Topeng di Jawa Berawal untuk Keperluan Ritual Sakral: Bekal Kubur hingga Sesajian Ritus Kesuburan27/6/2025
Menyerupai Huruf Y atau T
Salah satu topeng yang mewakili periode dan peruntukan bekal kubur adalah topeng emas Jawa yang kini menjadi koleksi Tumbuh Widjaya di Sawidji Gallery, Bali. Topeng tersebut diklaim pihak galeri berusia sekitar 2.000 tahun. Jika taksiran tepat, topeng tersebut menjadi temuan topeng tertua di Jawa. Wujudnya berupa empat lembaran emas terpisah: satu yang paling panjang dan bercabang dua membentuk semacam huruf Y merupakan representasi hidung dan alis, dua lembar membentuk sepasang mata, satu terakhir mewakili mulut dan bibir. Supaya dapat menunjukkan penggambaran wajah, artefak berupa empat lembar emas terpisah tersebut perlu ditata dengan tepat. Ada topeng lain berbentuk mirip di Sawidji Gallery, Bali. Namun, taksiran umurnya jauh lebih muda, sekitar abad VIII Masehi. Topeng juga terdiri dari empat bagian terpisah. Hanya saja, bentuk bercabang dua penanda hidung serta alis lebih tipis, sehingga bagian tersebut lebih menyerupai huruf T. Bedanya lagi, ada tambahan hiasan pada keempat bagian penyusun topeng. Dua topeng emas yang telah berusia 2.000 dan 1.300 tahun memiliki konteks berkaitan dengan ritual penguburan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua wilayah di Jawa abad VIII mengadaptasi budaya penguburan Hindu-Budha dari Bangsa India. Tiruan Wajah Secara Lebih Utuh Selain dua topeng berupa lembaran terpisah, ada topeng tiruan wajah utuh, yaitu topeng emas temuan tahun 1972 di Situs Pasir Angin, Bogor. Topeng emas ini menjadi koleksi Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) dan kini harusnya terserap menjadi kolesi BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Topeng tersebut diperkirakan hasil buatan 1.280-1.050 tahun lalu (abad VII-XII Masehi). Ukuran topeng menutup bagian muka manusia dewasa. Bila dilihat dari konteks temuan artefak berupa kapak perunggu, mata tombak dan kapak besi, fragmen tembikar dan periuk, bandul kalung, manik-manik batu dan kaca, juga monolit sebagai bagian tradisi Megalitik; maka topeng wajah Situs Pasir Angin menjadi bagian ritual upacara kesuburan. Data etno-arkeologi yang dilakukan Goenadi Haminoto pada 2006 mengindikasi adanya upacara sakral dengan pertunjukan topeng. Konteks topeng di sini berfungsi sebagai sarana memanggil roh nenek moyang dalam diri pengguna topeng (trance). Jika membandingkan dengan isi beberapa prasasti sezaman, pertunjukan topeng telah eksis. Bila dicermati dalam konteks sisa-sisa pembakaran tanpa ada rangka manusia yang berasosiasi dengan temuan topeng, kemungkinan pertunjukan topeng tersebut dilakukan oleh komunitas megalitik Pasir Angin yang kemudian berkembang sebagai penganut Hindu-Budha, ataupun adanya penggunaan ulang situs megalitik Pasir Angin oleh komunitas Hindu Budha. Ada empat contoh lain topeng bertampilan serupa wajah yang mewakili peruntukan ritual sakral di Jawa pada masa silam. Pertama, topeng emas dari era Majapahit yang kini termasuk Koleksi Grassel di The Metropolitan Museum of Art, New York. Lalu topeng emas Koleksi Thompson di Yale University of Art. Kemudian topeng emas temuan di Dusun Nayan, Depok Maguwoharjo, Sleman, yang menjadi koleksi di Museum Sonobudoyo namun hilang karena pencurian pada 2010. Satu terakhir adalah topeng era Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1293-1527 Masehi. Ada dugaan topeng telah digunakan sebagai penghormatan leluhur, serupa dengan Sang Hyang Puspasarira dalam upacara sradda Sri Rajapatni yang dicuplikkan oleh Nagarakretagama. Topeng ini menjadi koleksi Tumbuh Widjaya di Sawidji Gallery. [RESTU A RAHAYUNINGSIH (Peneliti Museum Ullen Sentalu)] REFERENSI: Reich, Dewi Dian (2022).“Exploring Gold Funerary Masks of Ancient Java”. htttps//sawidji.com/2022/02/28/golden-masks-of-ancien-faces/. Diunggah 28 Februari 2022. Diakses 4 April 2025. Nitihaminoto, Goenadi (2006). “Topeng Pasir Angin Menembus Batas: Fungsinya dalam Kehidupan Manusia”. Berkala Arkeologi, Volume 26 No 2, 2006, halaman 34-69. https//doi.org/10.30883/jbav26i2.933. Diunduh 22 Mei 2024, 09.46 WIB.. Prasetyo, Bagyo (2015). Megalitik: Fenomena yang Berkembang di Indonesia. Yogyakarta: Puslit Arkenas & Galang Press. Halaman 60-61 & 91.
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories |