ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Nagarakretagama Bukanlah Satu-satunya Karya Prapanca

21/12/2024

0 Comments

 
Sebagai seorang pujangga, Prapanca tak hanya menghasilkan kakawin Desawarnana atau Nagarakretagama yang ditemukan kembali keberadaannya pada 1894 di Lombok. Bahwa Prapanca sejatinya juga menghasilkan beberapa kakawin lain dapat kita ketahui dari testimoni pribadi sang pujangga era Majapahit tersebut. Tertulis  pada pupuh 94 bait 3 Nagarakretagama.
Picture
Dengan merujuk sekaligus membandingkan dua macam transliterasi aksara Kawi ke alfabet Latin atas Nagarakretagama, yakni versi Ketut Riana pada 2009 yang diterbitkan sebagai buku oleh KOMPAS, juga versi Damaika Saktiani dkk pada 2019 yang diterbitkan sebagai buku oleh Narasi, maka bunyi selengkapnya pupuh dan bait Nagarakretagama yang tadi dimaksud adalah demikian:
Nirwya teki lawas niraśriṅ aṅikět kakawin awtu bhāṣa riṅ karas,
těmbenya śākābda piṅ rwa nika lambaṅ i telasika parwwāsagara
nāhan teki catūrtthi bhiṣma śaranantya nika sugata  parwwa warņnana
lambaṅ mwaṅ śākākala taṅ winaluyan gati nikan aměwěh turuṅ pěgat.

Untuk terjemahan bahasa Indonesia dari pupuh 94 bait 3 Nagarakretagama, rujukan dalam tulisan ini adalah perbandingan atas tiga macam alih bahasa. Tak hanya versi I Ketut Riana 2009 dan versi Damaika Saktiani 2019, tapi juga versi Slamet Muljana 1979.  Karena itu, terjemahan selengkapnya sekuen Nagarakretagama tersebut berbunyi:
"Sia-sialah selama ini dia terus-menerus menggubah syair, kata-kata puisi pada daun lontar
Yang pertama-tama Sakabda, yang kedua Lambang, setelahnya Parwasagara
Demikianlah itu yang keempat Bhisma Sarana, lalu Sugata Parwa Warnana
Lambang dan Sakakala masih akan lanjut ditulis sebab belum lengkap dan terputus"

Berpedoman kepada pengakuan pribadi Prapanca di atas tentang karya tulis yang telah dihasilkan maupun sedang dalam proses penyelesaiannya pada 1365 Masehi, kita mendapati bahwa sang pujangga penganut agama Buddha tersebut memiliki hingga lima karya selain Nagarakretagama, yakni:
  1. Sakabda/Sakakala
  2. Lambang
  3. Parwa Sagara
  4. Bhisma Sarana
  5. Sugata Parwa Warnana.

Pengerjaan Nagarakretagama--yang bangunan cerita utamanya adalah dokumentasi muhibah keliling negeri dari Maharaja Hayam Wuruk pada 1359—mengharuskan Prapanca menyetop  penulisan Lambang serta Sakabda/Sakakala. Tiga kitab lainnya yang juga disebut dalam pupuh 94 bait 3 Nagarakretagama, yakni Parwasagara, Bhismasaranantya, dan Sugata Parwa Warnnana dapat disimpulkan sudah paripurna ditulis sebelum 1365. 

Prapanca menilai Sakabda/Sakakala, Lambang, Parwa Sagara, Bhisma Sarana, dan Sugata Parwa Warnana berada pada tataran mutu yang tak setinggi Nagarakretagama. Meskipun, bila kita merujuk beberapa sekuen lain dari Nagarakretagama, yakni pupuh  17 bait 8 dan 9 serta pupuh 94 bait 4, ada suatu kesadaran diri, entah dari kekurangpercayaan diri atau sekadar kerendahan hati, tentang mutu Nagarakretagama yang dianggap kurang memenuhi standar terpuji keindahan susastra era Majapahit.

Tanda Tanya Besar
Berbeda dengan Nagarakretagama yang menjadi tersohor pada 130 tahun terakhir, hingga diakui sebagai bagian Memory of the World oleh UNESCO, nasib maupun keberadaan lima “saudaranya” sebagai buah karya Prapanca diliputi tanda tanya besar. Hingga kini, lebih diyakni bahwa Sakabda/Sakakala, Lambang, Parwa Sagara, Bhisma Sarana, juga Sugata Parwa Warnana, tiada yang kalis dari perubahan zaman karena kisruh ontran-ontran hingga runtuhnya Majapahit pada akhir abad XV dan awal abad XVI. Lima kitab itu telanjur punah dan masyarakat kini hanya dapat mengenang judul mereka, tanpa mengetahui isi lengkapnya.

Meski demikian, ada pendapat dari Poerbatjaraka lalu diteruskan oleh Slamet Muljana, bahwa dari lima karya Prapanca selain Nagarakretagama sejatinya masih ada yang selamat hingga ke zaman moderen ini. Kemungkinan karena sesuatu hal beberapa karya Prapanca non Nagarakretagama  justru dikenal masyarakat kini dalam judul lain, bukan seperti yang tertulis dalam  pupuh 94 bait 3 Nagarakretagama. Hal ini bisa terjadi karena tradisi penulisan era Jawa Kuna kental dengan praktik penggunaan paraban atau samaran untuk menyembunyikan identitas asli penulisnya. Pendapat demikian dapat dibaca dalam halaman 308 buku tulisan Slamet Muljana, Tafsir Sejarah Nagarakretagama, pada cetakan V- terbitan LKiS  2011, juga sebagai edisi baru dari buku terbitan Bharatara pada 1979.

Karya sastra kuno kadang dikenal dengan judul lain oleh khalayak modern. Hal ini merupakan bagian kompleksitas identifikasi dari  karya sastra kuno berkenaan dengan diskoverinya di zaman modern, juga tentang transliterasi dan penerjemahannya ke bahasa modern. Contoh dalam hal ini adalah Nagarakretagama. Keterangan  tambahan penyadur serta selera pribadi penemu ulangnya yang memberi judul sebagai Nagarakretagama , padahal judul asli dari penulisnya adalah Desawarnana.

Merujuk Slamet Muljana dalam bukunya, ada dua kitab kuno yang diduga Poerbatjaraka sebagai bagian buah karya Prapanca selain Nagarakretagama. Pertama adalah Nirartha Prakreta yang secara tradisional disebut sebagai karya pujangga Hanang Nirartha. Menurut Poerbatajaraka, kakawin ini mungkin sejatinya adalah Lambang karya Prapanca. Kedua adalah Kunjarakarna yang tertulis sebagai karya pujangga bernama Mpu Dusun. Menurut Poerbatjaraka, kakawin ini kemungkinan adalah Sugata Parwa Warnana. Namun, untuk membuktikan benar-salahnya dugaan Poerbatjaraka bukan perkara mudah. Hingga kini pun  masih kekurangan alat bukti. 
​
Masih menurut Muljana, TGT Pigeaud pernah mengoleksi dan mengidentifikasi suatu kakawin berjudul Saka Kala. Berdasar judul, kakawin tersebut mirip dengan karya Prapanca  berjudul Sakbda yang juga dikenal dengan Sakakala. Namun, Pigeaud sendiri tidak terlalu yakin bahwa Saka Kala koleksinya adalah Sakabda atau Sakakala karya Prapanca. Pigeaud lebih melihat Saka Kala koleksinya sebagai hasil penulisan dari zaman yang lebih muda yaitu setelah era Prapanca. [Yosef Kelik (Periset di Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak