Dalam Catatan Tujuh Prasasti
Seni pertunjukan topeng di Jawa telah muncul 1.200 tahun lalu. Bukti tertua berasal dari Prasasti Kuti (840 Masehi), temuan di Sidoarjo, Jawa Timur, berbahasa Jawa Kuno. Disebutkan bahwa pertunjukan topeng menjadi bagian dari ritual upacara peresmian daerah perdikan atau sima. Topeng disebut hatapukan. yang bersinonim dengan hanapuka, atapukan, dan matapukan di berbagai prasasti lain dengan kata dasar tapuk yang artinya topeng. Beberapa prasasti lain yang memuat istilah yang mengindikasikan keberadaan seni pertunjukan topeng adalah Prasasti Waharu I (873 Masehi), temuan pula dari Sidoarjo, Jawa Timur, Prasasti Poh (905 Masehi), Prasasti Taji Gunung (910 Masehi), temuan dari Prambanan, perbatasan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Klaten, Jawa Tengah. Timbul Haryono dalam Topeng dan Seni Pertunjukan (2014) mengatakan bahwa pertunjukan topeng pada era Jawa Kuno berbentuk tari topeng, pertunjukan lawak dengan topeng, ataupun wayang wong. Timbul menjelaskan bahwa seniman topeng pada era tersebut merupakan abdi dalem keraton dalam kelompok sang mangilala drabya haji atau pejabat yang memperoleh gaji dari keraton. Belum diketahui jumlah pasti mereka di keraton. Prasasti Lintakan (919 Masehi) menyebutkan ada 30 pasang penari topeng dan semuanya adalah anak muda. Mereka, para penari topeng di upacara sima mendapat imbalan perak 1 dharana atau sekitar 38,6 gram. Pada 2025 kurang lebih setara Rp849 ribu. Seniman topeng ada pula yang hidup di luar keraton. Mereka mementaskan pertunjukan berkeliling (menmen). Menurut prasasti Jrujru (930 Masehi) dan prasasti Julah (1065 Masehi), jika pertunjukan mereka untuk raja maka kelompok penampil akan mendapatkan imbalan emas 1 masa (2,48 gram). Pada 2025 setara hampir Rp4,2 juta. Bila pertunjukan untuk rakyat biasa, mereka mendapat imbalan berupa emas 2 kupang (sekitar 1,2 gram). Pada 2025setara Rp2 juta. Kejayaan Semasa Majapahit Pada periode Kerajaan Majapahit (abad XIII Masehi) pertunjukan topeng mengalami kejayaan. Keberadaan dan geliat seni pertunjukan topeng tercatat dalam prasasti maupun naskah kuno Nagarakretagama (1365) karya Prapanca. Pupuh 91 bait 6-8 Nagarakretagama dikisahkan bahwa Maharaja Rajasanegara (Hayam Wuruk) berkenan menari topeng di balai pertemuan istana Majapahit sebagai salah satu intermeso dalam jamuan besar yang menutup rangkaian kemeriahan bulan Caitra. Kemudian raja dan sang permaisuri menyambungnya dengan bernyanyi lagu merdu penuh rayu. Para hadirin jamuan besar tersebut adalah kerabat raja, pembesar di ibukota, pembesar daerah, hingga tetua dari berbagai desa juga wedana. Menurut catatan Prapanca, Hayam Wuruk menari topeng didampingi delapan penari pengiring di tengah jamuan pesta bulan Caitra. Banyolan bersembilan orang itu disebut Prapanca mampu membuat hadirin tertawa terus-menerus sampai perut mereka kaku-beku. Demikian pula saat beralih ke babak sedih. Raja dan delapan pengiringnya mampu pula mengaduk dan menghanyutkan hati penonton dengan perasaan haru-rindu. Hal ini menunjukkan bahwa tari topeng adalah seni pertunjukan klangenan Maharaja Hayam Wuruk. Ia bukan sekedar gemar menonton. Namun, adalah pula penari topeng piawai. [RESTU A RAHAYUNINGSIH (Peneliti Museum Ullen Sentalu)] REFERENSI Linde, Herald van der. (2024). Majapahit: Intrigue, Betrayal and War in Indonesia’s Greatest Empire. Melton Mowbray: Moonsoon Books Muljana, Slamet. (2011, Cetakan V). Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: LkiS Permana, R Cecep Eka. (2016). Kamus Istilah Arkeologi-Cagar Budaya. Jakarta: Wedatama Widya Sastra Prapanca, Mpu. (2019, Edisi Revisi HC), Kakawin Nagarakertagama (Damaika Saktiani dkk, Penerjemah). Yogyakarta: NARASI Raffles, Thomas Stamford (1978), The History of Java- Volume One. Kuala Lumpur: Oxford University Press. Halaman 335-336 SUDARSONO, R.M. Wayang wong : the state ritual dance drama in the court of Yogyakarta. Yogyakarta Gadjah Mada University Press 1997
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |