ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

Transportasi di Pulau Jawa dari Masa ke Masa (Bag 3): Zaman Jawa Mengenal Kereta Api, Mobil dan Layanan Kapal Modern Antarpulau

2/9/2022

1 Comment

 
Picture
Sejak akhir abad XIX, kereta kuda mulai jarang digunakan raja-raja Jawa. Moda transportasi darat ini digantikan oleh kereta api dan mobil. Kehadiran dua moda transportasi modern ini tidak lepas dari status Jawa yang saat itu menjadi jajahan Belanda. Perkembangan teknologi di negara induk, tentu berdampak di wilayah jajahannya. 
Oei Hong Kian dalam Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno (2001) menyebutkan bahwa sejak tahun 1842, pemerintah kolonial Belanda telah membuat jalan baru dari Semarang ke Magelang lewat Ambarawa. Jalan baru sepanjang 7 kilometer tadi lebih pendek 28 kilometer dari jalan lama lewat Salatiga dan menyusuri lereng Gunung Merbabu sampai Grabag. Pada medio abad XIX itu, Belanda menyadari bahwa jalan lama via Salatiga dan Grabag kurang memadai untuk jalur pengerahan tentara jika sewaktu-waktu ada kegentingan di sekitar kawasan penting Kedu maupun Yogyakarta.

Pembangunan jalan baru penghubung Semarang dan Magelang tadi bukan proyek besar jalan yang pertama dikerjakan Kolonial Belanda. Pada 1808, Gubernur Jenderal Deandels telah memastikan terhubungnya Anyer sampai Panarukan melalui suatu sistem ‘Jalan Raya Pos’. Jalan tersebut dibangun untuk mempercepat pergerakan tentara-tentara Belanda untuk menghadapi kekuatan Inggris di Laut Jawa.

Menariknya, pada abad ke-XIX, Kerajaan Mataram Islam masih eksis di Jawa. Namun akibat konflik intern dan intervensi pemerintah kolonial, kerajaan tersebut terpecah menjadi empat istana, yaitu Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman. Meski di bawah kontrol pemerintah kolonial, para raja dan adipati yang bertakhta tidak mau ‘ketinggalan zaman’. Mereka masih berkesempatan jalan-jalan (plesiran) ke luar kota seperti ke Bogor, Bandung, Lembang, Sukabumi, Malang, Bali, Lombok, dan Lampung di Sumatera.

Darsiti Soeratman dalam buku Kehidupan Dunia Kraton Surakarta, 1830-1930 (1989) menyebutkan bahwa saat bepergian ke luar pulau, raja-raja Mataram biasanya menggunakan kereta api dan kapal milik perusahaan Eropa. Contohnya Sunan Pakubuwono X yang berkunjung ke Lampung tahun 1935 dengan moda transportasi kereta api dari stasiun Balapan – Tanjung Priok dan lanjut naik Kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij (K.P.M) milik Belanda.

Sunan Pakubuwono X juga dikenal sebagai orang pertama di Indonesia yang memiliki mobil. James Luhulima dalam Sejarah Mobil dan Kisah Kehadiran Mobil di Negeri ini (2012), menyebutkan bahwa Sunan Pakubuwono X memesan mobil Benz Victoria Phaeton dari Perusahaan Benz di Jerman (kini Daimler-Benz) pada tahun 1894. Mobil ini seharga 10.000 gulden atau setara dengan 9 miliar sekarang dan berbahan bakar bensin (10 liter/100 km). Meski bentuk mobil menyerupai kereta kuda, tetapi tenaganya lima kali tenaga kuda. 

Keberadaan mobil Benz Victoria Phaeton milik Sunan Pakubuwono X di atas, membuat golongan elit Jawa lainnya berbondong-bondong membeli mobil. Luhulima (2012) menyebutkan bahwa pada tahun 1907, salah satu keluarga Kasultanan Yogyakarta bernama Raden Sosrodiningrat juga membeli mobil dari perusahaan yang sama. Selain itu, golongan elit seperti anak bupati Brebes, Raden Mas Ario Tjondro juga membeli mobil tahun 1904 dan Sultan Ternate membeli mobil tahun 1913. Perkembangan teknologi ini mengakibatkan kereta kuda keraton tergeser sebagai ‘pusaka’ yang lazim disebut dengan gelar Kyai atau Nyai. Moda transportasi ini sekarang disimpan di keraton dan hanya digunakan saat hajat dalem.

Antropolog Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi (1959), menyebutkan bahwa perkembangan teknologi umumnya akan mengubah kebudayaan atau peradaban suatu masyarakat. Hal ini juga terjadi di keraton Mataram. Seiring berkembangnya moda transportasi, turut serta mengubah  etiket di dalam keraton.  Sebagai contoh, para piyantun dalem yang umumnya menggunakan kebaya dan jarit, saat bepergian dengan kereta dan kapal diperkenankan mengenakan baju dengan potongan leher tertutup, meski bahan baju dan motif kainnya sangat berbeda yang dikenakan oleh permaisuri.

Sementara etiket penyambutan gubernur jenderal Belanda oleh raja Mataram juga berubah sejak akhir abad XIX. Soeratman (1989) menyebutkan bahwa ketika Gubernur Jenderal De Jonge datang ke Surakarta tahun 1933, Sunan tidak menunggunya di keraton tetapi menjemputnya langsung di Stasiun Balapan. RESTU A RAHAYUNINGSIH (Peneliti Museum Ullen Sentalu).
 
1 Comment
Kendaraan Terbaik BYD link
19/5/2025 03:25:45 pm

pembahasan terkait otomotif sangatlah bermanfaat. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya efisiensi energi dan gaya hidup berkelanjutan, mobil listrik semakin mendapat tempat di hati masyarakat urban. <a href="https://bydhaka.co.id/">BYD HAKA</a> membawa inovasi mutakhir yang menawarkan sensasi berkendara futuristik. Nyaman, hemat energi, dan tentu saja ramah lingkungan, sangat cocok bagi Anda yang ingin melangkah lebih jauh menuju gaya hidup hijau.

Reply



Leave a Reply.

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak