ULLEN SENTALU
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak

KAJIAN

Artikel Riset Museum Ullen Sentalu tentang Jawa dan Nusantara

4 Nama Tempat di Pulau Jawa Hasil Meminjam dari Eropa

14/8/2026

0 Comments

 
Picture
Tulisan ini menjadi bagian ke-4 dari seri pemaparan hasil  penelusuran Departemen Riset Museum Ullen Sentalu tentang total 15 tempat di Pulau Jawa yang toponimnya dipinjam alias diimpor dari Luar Negeri. Kali ini tepatnya ulasannya adalah tentang tempat-tempat yang sumber peminjaman atau impor toponimnya dari Eropa. Fenomena demikian tentunya ada kaitan eratnya dengan penetrasi kolonialisme pihak Eropa, khususnya oleh Belanda, di Jawa sejak awal 1600-an Masehi.
Berikut ini adalah masing-masing ulasannya, dengan isi daftar tempat terutama diurutkan mundur dari toponim yang paling dekat ke zaman sekarang hingga yang paling kuno:
 
1. Nassauboulevard (Bulevar Nassau) serta Nassaukerk (Gereja Nassau)
Kawasan Menteng di Jakarta dirancang sebagai permukiman moderen berkonsep kota taman pada sekitar dekade 1910an. Pengembangnya adalah perusahaan real estat yang berdiri sejak 1912, yakni  NV de Bouwploeg.  Menurut Adolf Heuken, perancang awal Kawasan Menteng adalah PAJ Moojen. Rancangan kedua kawasan Menteng muncul pada 1918 dikerjakan oleh FJ Kubatz. Kawasan itu lantas menjadi hunian elite di tengah Jakarta. Luasnya mencapai lebih dari 500 hektare.

Nassauboulevard adalah nama salah satu ruas jalan utama di Menteng pada era Kolonial Belanda. Unsur Nassau dalam nama bulevar tadi dipinjam dari suatu toponim asal negara Jerman di tengah Benua Eropa. Tepatnya dari nama suatu benteng dan daerah sekitarannya yang termasuk Negara Bagian Rheinland-Pfalz alias Rheinland-Palatinate. Nassau yang terletak di tepi Sungai Lahn ini berjarak sekitar 26 kilometer dari kota Koblenz serta adalah daerah asal dari dinasti raja-ratu kepala negara Belanda hingga kini, yakni Dinasti Oranye-Nassau.

Di sekitar titik temu antara Nassauboulevard dengan dua jalur bulevar lain, yaitu Van Heutzboulevard di utaranya serta Oranjeboulevard di timurnya,  ada suatu taman bernama Burgemeester Bisschoplein alias Lapangan Walikota Bisschop. Penamaan taman tersebut diambil dari nama Walikota Batavia 1916-1920 yang membangunnya hingga rampung pada 1919, yakni GJ Bisschop.

Tak jauh dari Bisschoplein dan menempati bagian sudut jalan yang terbentuk dari suatu tikungan di ujung Bulevar Nassau, ada suatu bangunan gereja Protestan yang dirintis pembangunannnya dari medio 1920-an dan rampung diresmikan pada 1936.  Gereja tersebut dinamai Nassaukerk, mengikuti ruas jalan tempatnya berdiri. Lokasi gereja terbilang bertetangga dekat dengan Vrijmetselaarloge (Loji Tarekat Freemasons) yang berada seberang jalan, juga bersebelahan dengan suatu vila besar mewah bergaya art deco berluas bangunan 1.138 meter persegi, karya arsitek JFL Blankenberg, serta aset perusahaan asuransi Nilmij. 

Nassaukerk sendiri adalah  hasil kerja biro umum teknik sipil dan arsitektur AIA (Algemen Ingineurs en Architecten). Arsiteknya adalah WE Burhoven Jaspers, perancang pula bagi Hotel Des Indes, hotel cantik berarsitektur Indies yang pernah menjadi salah satu tetenger di ruas Jalan Gajah Mada, Jakarta, hingga 1971.

Masuk zaman Indonesia Merdeka, bulevar-bulevar di Menteng diganti namanya, sama halnya seperti berbagai ruas jalan lain yang dianggap terlalu memiliki nama berbau kolonial di Jakarta dan kota-kota lain se-Indonesia. Sejak 1952, Nasauboulevard berganti nama menjadi Jalan Imam Bonjol, Van Heutzboulevard berganti nama menjadi Jalan Teuku Umar, dan Oranjeboulevard berganti nama menjadi Jalan Diponegoro. Taman titik temu bulevar-bulevar tadi, Burgemeester Bisschoplein telah pula berganti nama menjadi Taman Suropati.

Pergantian nama dialami juga oleh Nassaukerk . Masuk ke masa pendudukan Jepang, gereja itu diharuskan berganti nama menjadi Gereja Menteng. Sejak 31 Oktober 1948, gereja tersebut berganti nama menjadi Gereja Paulus yang terus dipakai hingga sekarang. Dua bangunan tetangganya juga berganti nama dan peruntukan. Vrijmetselaarloge kini menjadi Gedung Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Rumah besar rancangan Blankenberg kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. 
 
  • Adi, Windoro. 2010. Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Halaman 419 dan 422-423
  • Chatab, Anna (ed). 2007. Jakarta In Watercolour, Special Edition Featuring Museum Bank Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia & Jakarta Oldtown Kotaku. Halaman 109.
  • Sumalyo, Yulianto. 1993. Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 204-205.
  • “Nassaukerk”, http://www.jakarta.go.id/jalb1/encyclopedia/detail/3872, diunggah pada 7 Agustus 2011, diarsipkan di web.archive.org pada 11 Juni 2012
 
 
2. Waterlooplein alias Lapangan Waterloo
Ini adalah nama lama semasa era Kolonial Belanda untuk Lapangan Banteng di Jakarta. Lapangan berukuran 230 x 250 meter ini terletak di seberang jalan dari Kompleks Kementerian Keuangan yang berintikan Gedung AA Maramis, hasil pembangunan 1809-1828. Semasa era kolonial, kompleks gedung tersebut pernah lama disebut dalam beberapa versi nama: Paleis van Daendels (Istana Daendels), Het Witte Huis (Gedong Putih), Het Grote Huis (Wastu Besar), juga Paleis Waterlooplein (Istana Waterlooplein).

Unsur penamaan Waterloo disematkan kepada si lapangan pada 1828 berbarengan dengan ditegakkannya di tempat itu suatu monumen setinggi sekitar 20 meter. Monumen berwujud pilar besar tersebut menyandang nama yang serupa dengan nama lapangan. Bagian puncak pilar dihiasi pula suatu patung singa yang kaki depan sebelah kanannya diletakkan pada sebentuk bola sebagai representasi peluru meriam. Kombinasi bentuk singa dan bola peluru meriam tadi sebenarnya dimaksudkan para pemrakarsa pendirian monumen untuk menghadirkan imej gagah serta heroik. Ironisnya, penduduk Batavia pada zamannya justru acap meledek patung singa di puncak pilar tinggi itu. Kata mereka, patung itu lebih terlihat seperti anak anjing atau malah anjing pudel.

Pilihan nama Waterloo teruntuk monumen berikut lapangan sekelilingnya adalah hasil meminjam dari salah satu kota kecil di Belgia. Pada 1815, Waterloo pernah menjadi palagan besar pertempuran pemungkas Perang Napoleon, berujung kalahnya Prancis pimpinan Kaisar Napoleon Bonaparte oleh bala tentara koalisi sejumlah negara Eropa pimpinan Marsekal Arthur Wellesley, Duke of Wellington, asal Inggris Raya, serta Marsekal Blucher asal Prusia. Perang tersebut penting karena lantas memastikan kemerdekaan Kerajaan Belanda dari Prancis serta eksisnya Dinasti Oranye-Nassau. Pertempuran Waterloo 1815 itulah yang dikenang pihak Belanda melalui peresmian monumen serta lapangan yang menyandang unsur nama Waterloo di Batavia. 

Pada sekitar 1943, monumen pilar berpatung singa dirobohkan pihak Otoritas Pendudukan Jepang. Masuk era Indonesia Merdeka, nama lapangan diubah menjadi Lapangan Banteng. Pada 1962-1963, atas titah Presiden Sukarno, di tengah Lapangan Banteng dibangun Monumen Pembebasan Irian Barat setinggi 35 meter yang diarsiteki Friederich Silaban dan Henk Ngantung. Bagian puncak monumen tadi dihiasi patung karya Edhie Sunarso, menggambarkan seorang laki-laki yang tengah memutus rantai belenggu.   
 
Chatab, Anna (ed). 2007. Jakarta In Watercolour, Special Edition Featuring Museum Bank Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia & Jakarta Oldtown Kotaku. Halaman 76-79.
 
 
3. Champ de Mars
Nama bernuansa bahasa Prancis ini agaknya tak disangka banyak orang Indonesia pernah dipakai sebagai nama salah satu tempat di Jawa, yang bahkan merupakan satu tempat tetenger penting di Jakarta. Nyatanya toponim  ini memang pernah menjadi salah satu nama lama atau pendahulu untuk apa yang di pusat kota Jakarta sekarang dinamai sebagai Medan Merdeka. Area seluas 100 hektare tersebut sejak medio dekade 1960-an sering disebut Lapangan Monas atau Silang Monas, berkenaan dengan adanya bangunan Monumen Nasional alias Monas yang memiliki tinggi 132 meter di bagian tengahnya.

Di sekeliling Medan Merdeka, ada bangunan-bangunan penting simbol-simbol eksistensi negara Indonesia, antara lain adalah Istana Merdeka dan Istana Negara, Museum Nasional, Perpustakaan dan Arsip Nasional, Balaikota Jakarta, Kantor Pusat Pertamina, Kementerian Pertahanan, Makostrad, hingga Stasiun Gambir.

Pada sekitar tahun 1700-an, tatkala VOC Belanda menjadikan Batavia pusat kendali operasionalnya di kawasan Timur Jauh, Apa yang kini disebut Medan Merdeka masihlah tanah tempat penggembalan kerbau-kerbau. Orang-orang menyebutnya sebagai Bullveld alias Lapangan Kerbau.

Namun, pada 1809-1812, lapangan luas tadi sempat dinamai sebagai Champ de Mars oleh Gubernur Jenderal HW Daendels. Sumber penamaannya adalah lapangan luas Champ de Mars di Paris, yang pernah menjadi tempat bergladi baris dan berlatih keterampilan bagi tentara Prancis. Daendels melakukan semua ini karena ia memang sosok yang terasuki oleh frankofilia, juga merupakan pengagum berat Napoleon Bonaparte, jenderal Prancis yang mampu mendaki karier hingga mampu mengangkat dirinya menjadi kaisar.  

Champ de Mars di Paris kini termasuk objek jujugan turis. Lebih lagi, lapangan seluas sekitar 24,5 hektare serta memiliki dimensi panjang dan lebar 800 x 220 meter ini terletak dekat sekali dengan Menara Eiffel. Champ de Mars di Paris tepatnya terbentang di antara Menara Eiffel dan Ecole Militaire. Penamaannya juga sebenarnya diinspirasi oleh keberadaan lapangan lain di kota dan negara lain, yakni Campus Martius di Roma, Italia. Baik itu Champ de Mars serta Campus Martius sama-sama memiliki arti Lapangan Dewa Mars, yakni dewa perangnya bangsa Romawi.
 
Chatab, Anna (ed). 2007. Jakarta In Watercolour, Special Edition Featuring Museum Bank Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia & Jakarta Oldtown Kotaku. Halaman 77.
 
4. Batavia
Ini adalah nama lama dari Jakarta. Tepatnya digunakan pada 1619-1942 dan sempat sedikit mengalami perpanjangan waktu pada sekitar 1945-1949. Nama Batavia diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jenderal VOC, JP Coen, pada 30 Mei 1619, menggantikan nama Jayakarta yang telah digunakan selama 93 tahun sejak 1526. Penggantian nama Jayakarta menjadi Batavia adalah pula imbas kekalahan Pangeran Jayawikarta dalam pertempuran memertahankan kota bandar kekuasaannya. Pilihan nama Batavia adalah mengikuti instruksi Dewan Direksi VOC. Pilihan terhadap toponim Batavia adalah untuk merepresentasikan Republik Bataaf atau Uni Provinsi-provinsi Belanda Merdeka yang melawan penjajahan Spanyol. Toponim Batavia sekaligus juga mewakili nama lama Belanda di era Romawi: Batavi/Betuwe.

Batavi adalah salah satu suku Jermania yang mendiami wilayah yang kini menjadi Belanda semasa Romawi. JP Coen sendiri sejatinya ingin menamai ulang Jayakarta sebagai Nieuw Hoorn alias Hoorn Baru, sebagai kenang-kenangan atas kota kelahirannya di Belanda, Hoorn.

Pada 8 Desember 1942, Otoritas Pendudukan Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta
Pada 30 Desember 1949, Pemerintah Republik Indonesia Serikat meresmikan sekaligus menegaskan perubahan nama Batavia menjadi Jakarta. Ini boleh dibilang mengakhiri hampir 320 tahun penggunaan nama Batavia.
 
Adi, Windoro. 2010. Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Chatab, Anna (ed). 2007. Jakarta In Watercolour, Special Edition Featuring Museum Bank Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia & Jakarta Oldtown Kotaku.
Toer, Pramoedya Ananta. 2015: Cetakan 11. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara. Halaman 43 – 52.

[Yosef Kelik Prirahayanto  (Peneliti Museum Ullen Sentalu)]
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    September 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021

    Categories

    All
    Budaya
    Kesehatan
    Pendidikan
    Sastra
    Sejarah
    Yogyakarta


MUSEUM ULLEN SENTALU
Jl. Boyong Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta

SEKRETARIAT ULLEN SENTALU
Jl. Plemburan 10, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581
T. 0274 880158, 880157
E. [email protected], [email protected]
Ikuti Ullen Sentalu di:
  • Home
  • Berkunjung
  • Museum
  • Acara
    • WAYANG WORLD 2025
    • INTERNATIONAL MUSEUM FORUM 2025
    • World Dance Day 2026 - R.M. Jodjana
  • Kajian
  • Kontak