Setara Wafat dan Mangka Dalam catatan silsilah dalam Dinasti Mataram Islam, peristiwa meninggal dunianya raja atau pangeran sering disebut memakai suatu istilah eufemistik, yakni surud, yang secara harafiah mengandung makna susut atau berkurang. Dalam konteks kerajaan, istilah ini berhubungan dengan berkurangnya vitalitas seorang raja, atau putra mahkota, atau pangeran selebihnya, untuk lanjut mengemban jabatannya berkaitan dengan suatu penghalang tetap, berupa penyakit kronis maupun akut, atau gangguan signifikan terhadap fisik dan indera-indera. Kurang lebihnya setara dengan wafat dan mangkat dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Melayu. Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat karya KPH Mandoyokusumo terbitan 1988 memakai istilah suruddalem untuk menandai peristiwa maupun hari meninggal dunianya setiap raja yang pernah bertakhta di Kraton Kasultanan Yogyakarta. Hal spesifik di seputar meninggal dunianya raja, seperti usia saat berpulang, ataupun penyebab kematian, agaknya tak terlalu dijadikan kriteria pembeda. Suruddalem tidak cuma dipakai untuk menyebut wafatnya raja-raja panjang umur, yakni Sultan Hamengkubuwana I yang mencapai usia 75 tahun, Sultan Hamengkubuwana II yang mencapai usia 78 tahun, Sultan Hamengkubuwana VII yang mencapai usia 82 tahun, dan Hamengkubuwana IX yang mencapai usia 76 tahun. Suruddalem dipakai pula untuk menyebut wafatnya raja-raja yang tutup usia pada kisaran umur antara 40-an tahun hingga 50-an tahun, yakni Sultan Hamengkubuwana III yang meninggal dunia pada usia 45 tahun, Sultan Hamengkubuwana VI yang meninggal dunia pada usia 56 tahun, serta Sultan Hamengkubuwana VIII yang meninggal dunia pada usia 59 tahun. Suruddalem bahkan juga tetap dipakai untuk mencatat kematian mendadak sekaligus mengundang sejumlah tanda tanya dari raja-raja yang masih muda secara usia, yakni Sultan Hamengkubuwana IV yang meninggal saat baru 19 tahun, juga Sultan Hamengkubuwana V yang meninggal saat baru 35 tahun. Istilah surud dengan pemaknaan serupa dikenal pula di lingkungan Kasunanan Surakarta. Serat Narindro Putro, silsilah para keturunan Susuhunan Pakubuwana X, yang dirampungkan penyusunannya pada 1985 oleh Gusti Raden Ayu (GRAy) Brotodiningrat, juga memakai istilah surut dalem untuk menyebut hari wafat raja paling terkenal dari Kasunanan Surakarta, Susuhunan Pakubuwana X, yakni tepatnya pada 20 Februari 1939. 1913 dan 1895 Di samping para raja di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, contoh lain tokoh yang diberi keterangan surud dalam catatan silsilahnya adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamengkunegoro III, anak ke-20 dari 78 putra-putri Sultan Hamengkubuwana VII. Pemilik nama muda GRM Putro ini adalah putra mahkota ke-3 Sultan Hamengkubuwana VII. Pangeran yang lahir dari Garwa Padmi Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hemas ini ini mengemban jabatan putra mahkota Kesultanan Yogyakarta pada 1902 sampai dengan 1913.
Menurut Riya Sesana (2010), KGPAA Hamengkunegoro III sering sakit dan kesehatannya terus menurun. Baru tahu buruknya kondisi kesehatan sang putra mahkota Kasultanan pada 1912, Pemerintah Kolonial Belanda lantas ikut mengupayakan pengobatan medis, tetapi hal tersebut tidak membawa hasil yang diharapkan. Adipati Anom Hamengkunegoro III tutup usia pada 20 Februari 1913. alias wafatnya Adipati Anom Hamengkunegoro III sangatlah membuat Sultan Hamengkubuwana VII sangat terpukul. Dalam kurun tiga dasawarsa, dari tiga anak laki-lakinya yang diangkatnya menjadi Putra Mahkota sejak 1883, tak ada yang sanggup bertahan menyandang status ahli waris utama takhta. Dua di antaranya bahkan malah mendahui dirinya meninggal dunia Delapan belas tahun sebelumnya pada 1895, kakak Adipati Anom Hamengkunegoro III, yakni Adipati Anom Hamengkunegoro I yang bernama muda GRM Akhadiyat, secara mengejutkan ditemukan meninggal dunia dalam tidurnya. Pangeran yang menjadi Putra Mahkota Kasultanan Yogyakarta sejak 1883 ini masih berusia remaja itu saat tutup usia. Karena belum menikah saat meninggal dunia, catatan silsilah Adipati Anom I diberi keterangan memakai istilah seda jaka, yang berarti wafat saat masih lajang. [Restu A Rahayuningsih-Yosef Kelik Prirahayanto (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
April 2026
Categories |