ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Sidharta dari Jawa yang Memilih Nyaosaken Kalenggahan

1/5/2026

0 Comments

 
Kraton-kraton di Jawa ada mengenal istilah nyaosaken kalenggahan. Artinya, seseorang memberikan/mengembalikan/meletakkan kedudukan berikut berbagai hak istimewa yang menyertainya, contoh  Bendara Pangeran Harya (BPH) Suryamataram.
Picture
Putra Raja, Cucu Patih
Bendara Raden Mas (BRM) Kudiarmaji  terlahir sebagai anak ke-55 dari 78 putra putri Sultan Hamengkubuwana VII dari garwa ampeyan (selir) Bendara Raden Ayu Retnomandaya, anak perempuan Patih Danureja VI. Lahir pada 1892 dan resmi bergelar BPH Suryamataram pada usia 18 tahun. Kedua orang tuanya bergaris darah kebangsawanan sangat tinggi.

Pangeran Suryamataram menempuh pendidikan dasar di Sekolah Srimenganti. Sekolah yang didirikan raja Yogyakarta jelang tahun 1900 supaya para anak bangsawan mampu baca, tulis, dan berhitung sesuai standar moderen. Sang pangeran mengikuti kursus dan ujian menjadi Klein Ambtenaar (pegawai sipil junior), hingga beroleh pekerjaan tenaga administratif di bawah Residen Yogyakarta. Ia juga gemar memelajari ilmu baru, yaitu bahasa Belanda, Arab, serta Inggris.

Keresahan Batin dan Disrupsi
Namun, serentetan pengalaman hidup kemudian menjadikan Suryamataram mengalami serangkaian keresahan batin yang mendisrupsi keseluruhan ritme hidupnya, berupa sang ayah mengembalikan ibunya kepada kakeknya. Tak lama kemudian sang kakek wafat setelah diberhentikan dari jabatannya sebagai patih. Bahkan disusul meninggalnya istri dan anaknya beberapa minggu kemudian.
Suryamataram juga diresahkan batin oleh pengalaman saat dirinya berkereta api ke kota Solo kala menyaksikan petani bekerja keras mengolah lahan. Pemandangan yang terbingkai jendela sepur seakan menyadarkan bahwa terjadi ketimpangan kelas dan tidak meratanya distribusi maupun akses sumber daya ekonomi yang menyertainya.

Ia lalu tertarik memelajari falsafah serta serangkaian kegiatan mengasah religiusitas guna mencari jawaban bagi resah batinnya.  Pergumulan batin Suryamataram kemudian menjadikannya meninggalkan kraton lalu tinggal di daerah Kroya, Banyumas. Ia memakai pakaian sama dengan masyarakat kampung, bermata pencaharian dagang kain batik, kuli, hingga penggali sumur, serta menggunakan nama diri Natadangsa.

Ia pernah dicari oleh utusan raja dan dipaksa pulang. Suryamataram berkeputusan menanggalkan status kebangsawananya secara resmi pada 1921.  Tak lama setelah sang ayah lengser keprabon atau undur diri. Keputusannya nyaosaken kalenggahan tersebut diizinkan oleh Sultan Hamengkubuwana VIII, yaitu sang kakak beda ibu yang sebelum bertakhta bergelar Pangeran Purubaya.

Suryamataram juga menolak tawaran jatah uang pensiun dari Pemerintah Kolonial Belanda. Ia lebih memilih sokongan pendanaan dari Kraton Kasultanan Yogyakarta yang lebih kecil nilainya. Ia kemudian hidup dan bekerja sebagai umumnya rakyat biasa tinggal di Beringin dekat Salatiga.
​
Kawruh Begja
Pada suatu malam, Suryamataram mendapatkan pencerahan spiritual. Sejak saat itu ia mengajarkan hasil pencerahan spiritualnya kepada banyak orang dan mendapatkan banyak pengikut. Ia menyebut ajarannya sebagai Kawruh Begja atau Ilmu Begja, berupa pengetahuan untuk memahami cara merasakan maupun menemukan hidup beruntung sekaligus bahagia. Salah satu ajarannya adalah Aja Dumeh yang kurang lebih adalah ajaran untuk tidak jemawa kepada siapa pun, tetap harus berlaku baik dan tidak semena-mena, termasuk kepada orang yang berkedudukan di bawah atau lemah. Ia pun dikenal luas dengan nama Ki Ageng Suryamentaram.

Pada tiga  periode beda pemerintahan 1925-1960,  yaitu 1925-1940  (era Kolonial Belanda) lalu masa pendudukan Jepang, hingga dua puluh tahun sesudah Kemerdekaan, Ki Ageng Suryomentaram merupakan guru spiritual dan filsuf yang kondang dalam masyarakat Jawa. Bahkan saat pembentukan PETA (Pembela Tanah Air), yakni kekuatan militer Bumiputera di Jawa era Pendudukan Jepang, konon berembrio dari ide Ki Ageng Suryamentaram.
​
Menilik kisah hidupnya, Pangeran Suryamataram yang bertransformasi menjadi Ki Ageng Suryamentaram bisa disebut sebagai Sidharta dari Jawa. Ia   meninggalkan kemegahan dan kemewahan seorang bangsawan putra raja Jawa untuk beralih jalan hidup menjadi filsuf guru spiritual yang sepadan dengan perjalanan spiritual Pangeran Sidharta Gautama yang beroleh pencerahan menjadi Sang Buddha.
Ki Ageng Suryamentaram wafat dalam usia 70 tahun pada 1962. Pusara tempat peristirahatan terakhir di Komplek Cepakasari, sebuah Pemakaman Keluarga Besar Trah Nitinegaran II, berada di sebelah barat laut Masjid Kanggotan Pleret, beralamat RT 07 Padukuhan Kanggotan, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
 
Tulisan ini sendiri banyak merujuk kisah hidup Pangeran Suryamataram atau Ki Ageng Suryamentaram dalam tulisan berbahasa Prancis oleh Marcel Bonnef di Archipel pada 1978, ”Ki Ageng Suryomentaram, Prince et Philosophe Javanais”. Susan Crossley menerjemahkan tulisan tersebut ke dalam bahasa Inggris menjadi “Ki Ageng Suryomentaraman, Javanese Prince and Philosopher” dan dimuat di Indonesia 57 (April 1994). Edisi bahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Afthonul Afif atas izin Marcel Bonnef, kemudian menjadi apendiks dalam buku Matahari dari Mataram, karya Afthonul Afif dan kawan-kawan. Terbagi menjadi empat seri, edisi terjemahan Afthonul Afif tersebut diunggah pada 15 November hingga 20 Desember 2018 di langgar.co.  [Yosef Kelik Prirahayanto  (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]

0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak