|
Putra Raja, Cucu Patih
Bendara Raden Mas (BRM) Kudiarmaji terlahir sebagai anak ke-55 dari 78 putra putri Sultan Hamengkubuwana VII dari garwa ampeyan (selir) Bendara Raden Ayu Retnomandaya, anak perempuan Patih Danureja VI. Lahir pada 1892 dan resmi bergelar BPH Suryamataram pada usia 18 tahun. Kedua orang tuanya bergaris darah kebangsawanan sangat tinggi. Pangeran Suryamataram menempuh pendidikan dasar di Sekolah Srimenganti. Sekolah yang didirikan raja Yogyakarta jelang tahun 1900 supaya para anak bangsawan mampu baca, tulis, dan berhitung sesuai standar moderen. Sang pangeran mengikuti kursus dan ujian menjadi Klein Ambtenaar (pegawai sipil junior), hingga beroleh pekerjaan tenaga administratif di bawah Residen Yogyakarta. Ia juga gemar memelajari ilmu baru, yaitu bahasa Belanda, Arab, serta Inggris. Keresahan Batin dan Disrupsi Namun, serentetan pengalaman hidup kemudian menjadikan Suryamataram mengalami serangkaian keresahan batin yang mendisrupsi keseluruhan ritme hidupnya, berupa sang ayah mengembalikan ibunya kepada kakeknya. Tak lama kemudian sang kakek wafat setelah diberhentikan dari jabatannya sebagai patih. Bahkan disusul meninggalnya istri dan anaknya beberapa minggu kemudian. Suryamataram juga diresahkan batin oleh pengalaman saat dirinya berkereta api ke kota Solo kala menyaksikan petani bekerja keras mengolah lahan. Pemandangan yang terbingkai jendela sepur seakan menyadarkan bahwa terjadi ketimpangan kelas dan tidak meratanya distribusi maupun akses sumber daya ekonomi yang menyertainya. Ia lalu tertarik memelajari falsafah serta serangkaian kegiatan mengasah religiusitas guna mencari jawaban bagi resah batinnya. Pergumulan batin Suryamataram kemudian menjadikannya meninggalkan kraton lalu tinggal di daerah Kroya, Banyumas. Ia memakai pakaian sama dengan masyarakat kampung, bermata pencaharian dagang kain batik, kuli, hingga penggali sumur, serta menggunakan nama diri Natadangsa. Ia pernah dicari oleh utusan raja dan dipaksa pulang. Suryamataram berkeputusan menanggalkan status kebangsawananya secara resmi pada 1921. Tak lama setelah sang ayah lengser keprabon atau undur diri. Keputusannya nyaosaken kalenggahan tersebut diizinkan oleh Sultan Hamengkubuwana VIII, yaitu sang kakak beda ibu yang sebelum bertakhta bergelar Pangeran Purubaya. Suryamataram juga menolak tawaran jatah uang pensiun dari Pemerintah Kolonial Belanda. Ia lebih memilih sokongan pendanaan dari Kraton Kasultanan Yogyakarta yang lebih kecil nilainya. Ia kemudian hidup dan bekerja sebagai umumnya rakyat biasa tinggal di Beringin dekat Salatiga. Kawruh Begja Pada suatu malam, Suryamataram mendapatkan pencerahan spiritual. Sejak saat itu ia mengajarkan hasil pencerahan spiritualnya kepada banyak orang dan mendapatkan banyak pengikut. Ia menyebut ajarannya sebagai Kawruh Begja atau Ilmu Begja, berupa pengetahuan untuk memahami cara merasakan maupun menemukan hidup beruntung sekaligus bahagia. Salah satu ajarannya adalah Aja Dumeh yang kurang lebih adalah ajaran untuk tidak jemawa kepada siapa pun, tetap harus berlaku baik dan tidak semena-mena, termasuk kepada orang yang berkedudukan di bawah atau lemah. Ia pun dikenal luas dengan nama Ki Ageng Suryamentaram. Pada tiga periode beda pemerintahan 1925-1960, yaitu 1925-1940 (era Kolonial Belanda) lalu masa pendudukan Jepang, hingga dua puluh tahun sesudah Kemerdekaan, Ki Ageng Suryomentaram merupakan guru spiritual dan filsuf yang kondang dalam masyarakat Jawa. Bahkan saat pembentukan PETA (Pembela Tanah Air), yakni kekuatan militer Bumiputera di Jawa era Pendudukan Jepang, konon berembrio dari ide Ki Ageng Suryamentaram. Menilik kisah hidupnya, Pangeran Suryamataram yang bertransformasi menjadi Ki Ageng Suryamentaram bisa disebut sebagai Sidharta dari Jawa. Ia meninggalkan kemegahan dan kemewahan seorang bangsawan putra raja Jawa untuk beralih jalan hidup menjadi filsuf guru spiritual yang sepadan dengan perjalanan spiritual Pangeran Sidharta Gautama yang beroleh pencerahan menjadi Sang Buddha. Ki Ageng Suryamentaram wafat dalam usia 70 tahun pada 1962. Pusara tempat peristirahatan terakhir di Komplek Cepakasari, sebuah Pemakaman Keluarga Besar Trah Nitinegaran II, berada di sebelah barat laut Masjid Kanggotan Pleret, beralamat RT 07 Padukuhan Kanggotan, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul. Tulisan ini sendiri banyak merujuk kisah hidup Pangeran Suryamataram atau Ki Ageng Suryamentaram dalam tulisan berbahasa Prancis oleh Marcel Bonnef di Archipel pada 1978, ”Ki Ageng Suryomentaram, Prince et Philosophe Javanais”. Susan Crossley menerjemahkan tulisan tersebut ke dalam bahasa Inggris menjadi “Ki Ageng Suryomentaraman, Javanese Prince and Philosopher” dan dimuat di Indonesia 57 (April 1994). Edisi bahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Afthonul Afif atas izin Marcel Bonnef, kemudian menjadi apendiks dalam buku Matahari dari Mataram, karya Afthonul Afif dan kawan-kawan. Terbagi menjadi empat seri, edisi terjemahan Afthonul Afif tersebut diunggah pada 15 November hingga 20 Desember 2018 di langgar.co. [Yosef Kelik Prirahayanto (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |