ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Silakan Memanggil Yogyakarta, Yogya, Yoja, maupun Jogja, tapi Jangan dengan Jogjakarta

15/7/2023

0 Comments

 
Sejak 1755, Yogyakarta menjadi toponim atau nama tempat bagi wilayah luas yang terbentang di sebelah selatan Gunung Merapi hingga tepi Laut Selatan. Penggunaan toponim Yogyakarta di wilayah tadi terbilang mendampingi toponim Mataram yang lebih tua dan telah berasal dari abad VIII Masehi. Kemunculan toponim Yogyakarta adalah imbas dari isi Perjanjian Giyanti yang membagi kerajaan milik dinasti keturunan Ki Ageng Pemanahan menjadi dua belahan. Separo bagian untuk pihak Susuhunan Pakubuwanan III yang adalah pula putra mendiang Susuhunan Pakubuwana II. Separo sisanya menjadi bagian Sultan Hamengkubuwana I, yang sebelumnya bergelar Pangeran Mangkubumi, dan tidak lain adalah adik beda ibu mendiang Susuhunan Pakubuwana II, atau berarti juga masih paman dari Susuhunan Pakubuwana III.
Picture
Toponim Yogyakarta menjadi komplementer bagi toponim Mataram karena Sultan Hamengkubuwana I menyematkan nama tersebut untuk ibukota kerajaaan barunya, yang dibangun di Alas Beringan . Daerah yang dipilih Sultan Hamengkubuwana I sebagai tapak ibukotanya tadi sebenarnya tidak sepenuhnya hanya berupa hutan. Di situ, tepatnya di bagian bermata air bernama Umbul Pacetokan, telah ada suatu pesanggarahan yang dinamai Garjitawati dan dimanfaatkan para penguasa Mataram untuk sebagai salah satu titik perhentian dalam jalur menuju Kompleks Pemakaman Imogiri.

Yogyakarta sebagai suatu toponim aslinya terbentuk dari dua kata, yogya dan karta. Dua kata tadi dikenal dalam bahasa Jawa dan bahasa Kawi, juga memiliki akar etimologi dalam bahasa Sanskerta. Merujuk halaman 61-64 buku Dari Kabanaran Menuju Yogyakarta garapan Revianto Budi Santosa dkk dan diterbitkan pada 2008 oleh Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Yogyakarta, kata Yogya atau Ngayogya bersumber dari nama Ayodhya yang merupakan nama kerajaan berpenguasa Sri Rama dalam epos Ramayana karya Walmiki. Ayodhya dalam Sanskerta secara spesifik bermakna “tidak berperang maupun bermusuhan”, dengan kata lain dapat pula diartikan sebagai “damai”. Perihal alasan pemilihan penamaan yang bertalian dengan Ayodhya-nya Sri Rama tadi,  Revianto Budi Santosa dkk menafsirkannya sebagai sebentuk pengharapan bahwa pendirian kota Yogyakarta dianggap upaya pemulihan tatanan peradaban, memerbaiki apa yang rusak dalam tahun-tahun pertikaian panjang Perang Suksesi Jawa III.

Dalam versi nama lengkap Yogyakarta Hadiningrat atau Ngayogyakarta Hadiningrat, masih merujuk Revianto Budi Santosa dkk dalam Revianto Budi Santosa dkk, nama negeri dan kota yang didirikan Sultan Hamengkubuwana I ini dapat ditafsir sebagai “tempat baik dan sejahtera yang menjadi suri tauladan keindahan alam semesta”. Makna tadi agaknya bersumber dari kata yogya dalam bahasa Kawi serta Sanskerta yang berarti “tepat; layak; mampu; berguna”, sebagaimana tercantum dalam Old Javanese-English Dictionary karya PJ Zoetmulder dan SO Robson, juga dalam The Practical Sanskrit-English Dictionary karta VS Apte
.
Sebagai suatu toponim, Yogyakarta yang terdiri atas empat suku kata terbilang panjang. Ngayogyakarta selaku versi yang lebih kental nuansa bahasa Jawanya lebih panjang lagi dengan terdiri lima suku kata. Tak mengherankan bahwa toponim Yogyakarta maupun Ngayogya itu dalam penggunaan sehari-hari di dalam masyarakat lantas memiliki versi ringkasnya.  Di kalangan warga lokal sekitaran Yogyakarta dan penutur bahasa Jawa, ada dikenal penyebutan Yoja. Lalu, untuk penutur bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa sebelum masuk tahun 2000-an,  penyebutan Yogya dan Jogja terbilang sama-sama banyak digunakan sebagai versi pendek Yogyakarta. Kita bisa melihat beberapa contohnya pada 1990-an, tatkala pernah ada koran bernama Yogya Post, lalu pada 1990 ada lagu Yogyakarta dari grup Kla Project yang menjadi hits dan dalam liriknya memuat pula kata “Jogja”. 

Memasuki tahun-tahun 2000-an, Jogja sebagai versi pendek Yogyakarta menjadi begitu dominan. Ini tak lepas dari kampanye pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. yang memilih membakukan jenama Jogja sejak 2001. Awalnya jenama Jogja tadi didampingi semboyan “Never Ending Asia”, tapi setelah berjalan lebih dari satu dekade diganti menjadi semboyannya menjadi “Istimewa”.   

Saking populernya toponim versi ringkas Jogja, sejumlah pihak jadi ada yang menyebut toponim kota dan provinsi menjadi Jogjakarta. Ini sesuatu yang keliru. Versi panjang dari Jogja, Yogya, maupun Yoja yang tepat ya adalah Yogyakarta. Bagaimanapun Jogjakarta sekadar versi penulisan tidak tidak tepat dari Yogyakarta. Jadi, jangan dibiasakan menyebut Yogyakarta sebagai Jogjakarta ya … . (Yosef Kelik, Periset di Sekretariat Museum Ullen Sentalu)
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta

MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Kajian
  • Kontak