Bukit bahan bahasan tersebut tepatnya bernama Jabalkat. Lokasinya di sisi selatan dari wilayah Kabupaten Klaten. Secara administratif, bukit tadi masuk Desa Paseban, Kecamatan Bayat. Garis perbatasan pemisah antara Klaten, sebagai salah satu kabupaten di Jawa Tengah, dengan Kabupaten Gunungkidul, sebagai salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah terhitung sangat dekat jaraknya dari Bukit Jabalkat.
Keberadaan Bukit Jabalkat memiliki keterkaitan erat dengan gliat dakwah Islam di Jawa sekitar abad ke-16. Pada sekitar 500 tahun silam itu, tersebutlah seorang tokoh legendaris yang menjalankan siar Islam di Jawa Tengah Bagian Selatan. Nama tokoh pendakwah legendaris itu Sunan Pandanaran, alias Sunan Pandan Arang, alias Sunan Tembayat, alias Sunan Bayat. Nama Pandanaran alias Pandan Arang mewakili gelar lama maupun wilayah kekuasan sang tokoh legendaris semasa masih menjabat sebagai bupati di daerah yang kini dikenal sebagai Semarang. Nama Tembayat alias Bayat mewakili daerah seputaran Bukit Jabalkat yang dipilih sang sunan sebagai pusat kerja dakwahnya, yang tidak lain adalah Kota Kecamatan Bayat di Kabupaten Klaten saat ini. Tatkala Sunan Tembayat alias Sunan Pandanaran wafat pada medio abad ke-16, raganya dikebumikan di puncak Bukit Jabalkat. Cungkup sederhana, tapi kokoh, yang menaungi makam Sunan Tembayat dikenal orang-orang dalam penamaan berbahasa Jawa Gedhong Inten (Gedung Intan). Keberadaan makam Sunan Tembayat di bagian puncaknya menjadilan Bukit Jabalkat suatu lokasi peziarahan yang terus ramai dikunjungi kaum Muslim tradisional Jawa hingga hari ini. Guna memudahkan akses peziarah untuk mendaki maupun menuruni Jabalkat, lereng bukit tersebut dibentangi dengan suatu jalur beton berundak-undak yang memiliki sekitar 250 anak tangga. Sebagai sebentuk nama tempat, Jabalkat sejatinya dikenal Muslim Jawa dari menyerap toponim berbahasa Arab, Jabal Qaf. Sumber pilihan toponim serapan ini memiliki sisi unik. Jabal Qaf merupakan cerminan dan bahkan sepotong awetan pemahaman geografis ala orang-orang Timur Tengah dari sekitar medio milenia I Masehi. Keunikan dalam pemahaman geografis dari sebelum 1.300 tahun silam tersebut adalah di dalamnya masih adanya bauran kental hal-hal mitologis. Jabal Qaf yang nantinya terserap ke bahasa Jawa menjadi Jabalkat diyakini dalam kosmologi tradisional di seputaran Timur Tengah maupun dalam ajaran Islam sebagai suatu barisan gunung zamrud yang memagari tepian terluar dari Bumi. Toponim bernuansa mitologis demikian kemudian ternyata malah dipinjam untuk disematkan kepada suatu bukit tak seberapa tinggi di Jawa Tengah Bagian Selatan. Yang pasti fenomena demikian tentunya sekaligus menunjukkan tentang semangat dan geliat dakwah Islam di Jawa sekitar setengah milenia silam. [Yosef Kelik (Peneliti Museum Ullen Sentalu)] Referensi:
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |