ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Sultan Hamengkubuwana VIII: Raja Jawa visioner dari Awal Abad XX

9/6/2023

0 Comments

 
Sultan Hamengkubuwana VIII dinobatkan menjadi raja pada 8 Februari 1921. Ia menggantikan sang ayah, Sultan Hamengkubuwana VII yang  mundur dari takhta kerajaan. Sultan Hamengkubuwana VIII lahir pada 3 Maret 1880 dengan menyandang nama Gusti Raden Mas (GRM) Sujadi.  Setelah dewasa, nama berubah menjadi Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puruboyo.
Picture
Susilo Harjono dalam buku Kronik Suksesi Keraton Jawa 1755-1989 (2012) menyebutkan bahwa Hamengkubuwana VIII dianggap raja yang visioner. Lalu apa saja yang dilakukan seorang Sultan Hamengkubuwana VIII sehingga beliau dikatakan sebagai raja yang visioner?
​
Pola asuh dan Pendidikan
Setiap orang tua pasti mengusahakan segala hal agar anaknya bisa memperoleh sesuatu yang lebih dari orang tuanya, begitu pula Sultan Hamengkubuwana VIII. Namun, beliau ini malah tidak memanjakan anak-anaknya di dalam tembok keraton saja. Dalam buku Sri Sultan: Hari-Hari Hamengku Buwono IX (1988) dikisahkan bahwa putra Sultan yang bernama Dorojatun (kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana IX) sedari masih berusia 4 tahun telah dititipkan kepada keluarga Mulder, seorang Belanda yang menjabat kepala sekolah Neutrale Hollands Javaanse Jongens School. Para saudara Dorojatun lain ibu juga ditempatkan diberbagai keluarga Belanda yang berbeda.

Pengalaman anak-anak sultan saat hidup di luar keraton akan menjadi bekal berharga. Jauh dari fasilitas dalam keraton yang serba dilayani akan memberikan dampak positif anak-anak sultan. Tidak hidup bersama keluarga keraton juga memberikan sudut pandang lain tentang kehidupan luar keraton secara langsung. Dari anak-anak sultan inilah nantinya akan menjadi penerus kekuasaan Kasultanan Yogyakarta, dan sultan sudah mempersiapkan sejak dini tentang arti hidup di luar keraton agar dapat lebih berwawasan luas. Lebih jauh lagi, pada masa sebelum kemerdekaan, Kasultanan Yogyakarta berada dalam bayang-bayang Belanda. Dari upaya inilah nantinya penerus sultan akan memahami bagaimana watak dan prilaku orang Belanda sehingga memudahkan untuk mengambil kebijakan maupun sikap terhadap Belanda.

Keberhasilan Sultan Hamengkubuwana VIII dapat dilihat saat Dorojatun diangkat menjadi raja dan melontarkan pernyataan “Al heb ik een uitgespriken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik in de allereeste plaats Javaan” (Walau saya telah mengenyam pendidikan Barat, toh pertama-tama saya adalah tetap orang Jawa). Dari ungkapan tersebut dapat diidentifikasi bahwa Sultan Hamengkubuwana IX siap memimpin Yogyakarta berbekal pendidikannya, juga mencerminkan jatidiri serta visinya yang nasionalis.

Sama seperti kebanyakan orang tua yang menginginkan pendidikan terbaik untuk anaknya, sultan juga mengupayakan pendidikan dengan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah orang barat dan selanjutnya mengirim mereka berkuliah di Belanda. Muthi Amini dalam jurnal berjudul Anomali Pola Asuh: Keraton Yogyakarta, 1921-1939 (2016) menyampaikan Sultan Hamengkubuwana VIII memberikan kebebasan pada abdi dalem untuk menempuh pendidikan formal. Sultan memberikan semacam surat bebas tugas untuk seba/caos (pergi ke keraton untuk absen dan bertugas) karena sedang menempuh pendidikan di Hollands-Inlandseschool (Senari kekancingan no 348). Kepedulian sultan terhadap pendidikan tidak hanya di lingkungan keraton saja, dihimpun dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan berjudul Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta (1997) menuturkan pada tahun 1939 dibuka juga sekolah seni kerajinan (Kunstambachtschool) beserta asramanya. Dilansir dari website resmi Keraton Yohyakarta pada era Sultan Hamengkubuwana VIII juga berdiri sekolah Taman Siswa yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara, Organisasi Politik Katolik Jawa pada 1923, dan terselenggaranya  Kongres Perempuan pada 1929 (www.keratonjogja.id/raja-raja/9-sri-sultan-hamengku-buwono-viii/).

Hal yang dilakukan sultan tentunya menjadi langkah awal untuk pengembangan pendidikan khususnya bagi orang dalam keraton dan umumnya untuk masyarakat Yogyakarta. Langkah besar ini tidak instan hasilnya karena sultan sendiri mencanakan kebijakan tersebut untuk perubahan jangka panjang di lingkungan dalam dan luar keraton. Termasuk pula menjadi menjadi modal bagi penggantinya, Sultan Hamengkubuwana IX, untuk berkecimpung aktif sebagai tokoh penting dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia. (Rahmat Fajar Hidayat/Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro/Magang di Museum Ullen Sentalu, April-Mei 2023)
 
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta

MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Kajian
  • Kontak