praja masih terjerat utang 2 juta Gulden saat Mangkunegara V meninggal dunia pada 1896.  Bahkan Mangkunegaran telah kehilangan otonomi dalam pengelolaan keuangan mereka sejak 1888. Keuangan praja terpaksa harus menerima supervisi ketat dari Pemerintah Kolonial Belanda, melalui penempatan seorang pejabat superintendent.

Krisis ekonomi yang dialami Mangkunegaran dapat diatasi oleh Mangkunegara VI. Ia merupakan adik Mangkunegara V yang menerapkan program efisiensi ketat dan reformasi besar di Praja Mangkunegaran pada penghujung abad XIX hingga awal abad XX. [Penulis: Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)]
 
REFERENSI
  • Hersapandi (1999). Wayang Wong Sriwedari: Dari Seni Istana Menjadi Seni Komersial. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia
  • Mulyono, Sri (1975). Wayang: Asal-Usul, Filsafat, & Masa Depannya. Jakarta: Badan Penerbit ALDA
  • Ricklefs, MC (2008). Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008. Jakarta: Serambi
  • Tanjung, Krisnina Maharani A (2007). 250 tahun Pura Mangkunegar. Jakarta: Yayasan Warna Warni Indonesia
  • Wasino (2014). Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896 - 1944. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta

MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Kajian
  • Kontak