ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Sejak Kapan Topeng Menjadi Bagian Seni Pertunjukan di Jawa?

4/7/2025

0 Comments

 
Picture
Dalam “Topeng di Jawa Berawal untuk Keperluan Ritual Sakral: Bekal Kubur hingga Sesajian Ritus Kesuburan”, ada penuturan berbagai contoh topeng yang diyakini telah dikenal masyarakat Jawa untuk keperluan ritual sacral. Topeng  berasal sekitar 2.000 tahun lalu hingga era Majapahit, 700-500 tahun lalu.
Lalu sejak kapan topeng menjadi bagian seni pertunjukkan seperti kita kenal kini?
Dalam Catatan Tujuh Prasasti                  
Seni pertunjukan topeng di Jawa telah muncul 1.200 tahun lalu. Bukti  tertua berasal dari Prasasti Kuti (840 Masehi), temuan di Sidoarjo, Jawa Timur, berbahasa Jawa Kuno.  Disebutkan bahwa pertunjukan topeng menjadi bagian dari ritual upacara peresmian daerah perdikan atau sima. Topeng  disebut hatapukan. yang bersinonim dengan hanapuka, atapukan, dan matapukan di berbagai prasasti lain dengan kata dasar tapuk  yang artinya topeng. Beberapa  prasasti lain yang  memuat istilah yang mengindikasikan keberadaan seni pertunjukan topeng adalah Prasasti Waharu I (873 Masehi), temuan pula dari Sidoarjo, Jawa Timur,  Prasasti Poh (905 Masehi), Prasasti Taji Gunung (910 Masehi), temuan dari Prambanan, perbatasan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Klaten, Jawa Tengah.

Timbul Haryono dalam Topeng dan Seni Pertunjukan (2014) mengatakan bahwa pertunjukan topeng pada era Jawa Kuno  berbentuk tari topeng, pertunjukan lawak dengan topeng, ataupun wayang wong. Timbul menjelaskan bahwa seniman topeng pada era tersebut merupakan abdi dalem keraton dalam kelompok sang mangilala drabya haji atau pejabat yang memperoleh gaji dari keraton. Belum  diketahui jumlah pasti mereka di keraton. Prasasti Lintakan (919 Masehi) menyebutkan ada 30 pasang penari topeng dan semuanya adalah anak muda. Mereka, para penari topeng di upacara sima mendapat imbalan perak 1 dharana atau sekitar 38,6 gram.  Pada   2025 kurang lebih setara Rp849 ribu.

Seniman topeng ada pula yang hidup di luar keraton. Mereka mementaskan pertunjukan berkeliling (menmen). Menurut prasasti Jrujru (930 Masehi) dan prasasti Julah (1065 Masehi), jika pertunjukan mereka untuk raja maka kelompok penampil akan mendapatkan imbalan emas 1 masa (2,48 gram). Pada 2025 setara hampir Rp4,2 juta. Bila pertunjukan untuk rakyat biasa, mereka mendapat imbalan berupa emas 2 kupang (sekitar 1,2 gram). Pada 2025setara Rp2 juta.

Kejayaan Semasa Majapahit
Pada periode Kerajaan Majapahit (abad XIII Masehi) pertunjukan topeng mengalami kejayaan. Keberadaan dan geliat seni pertunjukan topeng tercatat dalam prasasti maupun naskah kuno Nagarakretagama (1365) karya Prapanca. Pupuh 91 bait 6-8 Nagarakretagama dikisahkan bahwa Maharaja Rajasanegara (Hayam Wuruk) berkenan menari topeng di balai pertemuan istana Majapahit sebagai salah satu intermeso dalam jamuan besar yang menutup rangkaian kemeriahan bulan Caitra. Kemudian  raja dan sang permaisuri menyambungnya dengan bernyanyi lagu merdu penuh rayu. Para hadirin jamuan besar tersebut adalah kerabat raja, pembesar di ibukota, pembesar daerah, hingga  tetua dari berbagai desa juga wedana.
​
Menurut catatan Prapanca, Hayam Wuruk menari topeng didampingi delapan penari pengiring di tengah jamuan pesta bulan Caitra. Banyolan bersembilan orang itu disebut Prapanca mampu membuat hadirin tertawa terus-menerus sampai perut mereka kaku-beku. Demikian pula saat beralih ke babak sedih.  Raja  dan delapan pengiringnya mampu pula mengaduk dan menghanyutkan hati penonton dengan perasaan haru-rindu. Hal ini  menunjukkan bahwa tari topeng  adalah seni pertunjukan klangenan Maharaja Hayam Wuruk. Ia bukan sekedar gemar menonton. Namun, adalah pula penari topeng piawai. [RESTU A RAHAYUNINGSIH (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]
 
REFERENSI
Linde, Herald van der. (2024). Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire. Melton Mowbray: Moonsoon Books
Muljana, Slamet. (2011, Cetakan V). Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: LkiS
Permana, R Cecep Eka. (2016). Kamus Istilah Arkeologi-Cagar Budaya. Jakarta: Wedatama Widya Sastra
Prapanca, Mpu. (2019, Edisi Revisi HC), Kakawin Nagarakertagama (Damaika Saktiani dkk, Penerjemah). Yogyakarta: NARASI
Raffles, Thomas Stamford (1978), The History of Java- Volume One. Kuala Lumpur: Oxford University Press. Halaman 335-336
SUDARSONO, R.M. Wayang wong : the state ritual dance drama in the court of Yogyakarta. Yogyakarta Gadjah Mada University Press 1997
 
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak