|
Rapat Besar Era Majapahit
Pada masa Majapahit, maharaja Hayam Wuruk pernah menjadikan Patukangan sebagai tempat penghadapan bagi para kepala daerah serta para pejabat lainnya dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan Bali. Patukangan termasuk bagian Kecamatan Panarukan di Kabupaten Situbondo masa kini. Acara penghadapan bertempat di pesanggrahan tepi pantai yang dibangun oleh Sang Arya Suraddhikara, penguasa daerah Patukangan. Penghadapan tersebut berlangsung di sela-sela muhibah keliling negeri oleh rombongan Prabu Hayam Wutuk pada 1359. Prapanca mendokumentasikan peristiwa tersebut dalam Desawarnana/Nagarakretagama pupuh 24-28. Acara penghadapan di Pesisir Utara Ujung Timur Jawa tersebut boleh kita setarakan sebagai retreat model Presiden Prabowo kini. Masih merujuk tuturan Desawarnana/Nagarakretagama, ada pula penghadapan kepada raja di ibukota oleh para abdi negara penyelenggara pemerintahan hingga tingkatan para kepala desa. Momen berlangsung kala peringatan upacara bulan Caitra setiap tahun dengan kemeriahan utama berupa pesta di Lapangan Bubat. Selain itu, terjadi pada upacara sradha, yaitu peringatan 12 tahun wafatnya anggota wangsa penguasa Majapahit. Nagarakretagama menyebut upacara sradha dari mendiang Gayatri Rajapatni, nenek Hayam Wuruk. Rapat Besar Kepala Daerah Era Pajang Merujuk Babad Tanah Jawi, konon Hadiwijaya pernah mengadakan semacam rapat besar kepala daerah di Kedaton Giri, dekat Gresik. Raja mengumpulkan para pejabat penguasa yang tunduk kepadanya. Momen tersebut merupakan seremoni pemberian restu kepada Hadiwijaya oleh Sunan Giri Perapen sebagai ulama besar keturunan Sunan Giri. Pasca konflik perebutan takhta Demak, Hadiwijaya mampu membawa dirinya dari jabatan Adipati Pajang menjadi Maharaja Jawa dengan kekuasaan konon meliputi wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut Babad Tanah Jawi, pada 1581 Tarikh Masehi, para kepala daerah berkegiatan bersama menggali dan membangun kolam besar atau telaga buatan untuk dipersembahkan kepada Sunan Giri Perapen yang dianggap seperti pemimpin tertinggi keagamaan Islam di Jawa. Mereka yang ikut berkumpul di Giri Kedaton mengikuti Maharaja Hadiwaja meliputi Ki Ageng Pemanahan atau disebut Ki Ageng Mataram sebagai penguasa Mataram, para bupati dari Japan, Wirasaba, Kediri, Surabaya, Pasuruhan, Madura, Sedayu, Lasem, Tuban, Pati, dan para bupati Bang Wetan lainnya. Rapat Besar Kepala Era Mataram Islam dan Para Pecahannya Kerajaan Mataram Islam, sebelum terpecah maupun sesudah pecah menjadi Kasunanan Surakarta serta Kasultanan Yogyakarta, telah rutin adakan pengumpulan para kepala daerah. Terwujud pada upacara besar bernama garebeg atau grebeg dengan tiga kali penyelenggaran sesuai tiga macam Hari Raya Islam: Maulid Nabi Muhammad, Idul Fitri, dan Idul Adha. Sebelum 1830, garebeg adalah momen para bupati dari seluruh wilayah kekuasaan kerajaan menghadap raja di ibukota kerajaan. Mereka menunjukkan kesetiaan politik serta membawa setoran uang pajak dan upeti hasil bumi. Ketidakhadiran bupati di garebeg dianggap sebagai pembangkangan dan bibit pemberontakan kepada raja. Saat garebeg, para bupati datang dalam rombongan besar ke ibukota kerajaan. Masing-masing rombongan bupati membawa orang-orang terpilih, yaitu para priyayi, kepala desa, juga para petani penggarap dari kabupatennya. Mereka akan tinggal selama tiga bulan di ibukota. Kadang mundur lebih lama menyesuaikan penugasan dari raja kepada mereka. Menurut Ong Hok Ham dalam buku yang dikembangkan dari disertasinya, Madiun dalam Kemelut Sejarah, setiap rombongan bupati ketika tinggal di ibukota, bekerja untuk membangun atau memerbaiki istana atau menjadi tenaga kerja di berbagai proyek lain. Hal demikian masih termasuk bagian sistem perpajakan dan upeti di Jawa pada masa silam. Penulis: Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
January 2026
Categories |