ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Rapat Besar Para Kepala Daerah era Raja Jawa Masa Lampau

23/1/2026

0 Comments

 
Pengumpulan pejabat di suatu tempat tertentu atau menjadikan suatu tempat lokasi penghadapan kepada penguasa tertinggi sudah dikenal dalam penyelenggaran pemerintahan negara dari era berbagai kerajaan kuno di Jawa.
Picture
Rapat Besar Era Majapahit
Pada masa Majapahit, maharaja Hayam Wuruk pernah menjadikan Patukangan sebagai tempat penghadapan bagi para kepala daerah serta para pejabat lainnya dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan Bali.  Patukangan termasuk bagian Kecamatan Panarukan di Kabupaten Situbondo masa kini. Acara penghadapan bertempat di pesanggrahan tepi pantai yang dibangun oleh Sang Arya Suraddhikara, penguasa daerah Patukangan. Penghadapan tersebut berlangsung di sela-sela muhibah keliling negeri oleh rombongan Prabu Hayam Wutuk pada 1359. Prapanca mendokumentasikan peristiwa tersebut dalam Desawarnana/Nagarakretagama pupuh 24-28. Acara penghadapan di Pesisir Utara Ujung Timur Jawa tersebut boleh kita setarakan sebagai retreat model Presiden Prabowo kini. 

Masih merujuk tuturan Desawarnana/Nagarakretagama, ada pula penghadapan kepada raja di ibukota oleh para abdi negara penyelenggara pemerintahan hingga tingkatan para kepala desa. Momen berlangsung kala peringatan upacara bulan Caitra setiap tahun dengan kemeriahan utama berupa pesta di Lapangan Bubat. Selain itu, terjadi pada upacara sradha, yaitu peringatan 12 tahun wafatnya anggota wangsa penguasa Majapahit. Nagarakretagama menyebut upacara sradha dari mendiang Gayatri Rajapatni, nenek  Hayam Wuruk.

Rapat Besar Kepala Daerah Era Pajang
Merujuk Babad Tanah Jawi,  konon Hadiwijaya pernah mengadakan semacam rapat besar kepala daerah di Kedaton Giri, dekat Gresik. Raja mengumpulkan para pejabat penguasa yang tunduk kepadanya. Momen tersebut merupakan seremoni pemberian restu kepada Hadiwijaya oleh Sunan Giri Perapen sebagai ulama besar keturunan Sunan Giri. Pasca  konflik perebutan takhta Demak,  Hadiwijaya  mampu membawa dirinya dari jabatan Adipati Pajang menjadi Maharaja Jawa dengan kekuasaan konon meliputi wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
​
Menurut Babad Tanah Jawi, pada 1581 Tarikh Masehi, para kepala daerah berkegiatan bersama menggali dan membangun kolam besar atau telaga buatan untuk dipersembahkan kepada Sunan Giri Perapen yang dianggap seperti pemimpin tertinggi keagamaan Islam di Jawa. Mereka yang ikut berkumpul di Giri Kedaton mengikuti Maharaja Hadiwaja meliputi Ki Ageng Pemanahan atau disebut Ki Ageng Mataram sebagai penguasa Mataram, para bupati  dari Japan, Wirasaba, Kediri, Surabaya, Pasuruhan, Madura, Sedayu, Lasem, Tuban, Pati, dan para bupati Bang Wetan lainnya.  

Rapat Besar Kepala Era Mataram Islam dan Para Pecahannya
Kerajaan Mataram Islam, sebelum terpecah maupun sesudah pecah menjadi  Kasunanan Surakarta serta Kasultanan Yogyakarta, telah rutin adakan pengumpulan para kepala daerah. Terwujud pada upacara besar bernama garebeg atau grebeg dengan  tiga kali penyelenggaran sesuai tiga macam Hari Raya Islam: Maulid Nabi Muhammad, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Sebelum 1830, garebeg adalah momen para bupati dari seluruh wilayah kekuasaan kerajaan menghadap raja di ibukota kerajaan. Mereka  menunjukkan kesetiaan politik serta membawa setoran uang pajak dan upeti hasil bumi. Ketidakhadiran bupati di  garebeg dianggap sebagai pembangkangan dan  bibit pemberontakan kepada raja.

Saat garebeg, para bupati  datang dalam rombongan besar ke ibukota kerajaan. Masing-masing rombongan bupati membawa orang-orang terpilih, yaitu para priyayi, kepala desa, juga para petani penggarap dari kabupatennya. Mereka akan tinggal selama tiga bulan di ibukota. Kadang mundur lebih lama menyesuaikan penugasan dari raja kepada mereka.

Menurut Ong Hok Ham dalam buku yang dikembangkan dari disertasinya, Madiun dalam Kemelut Sejarah, setiap rombongan bupati ketika tinggal di ibukota, bekerja untuk membangun  atau memerbaiki istana atau menjadi tenaga kerja di berbagai proyek lain. Hal demikian masih termasuk bagian sistem perpajakan dan upeti di Jawa pada masa silam. Penulis: Yosef Kelik (Tim Riset Museum Ullen Sentalu)
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta

MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak