ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

​Songkok dan Kuluk dalam Tradisi Berbusana di Lingkungan Kraton-kraton Jawa

21/11/2025

0 Comments

 
Picture
Salah satu kelengkapan busana yang sering muncul dalam lukisan maupun berbagai foto lawas penampil sosok para raja Mataram Islam dan kerajaan pecahannya adalah songkok serta kuluk. Dua macam tudung kepala tersebut dikenal di lingkungan karaton-karaton Jawa.
Songkok
​Dalam bahasa Indonesia, songkok termasuk disinonimkan dengan peci atau kopiah. Dalam bahasa Jawa, terutama di lingkungan kraton-kraton Jawa lebih spesifik mengartikan songkok sebagai sejenis topi dari beludru hitam dan menjadi bagian busana para prajurit Jawa. Ciri khas songkok berupa adanya bagian cenderung vertikal yang melengkung, meliputi bagian belakang serta kiri-kanan dari korona topi. Beberapa songkok memiliki visor pada sisi depan meneduhi bagian dahi dan wajah. Definisi songkok tersebut termuat dalam Javanese-English Dictionary karya bersama Stuart Robson dan Singgih Wibisono, terbitan 2002.
Picture
​Menilik bentuk dari songkok yang dikenal di kraton-kraton Jawa, terindikasi hasil serapan dari futao dan wushamao budaya Tiongkok. Futou dan wushamao merupakan jenis topi para pejabat kekaisaran era Dinasti Tang hingga Dinasti Ming. Aneka turunan keduanya lalu dikenal dalam budaya di berbagai negara Sinosfer (cakupan budaya Tiongkok), diantaranya Korea, Jepang, Vietnam. Sedangkan songkok di Jawa, bentuk dasar dari pengaruh Tiongkok, namun sudah berpadu dengan berbagai pengaruh budaya lain, yaitu Eropa.   
 
Tentang penggunaan songkok, ada banyak dokumentasi maupun visualisasi, dalam wujud lukisan, sketsa, foto, juga video, dan masih terus berjalan hingga kini. Dalam inventaris arsip maupun pemberitaan media, setiap Sultan Yogyakarta maupun Susuhunan Surakarta pernah mengenakan songkok.

Museum Ullen Sentalu memiliki beberapa koleksi yang menampilkan para tokoh dari kraton Mataram mengenakan songkok pada kepalanya. Pertama adalah lukisan Susuhunan Pakubuwana X muda di Djagad Academic Gallery, ada dalam Tur Vorstenlanden. Lukisan tersebut menggambarkan sang raja pada tahun 1897. Kedua adalah lukisan Sultan Hamengkubuwana X bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas sang garwa prameswari di Sasana Sekar Bawana, juga pada Tur Vorstenlanden. Lukisan tersebut bersetting pada hari kedua rangkaian penobatan Sultan Hamengkubuwana X pada 8 Maret 1989, yaitu kirab keliling kota Yogyakarta. Ketiga adalah lukisan Manggalayudha atau panglima para bregada prajurit Kasultanan Yogyakarta. Lukisan putra sultan HB IX ini menghiasi lorong Guwa Selagiri pada Tur Adiluhung Mataram.
​
Selain tiga contoh di atas, ada banyak contoh dokumentasi maupun visualisasi visual penggunaan songkok sebagai kelengkapan berbusana keprajuritan di kraton Jawa. Ada lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen koleksi Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).  Lukisan sosok Sultan Agung karya pelukis S. Soedjojono pada 1974 merupakan pesanan Gubernur Jakarta saat itu Ali Sadikin, tersusun atas 3 panel dengan dimensi tinggi-panjang total 3x10 meter. Dalam lukisan tersebut, Sultan Agung, klimis tak berkumis, memakai tudung songkok pada kepalanya.  Ada juga film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta  dengan sutradara Hanung Bramantyo, rilis pada 2018. Beberapa adegan menampilkan tokoh Sultan Agung memakai songkok. 
Kuluk
Selain songkok, dinasti  kraton Mataram mengenal  tudung kepala lain Bernama kuluk. Merujuk Javanese-English Dictionary karya bersama Stuart Robson dan Singgih Wibisono, kuluk didefinisikan sebagai topi penutup kepala model fez yang dipakai pejabat kerajaan di kraton.  Fez yang dimaksud adalah topi gaya Turki yang populer menyebar ke kawasan Arabia, Afrika Utara, hingga Magribi masa jaya Kesultanan Turki Usmani. Topi silindiris tinggi tersebut dinamai juga tarbus, berbahan laken pada bagian atas rata dan ada hiasan jumbai. Sedang menurut KBBI, kuluk diartikan sebagai “kopiah kebesaran (tinggi dan kaku)”. Kini banyak dipakai mempelai pria pada upacara perkawinan dengan busana Dodot atau Paes Ageng. 
Picture
Kuluk dapat diyakini sebagai versi adaptasi Jawa terhadap fez (tarbus). Namun ada perbedaan, kuluk tak ada jumbai. Fez umumnya berwarna merah, kuluk ada beberapa varian. Pertama kuluk kanigara, berwarna hitam berbahan beludru dengan beberapa hiasan pelisir emas pada sisi kelilingnya. Kedua kuluk mathak, berwarna biru muda atau putih memakai bahan sejenis kain mengkilap. Ketiga kuluk berci atau baréci, berwarna biru muda atau putih berbahan kain halus-tipis-menerawang.

Sama seperti songkok, penggunaan kuluk pun masih eksis dan terdokumentasi serta tervisualisasi berlimpah dalam d lukisan, sketsa, foto, juga video. Dapat dijumpai di lingkup budaya Jawa, mulai dari kelengkapan busana resmi dan momen penting di semua kraton. Kuluk bahkan menjadi salah satu pilihan utama penutup kepala busana mempelai pria dalam pernikahan adat Jawa. Bahkan dokumentasi dan visualisasi penggunaan kuluk lebih banyak daripada songkok.

Di Museum Ullen Sentalu pun, ada banyak penggambaran tokoh bertudung kepala kuluk. Pada Tur Adiluhung Mataram ruang Guwa Selagiri, koleksi foto-foto jumeneng dalem (penobatan) Sultan Hamengkubuwana IX pada 1940, potret Susuhunan Pakubuwana XII bertakhta pada 1945, lukisan besar Susuhunan Pakubuwana XII sepuh yang diapit putri sulung yaitu Gusti Kangjeng Ratu Alit dan Raden Ajeng Kusmeiyana sang cucu, potret besar Susuhunan Pakubuwana XI dan Sultan Hamengkubuwana VII.

Pada Tur Vorstenlanden ruang Djagad Academic Gallery, koleksi tentang tokoh berkuluk ada pada ilustrasi foto Susuhunan Pakubuwana IX, ilustrasi foto Sultan Hamengkubuwana VII, foto lima Raja Kasultanan Yogyakarta (1855-kini), yaitu Sultan Hamengkubuwana VI hingga Sultan Hamengkubuwana X, foto empat Raja Kasunanan Surakarta (1863-2004), yaitu Susuhunan Pakubuwana IX hingga Susuhunan Pakubuwana XII, potret Susuhunan Pakubuwana X (1930), penggambaran Susuhunan Pakubuwana XII dalam lukisan Tari Bedhaya Ketawang, juga sepasang patung seukuran manusia berwarna putih yang menggambarkan Sultan Yogyakarta dan prameswarinya  di depan lukisan upacara Grebeg Mulud.
​

Masih di tur Vorstenlanden ruang Sasana Sekar Bawana, keberadaan tokoh berkuluk pada lukisan Diplomasi Monarki bersetting Sultan Hamengkubuwana X didampingi Gusti Kangjeng Ratu Hemas menerima kunjungan Pangeran Charles dan Putri Diana pada November 1989. Ada pula patung tokoh Susuhunan Pakubuwana XII yang ditempatkan berlatar belakang prasasti pepenget dan petuahnya. 
Apakah Mahkota Raja?   ​
Berhubung songkok dan kuluk kerap ditampilkan dengan dikenakan oleh raja-raja Dinasti Mataram Islam, banyak orang jadinya menganggap songkok dan kuluk itu sebagai mahkota saja. Identifikasi yang semacam ini banyak dipengaruhi oleh visualisasi penampilan sosok raja Dinasti Mataram Islam sebagaimana ditampilkan dalam karya seni serta produk budaya populer. Tadi salah satu yang dicontohkan adalah film Sultan Agung rilisan 2018.

Nyatanya songkok dan kuluk tidaklah benar-benar tepat disepadankan dengan mahkota raja. Penggunaanya pun tidak dimonopoli oleh raja. Songkok dan kuluk lebih tepat digolongkan termasuk topi. Namun, songkok dan kuluk memang diperuntukkan bagi penampilan formal dan seremonial raja, para pejabat dan bangsawan, hingga sekian jajaran pamong praja dan prajurit di bawah mereka. Para bangsawan dan pejabat di bawah raja seperti pangeran, adipati, patih, bupati,dan  tumenggung nyatanya dapat saja memakai songkok dan kuluk. Para anggota bregada prajurit di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunan Surakarta, yakni mereka yang artinya berkedudukan jauh di bawah Sultan dan Sunan, nyatanya ada yang menggunakan songkok dan kuluk sebagai bagian seragam mereka. Ketimbang mahkota, songkok dan kuluk lebih pas dibandingkan dengan topi pet sebagai bagian kelengkapan seragam banyak institusi militer dan polisi sedunia, termasuk Indonesia, juga bisa dibandingkan dengan kepi, topi khas militer dan polisi Prancis. Akan tetapi, sebagaimana pet dan kepi yang setiap tinggi-rendah strata ada detail ornamen berbeda, diferensiasi detail tentulah juga dapat ditemukan dalam aturan penggunaan songkok serta kuluk.

Tinggi rendah kepangkatan bangsawan dan jabatan dalam tradisi kraton-kraton Jawa memang aslinya lebih ketat ditandai bukan dari tudung kepala. Hal demikian justru lebih diwakili oleh motif kain batik yang dikenakan pihak bangsawan atau pejabat. Terlebih jika motif batik tersebut dari kelompok motif parang. Motif tersebut berupa semacam pola susunan ornamen menyerupai huruf S yang ditata secara miring diagonal.  Makin lebar motif parang secara tradisi menandai makin tingginya strata kebangsawanan serta pangkat jabatan pemakainya. Raja mengenakan batik parang dengan motif parang paling lebar, lebih lebar dari 10 centimeter atau bahkan 15 centimeter. Batik bermotif parang sangat lebar demikian lazim disebut parang barong. (Yosef Kelik, Periset di Museum Ullen Sentalu)   
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta

MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM
  • Kajian
  • Kontak