Menilik bentuk dari songkok yang dikenal di kraton-kraton Jawa, terindikasi hasil serapan dari futao dan wushamao budaya Tiongkok. Futou dan wushamao merupakan jenis topi para pejabat kekaisaran era Dinasti Tang hingga Dinasti Ming. Aneka turunan keduanya lalu dikenal dalam budaya di berbagai negara Sinosfer (cakupan budaya Tiongkok), diantaranya Korea, Jepang, Vietnam. Sedangkan songkok di Jawa, bentuk dasar dari pengaruh Tiongkok, namun sudah berpadu dengan berbagai pengaruh budaya lain, yaitu Eropa. Tentang penggunaan songkok, ada banyak dokumentasi maupun visualisasi, dalam wujud lukisan, sketsa, foto, juga video, dan masih terus berjalan hingga kini. Dalam inventaris arsip maupun pemberitaan media, setiap Sultan Yogyakarta maupun Susuhunan Surakarta pernah mengenakan songkok. Museum Ullen Sentalu memiliki beberapa koleksi yang menampilkan para tokoh dari kraton Mataram mengenakan songkok pada kepalanya. Pertama adalah lukisan Susuhunan Pakubuwana X muda di Djagad Academic Gallery, ada dalam Tur Vorstenlanden. Lukisan tersebut menggambarkan sang raja pada tahun 1897. Kedua adalah lukisan Sultan Hamengkubuwana X bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas sang garwa prameswari di Sasana Sekar Bawana, juga pada Tur Vorstenlanden. Lukisan tersebut bersetting pada hari kedua rangkaian penobatan Sultan Hamengkubuwana X pada 8 Maret 1989, yaitu kirab keliling kota Yogyakarta. Ketiga adalah lukisan Manggalayudha atau panglima para bregada prajurit Kasultanan Yogyakarta. Lukisan putra sultan HB IX ini menghiasi lorong Guwa Selagiri pada Tur Adiluhung Mataram. Selain tiga contoh di atas, ada banyak contoh dokumentasi maupun visualisasi visual penggunaan songkok sebagai kelengkapan berbusana keprajuritan di kraton Jawa. Ada lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen koleksi Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Lukisan sosok Sultan Agung karya pelukis S. Soedjojono pada 1974 merupakan pesanan Gubernur Jakarta saat itu Ali Sadikin, tersusun atas 3 panel dengan dimensi tinggi-panjang total 3x10 meter. Dalam lukisan tersebut, Sultan Agung, klimis tak berkumis, memakai tudung songkok pada kepalanya. Ada juga film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta dengan sutradara Hanung Bramantyo, rilis pada 2018. Beberapa adegan menampilkan tokoh Sultan Agung memakai songkok.
Kuluk dapat diyakini sebagai versi adaptasi Jawa terhadap fez (tarbus). Namun ada perbedaan, kuluk tak ada jumbai. Fez umumnya berwarna merah, kuluk ada beberapa varian. Pertama kuluk kanigara, berwarna hitam berbahan beludru dengan beberapa hiasan pelisir emas pada sisi kelilingnya. Kedua kuluk mathak, berwarna biru muda atau putih memakai bahan sejenis kain mengkilap. Ketiga kuluk berci atau baréci, berwarna biru muda atau putih berbahan kain halus-tipis-menerawang. Sama seperti songkok, penggunaan kuluk pun masih eksis dan terdokumentasi serta tervisualisasi berlimpah dalam d lukisan, sketsa, foto, juga video. Dapat dijumpai di lingkup budaya Jawa, mulai dari kelengkapan busana resmi dan momen penting di semua kraton. Kuluk bahkan menjadi salah satu pilihan utama penutup kepala busana mempelai pria dalam pernikahan adat Jawa. Bahkan dokumentasi dan visualisasi penggunaan kuluk lebih banyak daripada songkok. Di Museum Ullen Sentalu pun, ada banyak penggambaran tokoh bertudung kepala kuluk. Pada Tur Adiluhung Mataram ruang Guwa Selagiri, koleksi foto-foto jumeneng dalem (penobatan) Sultan Hamengkubuwana IX pada 1940, potret Susuhunan Pakubuwana XII bertakhta pada 1945, lukisan besar Susuhunan Pakubuwana XII sepuh yang diapit putri sulung yaitu Gusti Kangjeng Ratu Alit dan Raden Ajeng Kusmeiyana sang cucu, potret besar Susuhunan Pakubuwana XI dan Sultan Hamengkubuwana VII. Pada Tur Vorstenlanden ruang Djagad Academic Gallery, koleksi tentang tokoh berkuluk ada pada ilustrasi foto Susuhunan Pakubuwana IX, ilustrasi foto Sultan Hamengkubuwana VII, foto lima Raja Kasultanan Yogyakarta (1855-kini), yaitu Sultan Hamengkubuwana VI hingga Sultan Hamengkubuwana X, foto empat Raja Kasunanan Surakarta (1863-2004), yaitu Susuhunan Pakubuwana IX hingga Susuhunan Pakubuwana XII, potret Susuhunan Pakubuwana X (1930), penggambaran Susuhunan Pakubuwana XII dalam lukisan Tari Bedhaya Ketawang, juga sepasang patung seukuran manusia berwarna putih yang menggambarkan Sultan Yogyakarta dan prameswarinya di depan lukisan upacara Grebeg Mulud. Masih di tur Vorstenlanden ruang Sasana Sekar Bawana, keberadaan tokoh berkuluk pada lukisan Diplomasi Monarki bersetting Sultan Hamengkubuwana X didampingi Gusti Kangjeng Ratu Hemas menerima kunjungan Pangeran Charles dan Putri Diana pada November 1989. Ada pula patung tokoh Susuhunan Pakubuwana XII yang ditempatkan berlatar belakang prasasti pepenget dan petuahnya. Apakah Mahkota Raja? Berhubung songkok dan kuluk kerap ditampilkan dengan dikenakan oleh raja-raja Dinasti Mataram Islam, banyak orang jadinya menganggap songkok dan kuluk itu sebagai mahkota saja. Identifikasi yang semacam ini banyak dipengaruhi oleh visualisasi penampilan sosok raja Dinasti Mataram Islam sebagaimana ditampilkan dalam karya seni serta produk budaya populer. Tadi salah satu yang dicontohkan adalah film Sultan Agung rilisan 2018.
Nyatanya songkok dan kuluk tidaklah benar-benar tepat disepadankan dengan mahkota raja. Penggunaanya pun tidak dimonopoli oleh raja. Songkok dan kuluk lebih tepat digolongkan termasuk topi. Namun, songkok dan kuluk memang diperuntukkan bagi penampilan formal dan seremonial raja, para pejabat dan bangsawan, hingga sekian jajaran pamong praja dan prajurit di bawah mereka. Para bangsawan dan pejabat di bawah raja seperti pangeran, adipati, patih, bupati,dan tumenggung nyatanya dapat saja memakai songkok dan kuluk. Para anggota bregada prajurit di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunan Surakarta, yakni mereka yang artinya berkedudukan jauh di bawah Sultan dan Sunan, nyatanya ada yang menggunakan songkok dan kuluk sebagai bagian seragam mereka. Ketimbang mahkota, songkok dan kuluk lebih pas dibandingkan dengan topi pet sebagai bagian kelengkapan seragam banyak institusi militer dan polisi sedunia, termasuk Indonesia, juga bisa dibandingkan dengan kepi, topi khas militer dan polisi Prancis. Akan tetapi, sebagaimana pet dan kepi yang setiap tinggi-rendah strata ada detail ornamen berbeda, diferensiasi detail tentulah juga dapat ditemukan dalam aturan penggunaan songkok serta kuluk. Tinggi rendah kepangkatan bangsawan dan jabatan dalam tradisi kraton-kraton Jawa memang aslinya lebih ketat ditandai bukan dari tudung kepala. Hal demikian justru lebih diwakili oleh motif kain batik yang dikenakan pihak bangsawan atau pejabat. Terlebih jika motif batik tersebut dari kelompok motif parang. Motif tersebut berupa semacam pola susunan ornamen menyerupai huruf S yang ditata secara miring diagonal. Makin lebar motif parang secara tradisi menandai makin tingginya strata kebangsawanan serta pangkat jabatan pemakainya. Raja mengenakan batik parang dengan motif parang paling lebar, lebih lebar dari 10 centimeter atau bahkan 15 centimeter. Batik bermotif parang sangat lebar demikian lazim disebut parang barong. (Yosef Kelik, Periset di Museum Ullen Sentalu)
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
January 2026
Categories |